System Usability Scale (SUS): Mengukur Usability Aplikasi Digital dalam Kehidupan Sehari-hari

System Usability Scale (SUS): Mengukur Usability Aplikasi Digital dalam Kehidupan Sehari-hari

Inda Dwiyana

240401171@student.umri.ac.id

Teknik Informatika

Universitas Muhammadiyah Riau

 

    Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Berbagai aktivitas sehari-hari kini dilakukan melalui sistem dan aplikasi digital, mulai dari transaksi keuangan, pembelajaran, hingga pengelolaan data akademik. Namun, keberhasilan sebuah sistem tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan fitur atau kecanggihan teknologi, melainkan juga oleh kemudahan pengguna dalam memanfaatkan sistem tersebut. Sistem yang sulit digunakan cenderung menimbulkan kebingungan, kesalahan penggunaan, bahkan penolakan dari pengguna. Oleh karena itu, mahasiswa Universitas  Muhammadiyah  Riau menjadikan usability menjadi aspek penting dalam pengembangan sistem informasi dan aplikasi digital.

   Usability mengacu pada sejauh mana suatu sistem dapat digunakan secara efektif, efisien, dan memberikan kepuasan kepada pengguna. Untuk memastikan usability suatu sistem, diperlukan metode evaluasi yang praktis dan terukur. Salah satu metode evaluasi usability yang paling populer dan banyak digunakan adalah System Usability Scale (SUS). Metode ini dikenal sederhana, cepat, serta mampu memberikan gambaran kuantitatif mengenai tingkat kemudahan penggunaan suatu sistem.

   System Usability Scale (SUS) merupakan metode evaluasi usability berbasis kuesioner yang dikembangkan oleh John Brooke pada tahun 1986. SUS dirancang untuk mengukur persepsi subjektif pengguna terhadap usability suatu sistem setelah mereka berinteraksi langsung dengannya. Keunggulan utama SUS terletak pada kemudahannya dalam penerapan. Metode ini tidak membutuhkan jumlah responden yang besar dan dapat digunakan untuk berbagai jenis sistem, seperti website, aplikasi mobile, sistem informasi akademik, hingga perangkat lunak desktop.

   Instrumen SUS terdiri dari sepuluh pernyataan yang dijawab menggunakan skala Likert lima poin, mulai dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju. Pernyataan-pernyataan tersebut disusun secara bergantian antara pernyataan positif dan negatif. Pola ini bertujuan untuk mengurangi bias jawaban serta mendorong pengguna memberikan penilaian secara lebih objektif. Setelah pengguna mencoba sistem yang dievaluasi, mereka diminta menjawab seluruh pernyataan berdasarkan pengalaman penggunaan yang dirasakan.

   Perhitungan skor SUS dilakukan melalui langkah-langkah yang sederhana. Untuk pernyataan bernomor ganjil, skor diperoleh dengan mengurangi nilai jawaban dengan angka satu. Sementara itu, untuk pernyataan bernomor genap, skor dihitung dengan mengurangkan nilai jawaban dari angka lima. Seluruh skor kemudian dijumlahkan dan hasilnya dikalikan dengan 2,5. Dari perhitungan tersebut diperoleh skor akhir SUS dengan rentang nilai antara 0 hingga 100. Skor ini memberikan gambaran kuantitatif mengenai tingkat usability suatu sistem.

   Interpretasi skor SUS tidak dilakukan seperti penilaian akademik pada umumnya. Skor di bawah 50 menunjukkan bahwa usability sistem tergolong buruk dan memerlukan perbaikan serius. Skor antara 50 hingga 68 menunjukkan usability berada pada tingkat sedang dan masih membutuhkan peningkatan. Sementara itu, skor di atas 68 menandakan bahwa sistem memiliki usability yang baik dan dapat diterima oleh pengguna. Semakin tinggi skor SUS, semakin besar kemungkinan sistem tersebut nyaman digunakan dalam jangka panjang dan mampu memenuhi kebutuhan pengguna.

