Usability Testing: Rahasia Aplikasi Sukses yang Sering Diabaikan Pemula
Pernahkah Anda membuat sebuah desain aplikasi yang menurut Anda sudah "sempurna", namun saat teman Anda mencobanya, mereka malah bertanya, "Ini tombol daftarnya di mana, ya?"
Momen canggung itu adalah bukti nyata dari jebakan psikologis yang disebut The Curse of Knowledge. Sebagai pembuat, kita tahu segalanya tentang aplikasi kita. Namun, pengguna? Mereka tidak tahu apa-apa. Di sinilah Usability Testing hadir sebagai penyelamat agar produk Anda tidak ditinggalkan pengguna hanya dalam hitungan detik.
Pendahuluan
Dalam pengembangan produk digital, sering kali kita terjebak asumsi bahwa "jika kodenya berjalan lancar, berarti aplikasinya bagus." Padahal, bug bukan satu-satunya musuh. Musuh terbesar sebenarnya adalah kebingungan pengguna.
Dalam mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) di Universitas Muhammadiyah Riau, kami mempelajari bahwa Usability Testing bukanlah sekadar mencari error, melainkan mengobservasi perilaku manusia. Metode ini membantu kita melihat produk dari kacamata orang awam, bukan kacamata programmer.
Isi dan Pembahasan
Apa Itu Usability Testing?
Secara sederhana, Usability Testing adalah metode mengevaluasi sebuah produk dengan cara mengujikannya langsung kepada calon pengguna. Ingat, kuncinya adalah observasi, bukan wawancara.
Jangan bertanya "Apakah Anda suka desain ini?" (karena orang cenderung berbohong agar sopan), tetapi berikan tugas seperti "Coba cari cara untuk mengganti foto profil akun Anda," lalu amati di mana mereka ragu atau tersesat.
Langkah Mudah Melakukan Pengujian (Tanpa Biaya Mahal)
Banyak pemula takut melakukan tes ini karena mengira butuh laboratorium canggih. Padahal, Anda bisa melakukannya dengan modal kopi dan laptop (metode Guerrilla Testing). Berikut panduannya:
· Tentukan Skenario, Bukan Instruksi Jangan bilang: "Klik tombol merah di kanan atas." Tapi katakan: "Bayangkan Anda ingin membeli sepatu ini, apa yang akan Anda lakukan?" Biarkan mereka mencari jalan sendiri.
· Rekrut Partisipan yang Tepat Menurut pakar UX Jakob Nielsen, Anda hanya butuh 5 orang pengguna untuk menemukan 85% masalah usability dalam desain Anda. Tidak perlu ratusan orang! Pastikan mereka bukan tim pengembang produk tersebut.
· Gunakan Metode "Think Aloud" Minta pengguna untuk menyuarakan apa yang ada di pikiran mereka saat mengklik. Contoh: "Hmm, saya kira tombol ini untuk kembali, ternyata malah keluar aplikasi." Celotehan inilah emas yang kita cari!
![]()
![]()

Gambar 1. 1 sesi Usability Testing.
Contoh Penerapan Nyata
Teori tanpa bukti nyata hanyalah wacana. Berikut adalah contoh penerapan Usability Testing pada dua jenis aplikasi yang sering kita gunakan sehari-hari:
1. Aplikasi E-Commerce (Marketplace)
Kasus: Kesulitan Menyelesaikan Pembayaran Dalam pengujian antarmuka aplikasi belanja online, sering ditemukan pengguna yang berhasil memasukkan barang ke keranjang, namun batal membeli.
- Temuan Testing: Setelah diamati, ternyata tombol "Lanjut ke Pembayaran" tertutup oleh pop-up iklan voucer yang sulit ditutup (tombol 'X'-nya terlalu kecil).
- Perbaikan: Tim desainer memindahkan posisi tombol close iklan menjadi lebih besar dan mencolok. Hasilnya, tingkat keberhasilan transaksi meningkat.
2. Aplikasi Mobile Banking (Fintech)
Kasus: Kebingungan Istilah Teknis Banyak bank digital menggunakan istilah perbankan kaku seperti "Mutasi Rekening" atau "Debit/Kredit".
- Temuan Testing: Pengguna kalangan mahasiswa atau pelajar sering bingung membedakan uang masuk dan uang keluar hanya dari istilah tersebut.
- Perbaikan: Aplikasi mengubah labelnya menjadi bahasa manusiawi: "Uang Masuk" (warna hijau) dan "Uang Keluar" (warna merah). Perubahan kecil ini drastis menurunkan tingkat kesalahan pengguna.

Gambar 1. 2 UI Mobile Banking BNI yang memiliki satu warna dan sedikit monoton
Kesimpulan
Usability Testing adalah jembatan antara ego pengembang dan kebutuhan pengguna. Dengan meluangkan waktu sedikit untuk menguji, kita bisa menghemat ratusan jam perbaikan di masa depan.
Bagi rekan-rekan mahasiswa, mulailah biasakan menguji desain Anda ke orang lain. Pola pikir user-centric inilah yang ditekankan dalam kurikulum Universitas Muhammadiyah Riau (www.umri.ac.id), agar lulusan TI tidak hanya jago membuat program, tapi juga jago memecahkan masalah manusia.
Referensi
[1] Y. G. Pranandita, H. M. Az-zahra, and D. Priharsari, “Evaluasi Usability pada Aplikasi Among Kota dengan Metode Think Aloud dan Heuristic Evaluation,” vol. 5, no. 6, 2021.
[2] R. Yuwono, A. Wibowo, S. H. Wijoyo, and R. I. Rokhmawati, “Analisis Pengalaman Pengguna Pada Aplikasi Mobile Banking di Indonesia Dengan Menggunakan Usability Testing dan User Experience Questionnaire ( UEQ ) ( Studi pada JakOne Mobile dan BCA Mobile ),” vol. 3, no. 6, pp. 5666–5673, 2019.
[3] F. G. Sembodo, G. F. Fitriana, and N. A. Prasetyo, “Evaluasi Usability Website Shopee Menggunakan System Usability Scale ( SUS ),” vol. 5, no. 2, pp. 146–150, 2021.
[4] R. Agusti and H. Aravik, “Analisis Penggunaan Marketplace Facebook Terhadap Penjualan Mebel Dalam Bauran Pemasaran Syariah Di Supran Mebel Karang Anyar Palembang,” vol. 1, no. 2, 2023.