System Usability Scale (SUS): Cara Mengukur Usability dengan Angka

System Usability Scale (SUS): Cara Mengukur Usability dengan Angka

Iqbal Pratama 24040153

 
Tenik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau

Correspondence: E-mail: 240401153@student.umri.ac.id,

 

 [HOOK / LEAD]

Pernah merasa sebuah aplikasi “sebenarnya penting”, tapi rasanya capek dipakai?
Bukan karena fiturnya kurang, tapi karena pengalaman pengguna yang buruk.
Di sinilah System Usability Scale (SUS) berperan—alat sederhana untuk mengubah rasa “ribet” atau “nyaman” menjadi angka yang bisa dianalisis.

Apa Itu System Usability Scale (SUS)?

System Usability Scale (SUS) adalah metode evaluasi usability yang diperkenalkan oleh John Brooke. SUS menggunakan 10 pertanyaan singkat dengan skala Likert untuk mengukur persepsi pengguna terhadap sebuah sistem—baik website, aplikasi mobile, maupun software desktop.

Keunggulan utama SUS:

  • Cepat dan murah diterapkan
  • Tidak butuh banyak responden
  • Hasilnya konsisten dan mudah dibandingkan

Metode ini banyak digunakan karena mampu memberikan gambaran usability secara global tanpa proses evaluasi yang rumit(Brooke, n.d.; Peres et al., 2013).

Bagaimana Cara Kerja SUS?

SUS terdiri dari:

  • 10 pernyataan
  • Skala jawaban 1–5 (sangat tidak setuju hingga sangat setuju)
  • Pernyataan ganjil bersifat positif, genap bersifat negatif

Skor dihitung dengan rumus standar, lalu dikalikan 2,5 sehingga menghasilkan skor 0–100. Angka inilah yang digunakan untuk menilai apakah sebuah sistem layak, marginal, atau bermasalah dari sisi usability(Brooke, n.d.).

Makna Skor SUS: Jangan Salah Tafsir

Skor SUS bukan persentase, tapi indikator persepsi pengguna.

Skor SUS

Interpretasi

< 50

Tidak dapat diterima

50–70

Marginal

≥ 70

Baik / Acceptable

Contohnya, sebuah sistem akademik kampus dengan skor 62 berarti masih bisa dipakai, tetapi perlu perbaikan serius agar lebih nyaman digunakan(Jundillah et al., 2025).

Contoh Penerapan SUS di Produk Digital Indonesia

Beberapa konteks nyata di Indonesia:

  • Website sikuli kampus: SUS digunakan untuk mengevaluasi kemudahan KRS dan akses nilai mahasiswa.
  • Aplikasi ritel seperti swalayan: SUS dipakai untuk menilai kenyamanan pemesanan dan navigasi.
  • Aplikasi self-service restoran berbasis QR: SUS membantu memastikan sistem mudah dipahami tanpa bantuan pelayan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor SUS yang baik berbanding lurus dengan kepuasan pengguna, meskipun tidak selalu mencerminkan performa teknis sistem secara penuh(Jundillah et al., 2025; Susila, 2023).

Kelebihan dan Keterbatasan SUS

Kelebihan:

·       Praktis untuk evaluasi awal

·       Cocok untuk akademik dan industri

·       Mudah dijelaskan ke non-teknis

Keterbatasan:

·       Tidak menjelaskan kenapa pengguna kesulitan

·       Perlu dikombinasikan dengan observasi atau usability testing lain

Artinya, SUS bukan alat tunggal, tetapi fondasi awal evaluasi UX(Peres et al., 2013).

[KESIMPULAN]

System Usability Scale (SUS) merupakan metode evaluasi usability yang praktis namun memiliki kekuatan analisis yang baik. Dengan pendekatan kuantitatif berbasis persepsi pengguna, SUS mampu memberikan gambaran awal mengenai tingkat kemudahan penggunaan suatu sistem secara objektif. Metode ini sangat relevan digunakan dalam evaluasi berbagai sistem digital, termasuk website akademik, aplikasi layanan publik, dan sistem informasi organisasi.

Bagi dunia akademik, khususnya dalam bidang Interaksi Manusia dan Komputer, SUS tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran untuk memahami hubungan antara desain sistem dan pengalaman pengguna. Oleh karena itu, pemanfaatan SUS dapat membantu menghasilkan sistem digital yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna.

[CALL TO ACTION]

Sebagai mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Riau, pemahaman terhadap System Usability Scale perlu diterapkan secara nyata, tidak berhenti pada konsep teori. Mahasiswa dapat mulai dengan mengevaluasi sistem digital yang digunakan di lingkungan kampus, seperti sistem akademik atau platform pembelajaran daring, menggunakan metode SUS.

Hasil evaluasi tersebut dapat dijadikan dasar untuk mengidentifikasi kelemahan usability serta merancang solusi perbaikan antarmuka yang lebih ramah pengguna. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya memahami usability sebagai konsep, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan sistem digital yang lebih berkualitas dan berdaya guna.

[BRANDING UMRI]

Artikel ini disusun sebagai bagian dari kajian Interaksi Manusia dan Komputer pada Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau.
Informasi akademik dan program studi selengkapnya dapat diakses melalui:
https://www.umri.ac.id

Referensi

Brooke, J. (n.d.). SUS - A quick and dirty usability scale.

Jundillah, M. L., Ramadiani, R., & Respati, L. L. (2025). Implementation Of System Usability Scale (SUS) in Measuring AIS Website Usability at Mulawarman University (pp. 285–290). https://doi.org/10.2991/978-94-6463-732-8_26

Peres, S. C., Pham, T., & Phillips, R. (2013). Validation of the system usability scale (sus): Sus in the wild. Proceedings of the Human Factors and Ergonomics Society, 192–196. https://doi.org/10.1177/1541931213571043

Susila, A. A. N. H. , & A. D. M. S. (2023). Susila, A. A. N. H., & Arsa, D. M. S. (2023). Analisis System Usability Scale (SUS) pada Aplikasi Self Service Restoran.