System Usability Scale (SUS): Cara Mengukur Usability dengan Angka
System Usability Scale (SUS): Cara Mengukur
Usability dengan Angka
Ellgy Dwinasukha 240401095
Universitas Muhammadiyah Riau, Indonesia
Correspondence: E-mail: 240401095@student.umri.ac.id,
Lead / Hook
Pernah merasa sebuah aplikasi itu “enak dipakai”, tetapi sulit menjelaskan alasannya secara objektif? Dalam praktik UI/UX, kesan pengguna perlu diubah menjadi data agar bisa dianalisis. System Usability Scale (SUS) hadir sebagai cara sederhana untuk mengukur usability sebuah sistem dalam bentuk angka yang mudah dipaham (Irawan et al., 2025)
Pendahuluan
Perkembangan sistem informasi yang semakin masif di bidang pendidikan, layanan publik, dan organisasi membuat usability menjadi faktor penentu keberhasilan sebuah aplikasi. Banyak sistem yang sebenarnya kaya fitur, tetapi gagal digunakan secara optimal karena pengguna merasa bingung, tidak nyaman, atau membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi. Dalam kajian Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), permasalahan ini menuntut adanya metode evaluasi yang mampu mengukur kemudahan penggunaan secara objektif dan terstandar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa System Usability Scale (SUS) menjadi salah satu metode yang paling banyak digunakan karena sederhana, cepat diterapkan, serta mampu memberikan gambaran umum tingkat usability sistem melalui skor kuantitatif yang mudah dipahami dan dibandingkan
Isi Utama
1. Apa Itu System Usability Scale (SUS)?
System Usability Scale (SUS) adalah metode evaluasi usability yang dikembangkan oleh John
Brooke dan menggunakan 10 pertanyaan standar untuk menangkap persepsi pengguna terhadap kemudahan penggunaan suatu system (Irawan et al., 2025)
Keunggulan SUS terletak pada kesederhanaan dan fleksibilitasnya. Metode ini dapat diterapkan pada berbagai jenis sistem, mulai dari aplikasi mobile, website, hingga sistem informasi institusi, tanpa memerlukan responden dalam jumlah besar (Sabrina Desy Rahmawati & Prasetiyo, 2025)
2. Cara Kerja dan Perhitungan Skor SUS
Setiap pertanyaan pada SUS dijawab menggunakan skala Likert 1–5, lalu dinormalkan dan dikalikan 2,5 sehingga menghasilkan skor akhir antara 0–100 (Wulandari & Hamzah, 2024)
Skor ini memudahkan peneliti dan pengembang untuk membandingkan usability antar sistem atau antar versi aplikasi. Karena itulah SUS sering digunakan sebagai alat evaluasi awal sebelum dilakukan perbaikan desain lebih lanjut (Irawan et al., 2025)
3. Interpretasi Skor SUS
Skor SUS tidak berdiri sendiri, melainkan diinterpretasikan menggunakan grade scale, adjective rating, dan acceptability range untuk mengetahui posisi usability suatu system (Irawan et al., 2025)
Sebagai contoh, skor di atas 68 umumnya dianggap berada di atas rata-rata dan dapat diterima pengguna. Sebaliknya, skor di bawah nilai tersebut menunjukkan adanya masalah usability yang perlu segera diperbaiki (Sabrina Desy Rahmawati & Prasetiyo, 2025)
4. Mengapa SUS Banyak Digunakan?
Banyak penelitian menunjukkan bahwa SUS bersifat reliable dan valid serta dapat digunakan lintas domain, seperti pendidikan, kesehatan, layanan publik, dan sistem informasi akademik (Irawan et al., 2025)
Selain itu, SUS sering dikombinasikan dengan metode lain seperti heuristic evaluation atau user-centered design agar hasil evaluasi tidak hanya berupa angka, tetapi juga rekomendasi perbaikan yang konkret (Wulandari & Hamzah, 2024)
Contoh / Ilustrasi
Contoh 1: Google Classroom
Google Classroom banyak digunakan di dunia pendidikan karena alur penggunaannya relatif sederhana. Jika diuji menggunakan SUS, fitur utama seperti pengumpulan tugas dan pengumuman kelas biasanya memperoleh skor tinggi karena mudah dipahami oleh pengguna (Sabrina Desy Rahmawati & Prasetiyo, 2025)
Tampilan Home Google Classroom

Namun, bagi pengguna baru, beberapa menu yang tersembunyi masih memerlukan adaptasi awal. Hal ini dapat memengaruhi skor SUS pada aspek learnability meskipun secara umum sistem dinilai usable (Irawan et al., 2025)
Contoh 2: Zoom Meeting
Tampilan Home Zoom Meting

Zoom Meeting dikenal karena fokus pada fungsi utama seperti join meeting, mute, dan share screen. Dalam pengujian SUS, desain seperti ini cenderung menghasilkan skor baik karena pengguna dapat langsung memahami fungsi inti aplikasi (Wulandari & Hamzah, 2024)
Meski begitu, fitur lanjutan seperti breakout room dan pengaturan keamanan dapat menurunkan persepsi usability bagi pengguna awam jika tidak disertai petunjuk yang jelas (Irawan et al., 2025)
Contoh 3: Google Drive
Google Drive memudahkan pengguna dalam menyimpan dan berbagi file melalui struktur folder yang familiar. Saat diukur dengan SUS, aspek efisiensi dan konsistensi antarmuka biasanya memperoleh nilai positif (Sabrina Desy Rahmawati & Prasetiyo, 2025)
Tampilan Home Google Drive

Namun, pengaturan hak akses file sering menjadi sumber kebingungan bagi pengguna baru. Hal ini menunjukkan bahwa skor SUS yang baik tetap dapat menyimpan catatan perbaikan pada detail tertentu (Irawan et al., 2025)
KESIMPULAN
System Usability Scale (SUS) memungkinkan pengalaman subjektif pengguna diterjemahkan menjadi data kuantitatif yang mudah dianalisis dan dibandingkan. Dengan hanya 10 pertanyaan, pengembang dapat memperoleh gambaran umum tentang tingkat usability suatu system
Bagi mahasiswa dan praktisi UI/UX, SUS dapat dijadikan langkah awal evaluasi usability sebelum menggunakan metode yang lebih kompleks. Skor SUS sebaiknya diperlakukan sebagai dasar pengambilan keputusan desain, bukan sekadar angka akhir
Call To Action
Melihat kelebihan System Usability Scale (SUS), mahasiswa dan pengembang pemula sebaiknya mulai membiasakan diri menggunakan metode ini dalam mengevaluasi aplikasi atau sistem yang mereka gunakan maupun kembangkan. SUS tidak membutuhkan alat khusus atau proses yang rumit, sehingga dapat diterapkan pada sistem sederhana seperti e-learning kampus, aplikasi administrasi, atau website organisasi. Dengan melakukan evaluasi SUS secara rutin, pengguna tidak hanya memperoleh skor usability, tetapi juga dapat mengidentifikasi bagian sistem yang perlu diperbaiki agar lebih ramah pengguna. Oleh karena itu, cobalah terapkan SUS pada aplikasi yang sering Anda gunakan dan jadikan hasilnya sebagai dasar diskusi maupun pengembangan sistem yang lebih berorientasi pada kebutuhan pengguna
Branding Universitas Muhammadiyah Riau
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran Mata Kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau. Untuk informasi lebih lanjut tentang program studi kami, kunjungi https://www.umri.ac.id
Daftar Pustaka
1. Irawan, Y., Suryani, F. B., Wanabuliandari, S., & Muzid, S. (2025). System Usability Scale (SUS) Model in Evaluating Internal Quality Audit Systems for Accreditation Process Optimization. Journal of Applied Informatics and Computing, 9(2), 511–516. https://doi.org/10.30871/jaic.v9i2.9210
2. Ngurah Darma Paramartha, I. G., I Putu Widia Prasetia, & Kadek Kusuma Wardana. (2024). Usability Testing Pada Aplikasi Undiknas Mobile Menggunakan Metode System Usability Scale. Metik Jurnal, 8(1), 24–30. https://doi.org/10.47002/metik.v8i1.735
3. Sabrina Desy Rahmawati, & Prasetiyo, B. (2025). Application of Lean UX and System Usability Scale (SUS) Methods in Redesigning User Interface and User Experience on Adella Hospital Online Registration Website. Journal of Advances in Information Systems and Technology, 6(2), 200–218. https://doi.org/10.15294/jaist.v6i2.2430
4. Wulandari, S. A., & Hamzah, M. L. (2024). ANALISIS TINGKAT USABILITY SITUS WEBSITE RILISBERITA DENGAN MENGGUNAKAN METODE SYSTEM USABILITY SCALE ( SUS ) ANALYZE THE LEVEL OF USEFULNESS OF THE NEWS RELEASE WEBSITE WITH USING THE SCALE USABILITY SYSTEM ( SUS ) METHOD Program Studi Sistem Informasi ,. 7.