Sedikit Menu, Keputusan Lebih Cepat: Hick’s Law di WhatsApp

Sedikit Menu, Keputusan Lebih Cepat: Hick’s Law

di WhatsApp

Pinky Putri Amabell 240401047

 
Universitas Muhammadiyah Riau, Indonesia

Correspondence: E-mail: 240401047@student.umri.ac.id,

 

 

Pernahkah anda membuka WhatsApp lalu langsung tahu harus menekan apa tanpa harus berpikir lama? Bandingkan dengan aplikasi lain yang penuh menu dan opsi hingga membuat ragu untuk memilih. Perbedaan pengalaman ini bukan cuma kebetulan. Ada prinsip dalam Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) yang menjelaskannya, yaitu Hick’s Law.

PENDAHULUAN

Pada masa dunia digital saat ini, pengguna tidak hanya menilai aplikasi dari fitur yang dimiliki, tetapi dari seberapa cepat dan mudah mereka mengambil sebuah keputusan. Aplikasi yang terlalu banyak pilihan sering kali justru memperlambat pengguna. Hal ini menjadi perhatian penting dalam kajian IMK, khususnya pada faktor kognitif manusia.

Salah satu prinsip yang sering digunakan untuk menjelaskan fenomena ini adalah Hick’s Law, yang menyatakan bahwa semakin banyak pilihan yang diberikan kepada pengguna, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan. Prinsip ini banyak diterapkan pada aplikasi populer, salah satunya WhatsApp.

Dalam kajian Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), Hick’s Law menjadi aspek penting karena menentukan bagaimana manusia berinteraksi dengan sistem digital sekarang. Pendekatan ini juga dipelajari dalam mata kuliah IMK di Universitas Muhammadiyah Riau, yang menekankan bahwa teknologi harus menyesuaikan diri dengan pengguna, bukan sebaliknya.

PEMBAHASAN

Berdasarkan studi kasus WhatsApp, dapat dilihat bahwa Hick’s Law membantu menekan beban kognitif pengguna. WhatsApp tidak menampilkan semua kemungkinan aksi dalam satu layar, melainkan membatasi pilihan pada konteks tertentu.

Pendekatan ini sejalan dengan penelitian UI/UX yang menyebutkan bahwa pengurangan kompleksitas pilihan dapat meningkatkan efisiensi dan kepuasan pengguna. Dengan kata lain, WhatsApp tidak membuat pengguna “berpikir”, melainkan “mengalir” bersama sistem.

Dalam perspektif IMK, hal ini menunjukkan bahwa desain yang baik bukan tentang menambahkan fitur sebanyak mungkin, tetapi tentang mengatur pilihan agar sesuai dengan cara manusia berpikir.

 


Apa Itu Hick’s Law?

Hick’s Law adalah prinsip dalam IMK yang menjelaskan hubungan antara jumlah pilihan dan waktu pengambilan keputusan. Secara sederhana, semakin banyak opsi yang harus dipilih oleh pengguna, maka beban kognitif akan meningkat dan keputusan menjadi lebih lambat.

Dalam konteks desain antarmuka, Hick’s Law mendorong desainer untuk:

·       Mengurangi pilihan yang tidak perlu

·       Mengelompokkan opsi secara logis

·       Menyajikan informasi secara bertahap

Tujuannya agar pengguna dapat bertindak cepat tanpa merasa bingung.

Tips Aplikatif: Bagaimana Hick’s Law Dapat Diterapkan

Agar prinsip Hick’s Law tidak hanya berhenti pada teori, berikut ada beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan oleh pembaca, khususnya Mahasiswa dan calon perancang sistem:

1.     Batasi adanya pilihan utama dalam satu layer

Usahakan hanya menampilkan 3–5 pada opsi utama saja. Jika terlalu banyak, bagi ke dalam sub-menu atau langkah lanjutan.

2.     Kelompokkan menu berdasarkan penggunaan

Menu yang memiliki tujuan serupa sebaiknya dikelompokkan agar pengguna tidak bingung terlalu lama saat memilihnya.

3.     Gunakan label yang jelas dan familiar

Hindari teknis yang tidak umum. Pilihan yang mudah dipahami akan mempercepat pengambilan keputusan pengguna.

4.     Tampilkan opsi sesuai konteks penggunaan

Jangan menampilkan semua pilihan sekaligus. Tampilkan hanya opsi yang relevan.

5.     Manfaatkan ikon sebagai pendukung, bukan pengganti makna

Ikon sebaiknya membantu memperjelas pilihan, bukan menambah kebingungan. Pastikan ikon memiliki makna yang umum dipahami.

Contoh Nyata: Penerapan Hick’s Law pada WhatsApp

WhatsApp merupakan sebuah contoh aplikasi yang berhasil menerapkan Hick’s Law dengan konsisten, meskipun fiturnya terus berkembang. Mari lihat contoh konkret di aplikasi yang kita gunakan dalam sehari-hari.

Contoh 1: Halaman Utama Daftar Chat

Saat anda membuka aplikasi WhatsApp, pengguna langsung dihadapkan pada satu fokus utama: yaitu daftar percakapan. Tidak ada banyak menu yang mengganggu perhatian pada pengguna.

Fitur ini membantu pengguna yang memiliki banyak percakapan untuk memprioritaskan pesan penting tanpa harus membuka satu per satu.

 

Pada pilihan tindakan utama hanya ada beberapa, seperti mencari chat atau membuat sebuah pesan baru. Dengan opsi yang terbatas, pengguna dapat langsung mengambil sebuah keputusan tanpa harus berpikir lama.

 

Ini adalah sebuah contoh penerapan Hick’s Law: pilihan ini disederhanakan, tetapi tetap memiliki fungsional. Pengguna dapat dengan cepat menyaring informasi sesuai kebutuhannya.

Contoh 2: Menu Lampiran dalam Chat

Saat pengguna menekan ikon pada lampiran, WhatsApp hanya menampilkan beberapa opsi utama seperti kamera, galeri, dokumen, dan lokasi. Opsi ini disusun secara visual dan mudah dikenali oleh pengguna.

Ini dapat membantu pengguna memilih tindakan dengan cepat tanpa harus membaca terlalu banyak teks ataupun pilihan.

Solusi Desain: Bagaimana Hick’s Law Diterapkan?

Dari studi kasus WhatsApp ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan pada Hick’s Law dilakukan dengan beberapa cara:

  • Membatasi jumlah pilihan dalam satu layar
  • Menampilkan opsi berdasarkan konteks penggunaan
  • Menggunakan ikon dan label yang familiar
  • Menyembunyikan opsi lanjutan di balik interaksi tambahan

Pendekatan ini membuat antarmuka terasa lebih ringan dan tidak membebani pengguna secara mental.

 

KESIMPULAN

Hick’s Law menunjukkan bahwa lebih sedikit pilihan dapat menghasilkan pengalaman pengguna yang lebih baik. Pada studi kasus WhatsApp ini membuktikan bahwa desain yang sederhana dan terarah mampu mempercepat pengambilan keputusan serta meningkatkan kenyamanan bagi pengguna.

Sebagai mahasiswa dan calon pengembang pada sistem, memahami Hick’s Law membantu kita merancang antarmuka yang tidak hanya fungsional, tetapi juga selaras dengan cara manusia berpikir. Cobalah perhatikan aplikasi yang sering digunakan apakah sudah menerapkan prinsip ini, atau justru sebaliknya?

 

Artikel ini ditulis sebagai bagian dari mata kuliah IMK di Universitas Muhammadiyah Riau. Informasi lebih lanjut tentang Universitas Muhammadiyah Riau dapat diakses melalui ( www.umri.ac.id).

 

DAFTAR PUSTAKA

(Industri & Indonesia, 2024)Dirgantara, S. D., & Suartana, I. M. (2025). Perancangan Ulang Desain UI / UX pada Aplikasi Tropica Menggunakan Metode Double Diamond. 06, 1049–1062.

Farys, S. Al, Kharisma, A. P., & Rahman, M. A. (2022). Eksperimen Penerapan Hick Law Dan Match Between The System And The Real World Pada Aplikasi Rembang Gemilang Mobile Untuk Meningkatkan Usability. 1(1), 1–10.

Industri, F. T., & Indonesia, U. I. (2024). EVALUASI DAN REDESAIN USER INTERFACE DAN USER EXPERIENCE DENGAN METODE A / B TESTING PADA EVALUASI DAN REDESAIN USER INTERFACE DAN USER EXPERIENCE DENGAN METODE A / B TESTING PADA APLIKASI PRIME VIDEO MOBILE.

Maulani, T. J., Perdanakusuma, A. R., Studi, P., Informasi, S., Komputer, F. I., & Brawijaya, U. (2021). Evaluasi User Experience Menggunakan Metode Usability Testing dan User Experience Questionnaire ( UEQ ) ( Studi Kasus : Website Superprof . co . id dan Zonaprivat . com ). 5(6), 2639–2645.

(Farys et al., 2022)(Maulani et al., 2021)(Dirgantara & Suartana, 2025)