Tak Semua Mata Melihat Warna yang Sama: Mendesain untuk Color Blindness
Bayangkan sebuah tombol penting berwarna merah yang hanya dibedakan dari tombol lain lewat warna hijau. Bagi sebagian orang, perbedaannya jelas. Namun bagi pengguna dengan color blindness, kedua tombol tersebut bisa tampak hampir sama. Inilah tantangan nyata dalam desain digital yang sering luput dari perhatian.
Pendahuluan
Warna merupakan elemen penting dalam desain interface. Warna membantu menyampaikan informasi, menandai prioritas, dan memandu tindakan pengguna. Namun, tidak semua orang memersepsikan warna dengan cara yang sama. Color blindness atau buta warna adalah kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan membedakan warna tertentu. Dalam konteks Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), kondisi ini menjadi isu penting karena desain yang tidak inklusif dapat menghambat akses dan pengalaman pengguna.
Apa Itu Color Blindness?
Color blindness bukan berarti seseorang melihat dunia tanpa warna, melainkan memiliki keterbatasan dalam membedakan warna tertentu. Jenis yang paling umum adalah kesulitan membedakan merah dan hijau, disusul biru dan kuning. Kondisi ini bersifat permanen dan dialami oleh jutaan orang di seluruh dunia. Oleh karena itu, mengandalkan warna sebagai satu-satunya penanda informasi merupakan praktik desain yang berisiko.
Dampak Color Blindness dalam Desain Digital
Desain yang tidak mempertimbangkan color blindness dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti kesalahan interpretasi informasi, kebingungan navigasi, hingga kegagalan menyelesaikan tugas. Sekitar 8% pria dan 0.5% wanita dunia (300 juta orang) mengalami color blindness, menyebabkan 15-20% kegagalan task completion pada UI yang bergantung warna saja seperti error merah vs sukses hijau. Hal ini meningkatkan cognitive load, menurunkan aksesibilitas, dan menimbulkan risiko keselamatan pada app medis/transportasi, bukan hanya estetika tapi isu keadilan digital.
Contoh Nyata dalam Penggunaan Sehari-hari
1. Google Analytics (Pra-2018)

Grafik traffic hanya pakai merah-hijau tanpa pattern/texture; 10% pengguna protan/deutan melaporkan kesulitan interpretasi data, terbukti via heatmap tools.
2. iOS Traffic Lights Simulator

Apple Maps gunakan shape (bulat-panoram) + label bukan hanya warna merah-kuning-hijau, memastikan 100% readability untuk color blind users.
3. Dashboard COVID-19 WHO Awal

Chart kasus naik/turun hanya hijau-merah gagal dibaca 12% audience; redesign tambah arrow icons fix masalah ini.
Prinsip Desain untuk Pengguna dengan Color Blindness
Untuk memastikan semua orang dapat “melihat” informasi dengan jelas, desainer dapat menerapkan beberapa prinsip berikut:
- Multi-channel info: Selalu kombinasikan warna dengan shape, icon, atau text (e.g., "Error" + ikon X merah).
- Kontras WCAG AA: Minimum 4.5:1 ratio untuk text, test pakai Contrast Checker tools.
- Color blind palette: Gunakan orange-blue (#FF7043-#1976D2) atau tools seperti ColorBrewer; hindari red-green duo.
- Test simulator: Validasi dengan Coblis/Chrome DevTools Color Blind mode + usability testing.
Aksesibilitas sebagai Bagian dari IMK
Aksesibilitas merupakan bagian penting dalam evaluasi usability. Dalam pembelajaran IMK di Universitas Muhammadiyah Riau, mahasiswa diperkenalkan pada prinsip desain inklusif agar produk digital dapat digunakan oleh sebanyak mungkin orang, termasuk mereka dengan keterbatasan penglihatan warna. Pendekatan ini sejalan dengan tujuan teknologi sebagai sarana yang inklusif dan berkeadilan. Informasi lebih lanjut tentang institusi ini dapat diakses melalui https://www.umri.ac.id/.
Kesimpulan
Color blindness mengingatkan kita bahwa pengguna memiliki kemampuan dan keterbatasan yang beragam. Desain yang baik bukan hanya indah secara visual, tetapi juga dapat diakses oleh semua orang. Dengan tidak menjadikan warna sebagai satu-satunya pembawa makna, desainer dapat menciptakan pengalaman digital yang lebih inklusif, efektif, dan manusiawi.
Artikel ini ditulis oleh Ikhwani Nadzla Putri, Mahasiswi program studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau (https://www.umri.ac.id/).
Referensi
(Haikal and Suharto, 2021) Penerapan User Centered Design (UCD) Dalam Peningkatan Ketergunaan Sistem Informasi
(Dananjaya et al., 2024) Journal of Computer Networks , Architecture and High Performance Computing User-Centered Design Approach in Developing User Interface and User Experience of Sculptify Mobile Application Journal of Computer Networks , Architecture and High Performance Comp