 Penerapan SUS dapat dengan mudah ditemukan pada aplikasi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ilustrasi pertama adalah aplikasi BRImo (BRI Mobile) yang digunakan untuk layanan perbankan digital.


Gambar 1. Ilustrasi antarmuka aplikasi BRImo pada smartphone.

 

    Pada aplikasi BRImo, SUS dapat digunakan untuk mengevaluasi kemudahan pengguna dalam melakukan login, transfer dana, pembayaran tagihan, pembelian pulsa, serta pengecekan mutasi rekening. Apabila aplikasi BRImo memperoleh skor SUS yang tinggi, dampaknya adalah meningkatnya kepercayaan nasabah, berkurangnya kesalahan transaksi, serta meningkatnya penggunaan layanan perbankan digital. Usability yang baik juga membantu pengguna dari berbagai latar belakang usia dan tingkat literasi digital untuk menggunakan aplikasi secara mandiri tanpa bergantung pada bantuan pihak lain.

Ilustrasi kedua adalah aplikasi e-commerce Shopee yang populer di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum.


Gambar 2. Ilustrasi antarmuka aplikasi Shopee pada smartphone

  menampilkan halaman utama dengan kategori produk, keranjang belanja, notifikasi, dan pencarian produk. Desain antarmuka intuitif dan mudah digunakan untuk memudahkan proses belanja online.
Pada aplikasi Shopee, SUS dapat digunakan untuk mengevaluasi kemudahan pengguna dalam menelusuri produk, menambahkan barang ke keranjang, melakukan pembayaran, dan melacak pesanan. Jika aplikasi memperoleh skor SUS yang tinggi, dampaknya adalah meningkatnya kenyamanan pengguna, menurunnya tingkat kesalahan saat bertransaksi, serta meningkatnya loyalitas pengguna terhadap platform. Sebaliknya, skor SUS rendah dapat menimbulkan kebingungan, memperlambat proses belanja, dan menurunkan kepuasan pengguna, sehingga berpotensi berpindah ke platform lain.

    menampilkan halaman utama dengan kategori produk, keranjang belanja, notifikasi, dan pencarian produk. Desain antarmuka intuitif dan mudah digunakan untuk memudahkan proses belanja online.
Pada aplikasi Shopee, SUS dapat digunakan untuk mengevaluasi kemudahan pengguna dalam menelusuri produk, menambahkan barang ke keranjang, melakukan pembayaran, dan melacak pesanan. Jika aplikasi memperoleh skor SUS yang tinggi, dampaknya adalah meningkatnya kenyamanan pengguna, menurunnya tingkat kesalahan saat bertransaksi, serta meningkatnya loyalitas pengguna terhadap platform. Sebaliknya, skor SUS rendah dapat menimbulkan kebingungan, memperlambat proses belanja, dan menurunkan kepuasan pengguna, sehingga berpotensi berpindah ke platform lain.

   Nah dapat di simpulkan jadi secara keseluruhan, System Usability Scale (SUS) merupakan metode evaluasi usability yang sederhana, cepat, dan efektif. Dengan hanya sepuluh pernyataan, SUS mampu memberikan gambaran yang jelas mengenai tingkat kemudahan penggunaan suatu sistem serta dampaknya bagi pengguna dan organisasi. Oleh karena itu, SUS sangat direkomendasikan sebagai metode evaluasi awal dalam pengembangan sistem informasi dan aplikasi digital.

  Artikel ini disusun sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) di Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI). Informasi lebih lanjut mengenai UMRI dapat diakses melalui (www.umri.ac.id)

 

Referensi

Brooke, J. (1996). SUS: A Quick and Dirty Usability Scale.
Nielsen, J. (2012). Usability 101: Introduction to Usability.
Sauro, J. (2011). Measuring Usability with the System Usability Scale (SUS).
ISO 9241-11. Ergonomics of Human-System Interaction.
Jogiyanto. (2007). Sistem Informasi Keperilakuan. Yogyakarta: Andi.
Santoso, I., & Wibowo, A. (2019). Evaluasi usability sistem informasi menggunakan System Usability Scale (SUS). Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer.