Prinsip Gestalt dan Peranannya dalam Proses Kognitif Pengguna UI Digital di Era UX

Hook

Pernahkah Anda membuka sebuah aplikasi, lalu merasa bingung harus menekan tombol yang mana karena terlalu banyak pilihan di layar? Alih-alih membantu, pilihan yang berlebihan justru membuat pengguna ragu, berhenti sejenak, bahkan menutup aplikasi. Fenomena ini bukan sekadar masalah desain visual, tetapi berkaitan langsung dengan cara otak manusia memproses informasi.

Pendahuluan

Dalam kajian Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), desain antarmuka tidak hanya dinilai dari estetika, tetapi juga dari bagaimana pengguna memahami, memilih, dan mengambil keputusan. Salah satu prinsip penting yang menjelaskan proses ini adalah Hick’s Law, yaitu hukum yang menyatakan bahwa semakin banyak pilihan yang diberikan, semakin lama waktu yang dibutuhkan pengguna untuk mengambil keputusan.

 

Di era UX modern, Hick’s Law sering dikaitkan dengan proses kognitif pengguna dalam memahami antarmuka digital. Desain yang terlalu padat menu dan opsi dapat meningkatkan beban kognitif pengguna dan menurunkan pengalaman penggunaan. Hal ini banyak ditemukan pada aplikasi dan website layanan digital di Indonesia, terutama yang terus menambah fitur tanpa penyederhanaan struktur navigasi.

PEMBAHASAN

1. Hick’s Law dan Proses Kognitif Pengguna

Hick’s Law menjelaskan bahwa waktu pengambilan keputusan meningkat secara logaritmik seiring bertambahnya jumlah pilihan. Dalam konteks UI digital, hal ini berarti pengguna akan membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami dan memilih tindakan ketika antarmuka menampilkan terlalu banyak menu sekaligus.

Penelitian pada desain UI/UX website pemerintahan desa menunjukkan bahwa tata letak yang kompleks dan fitur yang terlalu banyak menyebabkan pengguna kesulitan memahami alur penggunaan sistem (Kurnia et al., 2025). Hal ini membuktikan bahwa keterbatasan kognitif pengguna perlu menjadi pertimbangan utama dalam perancangan antarmuka digital.

 

2. Banyaknya Pilihan dan Beban Kognitif

Beban kognitif terjadi ketika informasi yang harus diproses pengguna melebihi kapasitas kerja memori jangka pendek. Antarmuka yang menampilkan banyak tombol, kategori, dan opsi dalam satu layar dapat menyebabkan pengguna merasa kewalahan.

Dalam studi persepsi visual pada aplikasi Alfa Gift dan Klik Indomaret, pengguna mengeluhkan tampilan yang terlalu kompleks sehingga menyulitkan pencarian menu yang diinginkan(Yuwono & Anggraeni, 2023). Kondisi ini sejalan dengan Hick’s Law, di mana banyaknya pilihan justru memperlambat proses pengambilan keputusan dan menurunkan kenyamanan penggunaan.

Contoh Praktis pada Web dan Aplikasi Mobile

1. Website Layanan Publik

Website layanan pemerintahan sering menampilkan banyak menu dalam satu halaman utama. Pengguna harus membaca dan membandingkan setiap opsi sebelum memilih, sehingga proses pencarian informasi menjadi lambat dan tidak efisien.

 

 

 

3. Aplikasi E-Commerce Mobile

Aplikasi belanja seperti Alfa Gift dan Klik Indomaret memiliki banyak kategori dan subkategori produk. Ketika tidak dikelompokkan dengan baik, pengguna membutuhkan waktu lebih lama untuk menentukan pilihan produk(Yuwono & Anggraeni, 2023).



4. Aplikasi Berbasis Edukasi atau Analisis Web

Pada aplikasi berbasis web seperti Readability Analyzer, penyederhanaan menu utama dan pemilihan fitur inti membantu pengguna fokus pada tujuan utama aplikasi dan mengurangi kebingungan(Muhammad Zulfikar et al., 2024).

 

 

 

Strategi Desain UI Berdasarkan Hick’s Law

Beberapa strategi desain yang dapat diterapkan untuk mengurangi dampak negatif Hick’s Law:

· Prioritaskan pilihan utama, tampilkan fitur penting lebih menonjol

· Gunakan pengelompokan menu, sehingga pilihan terasa lebih sedikit

· Progressive disclosure, tampilkan opsi lanjutan hanya jika dibutuhkan

· Kurangi keputusan di awal, biarkan pengguna fokus pada satu tujuan utama

Pendekatan ini terbukti meningkatkan usability dan kepuasan pengguna dalam berbagai penelitian UI/UX berbasis design thinking(Wiyono et al., 2024).

Kesimpulan

Hick’s Law menunjukkan bahwa lebih banyak pilihan tidak selalu berarti pengalaman yang lebih baik. Dalam desain UI digital, terlalu banyak opsi justru meningkatkan beban kognitif dan memperlambat pengambilan keputusan pengguna. Dengan memahami proses kognitif pengguna dan menerapkan prinsip penyederhanaan pilihan, desainer dapat menciptakan antarmuka yang lebih efektif, intuitif, dan nyaman digunakan.

Brending Umri

Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Universitas Muhammadiyah Riau. Informasi lebih lanjut mengenai program studi dan kegiatan akademik dapat diakses melalui https://www.umri.ac.id.

 

Daftar Pustaka

Kurnia, I. A., Wahyudin, A., & Putra, R. R. J. (2025). Perancangan UI/UX Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Pada Website Aplikasi Pemerintah Desa Menggunakan Metode Design Thinking. Digital Transformation Technology, 4(2), 1121–1131. https://doi.org/10.47709/digitech.v4i2.5226

 

Muhammad Zulfikar, R., Sutedi, A., & Ramadhani, R. (2024). Analisis dan Perancangan UI/UX Pada Aplikasi Readability Analyzer Menggunakan Metode Design Thinking. Jurnal Algoritma, 21(2), 321–331. https://doi.org/10.33364/algoritma/v.21-2.1678

 

Wiyono, B. S., Irfan, M., Hakim, F., Nuryasin, I., Tujuan, A., & Berkelanjutan, P. (2024). Perancangan Desain Antarmuka Aplikasi FoodCare Dengan Pendekatan Design Thinking dan Prinsip Gestalt. REPOSITOR, 6(1), 27–36.

 

Yuwono, A. R., & Anggraeni, N. S. (2023). Persepsi Elemen Visual dan Layout User Interface Aplikasi Alfa Gift dan Klik Indomaret. GESTALT, 5(1), 55–72. https://doi.org/10.33005/gestalt.v5i1.135