MENGAPA DESAIN YANG BAGUS SAJA TIDAK CUKUP: PENTINGNYA MEMAHAMI SISI PENGGUNA
Penulis: Shandy Zaldy
Mahasiswa Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau
Pernahkan kalian merasa bahwa suatu aplikasi memiliki tampilan yang menarik, tapi justru membuat kalian frustasi atau binggung saat digunakan? Segalanya terlihat modern mulai dari warna, ikon, dan animasi, tetapi kamu bingung ingin memulai darimana. Hal ini menunjukkan bahwa desain visual yang menarik tidak otomatis membuat sistem mudah digunakan. Desain yang efektif harus mampu memenuhi kebutuhan dan kebiasaan pengguna dengan baik.
Dalam artikel ini, kita akan memahami mengapa tampilan saja tidak cukup, dan bagaimana pemahaman pengguna menjadi kunci dalam menciptakan desain yang berguna dan bermakna.
· Mengapa Memahami Sisi Pengguna Itu Penting?
Desain yang bagus tidak cukup jika hanya terlihat menarik secara visual. Dalam pengembangan sistem, desain harus memahami sisi pengguna karena manusialah yang akan berinteraksi langsung dengan sistem tersebut. Ketika desain dibuat tanpa memahami kebutuhan, kebiasaan, dan cara berpikir pengguna, sistem berpotensi terasa rumit, membingungkan, dan akhirnya ditinggalkan, meskipun secara teknis sudah canggih (Norman, 2018).
Dalam perkuliahan Interaksi Manusia Komputer di Universitas Muhammadiyah Riau kami mempelajari tentang memahami pengguna dapat membantu desainer menciptakan sistem yang mudah digunakan atau memiliki usability yang baik. Sistem yang berangkat dari pemahaman pengguna cenderung lebih mudah dipelajari, lebih efisien, dan mampu meminimalkan kesalahan.
Tanpa pemahaman yang jelas terhadap hal-hal ini, desain hanya menjadi tebakan yang berisiko tinggi gagal di dunia nyata. Menurut Norman, desain yang efektif harus mengacu pada kebutuhan, kemampuan, dan keterbatasan manusia agar benar-benar membantu pengguna dalam konteks nyata (Norman, 2018).
“A beautiful design that ignores user needs may produce frustration rather than satisfaction.”
— Norman (2018)
· Usability vs User Experience
Pernah merasa sebuah aplikasi itu “bisa dipakai”, tapi rasanya tidak menyenangkan? Nah, di situlah letak perbedaan antara usability dan user experience.
Usability berbicara tentang seberapa mudah sebuah sistem digunakan. Apakah menunya jelas? Apakah tugas bisa diselesaikan tanpa bingung? Jika pengguna bisa mencapai tujuannya dengan cepat dan minim kesalahan, berarti sistem tersebut usable (ISO, 2019). Namun, selesai sampai di situ saja belum tentu membuat pengguna ingin kembali.
User experience melampaui soal kemudahan. Ia berbicara tentang bagaimana perasaan pengguna saat berinteraksi dengan sistem tersebut. Apakah pengguna merasa nyaman, puas, dan percaya diri? Atau justru terburu-buru ingin menutup aplikasinya?
Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman pengguna mencakup aspek emosional, persepsi nilai, dan kepuasan, bukan hanya keberhasilan menyelesaikan tugas (Tullis & Albert, 2018).
Singkatnya, usability memastikan sistem bisa digunakan, sedangkan user experience menentukan apakah sistem itu layak dipertahankan oleh pengguna.
Kalau kamu memilih, lebih penting aplikasi yang sekadar berfungsi, atau yang membuatmu betah memakainya?.
Contoh sederhana:
Bayangkan sebuah aplikasi belanja online. Kamu bisa menemukan barang dan melakukan pembayaran tanpa error, artinya usability-nya sudah terpenuhi. Namun, jika tampilannya membingungkan, notifikasinya berlebihan, dan rincian pembayaran cukup membingungkan menyebabkan proses checkout terasa melelahkan, pengalaman pengguna akan terasa menurun.

Sumber: https://shopee.co.id/
· Peran User-Centered Design dalam Desain yang Efektif
Bayangkan jika sebuah sistem dirancang bukan berdasarkan asumsi desainer, tetapi dari kebutuhan nyata penggunanya. Inilah inti dari user-centered design, sebuah pendekatan yang menempatkan pengguna sebagai pusat dalam setiap tahap perancangan.
Dengan memahami apa yang dibutuhkan, dirasakan, dan diharapkan pengguna, desain tidak hanya terlihat menarik, tetapi juga terasa mudah dan masuk akal saat digunakan. Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan user-centered design mampu meningkatkan usability dan kepuasan pengguna karena desain dikembangkan berdasarkan konteks penggunaan yang sesungguhnya, bukan sekadar preferensi visual semata (Hassenzahl, 2018).
Jadi, sebelum bertanya “apakah desain ini sudah keren?”, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah “apakah desain ini benar-benar membantu penggunanya?”. Di era media digital yang serba cepat, desain yang efektif adalah desain yang dipahami pengguna sejak sentuhan pertama.
Contoh sederhana:
Contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari bisa kita lihat dari aplikasi Gojek. Saat pertama kali membuka aplikasinya, pengguna langsung disuguhi pilihan layanan utama seperti GoRide, GoCar, dan GoFood di halaman depan. Tanpa perlu berpikir lama, pengguna bisa langsung memilih layanan yang dibutuhkan.
Ini menunjukkan bahwa desain Gojek dibuat dengan memahami kebiasaan pengguna yang menginginkan proses cepat dan praktis. Bayangkan jika untuk memesan GoRide pengguna harus membuka beberapa menu tersembunyi terlebih dahulu.
Pasti terasa merepotkan, apalagi saat sedang terburu-buru. Namun dengan pendekatan user-centered design, Gojek menempatkan fitur utama di posisi yang mudah dijangkau, menampilkan lokasi secara otomatis, serta memberikan informasi tarif dan estimasi waktu sejak awal. Hasilnya, aplikasi tidak hanya terlihat rapi, tetapi juga terasa membantu dan nyaman digunakan.
Contoh ini memperlihatkan bahwa desain yang efektif bukan tentang seberapa menarik tampilannya, melainkan tentang seberapa baik desain tersebut memahami dan mendukung kebutuhan pengguna dalam aktivitas sehari-hari.
KESIMPULAN
Desain yang bagus tidak cukup jika hanya menarik secara visual. Tanpa memahami sisi pengguna, sebuah sistem berisiko sulit digunakan dan tidak memberikan pengalaman yang menyenangkan. Pemahaman terhadap kebutuhan dan kebiasaan pengguna terbukti berperan penting dalam meningkatkan usability dan pengalaman pengguna.
Melalui pendekatan user-centered design, desain tidak lagi sekadar terlihat keren, tetapi benar-benar membantu pengguna. Jadi, sebelum menilai sebuah desain itu bagus, ada satu pertanyaan penting: apakah desain ini memudahkan penggunanya?
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) di Universitas Muhammadiyah Riau www.umri.ac.id
REFERENSI
Hassenzahl, M. (2018). User experience and experience design. In M. Soegaard & R. F. Dam (Eds.), The encyclopedia of human-computer interaction (2nd ed.). Interaction Design Foundation.
Norman, D. A. (2018). The design of everyday things (Revised and expanded ed.). Basic Books.
Preece, J., Rogers, Y., & Sharp, H. (2019). Interaction design: Beyond human-computer interaction (5th ed.). Wiley.
Singh, A. (2025). Human-Computer Interaction: A review of usability, design, and accessibility trends. Global Trends in Science and Technology, 1(4), 25–46.
Tullis, T., & Albert, B. (2018). Measuring the user experience: Collecting,
analyzing, and presenting usability metrics (2nd ed.). Morgan Kaufmann.