Mengapa Beberapa Aplikasi Mudah Digunakan dan Lainnya Membingungkan?

Mengapa Beberapa Aplikasi Mudah Digunakan

dan Lainnya Membingungkan?

Ellgy Dwinasukha 240401095

 
Universitas Muhammadiyah Riau, Indonesia

Correspondence: E-mail: 240401095@student.umri.ac.id,

 

 

Lead / Hook

Pernahkah Anda merasa langsung memahami cara menggunakan satu aplikasi, tetapi justru kebingungan saat membuka aplikasi lain yang sama-sama populer? Pengalaman ini sering dialami pengguna aplikasi digital dan menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan tidak ditentukan oleh popularitas, melainkan oleh bagaimana desain aplikasi tersebut berinteraksi dengan penggunanya.(Lu et al., 2025)

 

PENDAHULUAN

Perkembangan aplikasi digital yang sangat pesat membuat pengguna memiliki banyak pilihan dalam memenuhi kebutuhannya, mulai dari komunikasi hingga transaksi daring. Namun, banyaknya pilihan tidak selalu diikuti dengan kualitas pengalaman penggunaan yang baik, karena sebagian aplikasi masih sulit dipahami oleh pengguna awam

Dalam kajian Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), perbedaan antara aplikasi yang mudah digunakan dan yang membingungkan berkaitan erat dengan konsep usability dan user experience (UX). Usability menekankan kemudahan dan efisiensi penggunaan, sedangkan UX mencakup keseluruhan pengalaman dan persepsi pengguna saat berinteraksi dengan sistem digital

Isi Utama

 

Usability: Dasar Kenyamanan Pengguna

Usability merupakan ukuran sejauh mana sebuah aplikasi dapat digunakan pengguna untuk mencapai tujuannya secara efektif, efisien, dan dengan tingkat kesalahan yang rendah. Aplikasi dengan usability yang baik membantu pengguna menyelesaikan tugas tanpa perlu mempelajari sistem secara mendalam(Nuñez et al., 2024)

Sebaliknya, aplikasi yang memiliki struktur menu kompleks, navigasi tidak konsisten, serta tampilan yang terlalu padat cenderung meningkatkan beban kognitif pengguna. Kondisi ini menyebabkan pengguna cepat merasa lelah dan menganggap aplikasi tersebut membingungkan, meskipun secara fungsional aplikasi tersebut lengkap(Oktaroza & Setiawan, 2025)

Masalah muncul ketika aplikasi:

  • Terlalu banyak menu dalam satu layar
  • Navigasi tidak konsisten
  • Istilah yang digunakan tidak familiar

Kondisi ini meningkatkan beban kognitif, sehingga pengguna cepat lelah dan merasa aplikasi “ribet”.

 

User Experience (UX) Lebih Dari Sekedar Tampilan

User Experience (UX) tidak hanya berkaitan dengan tampilan visual, tetapi juga mencakup perasaan, kenyamanan, dan kepuasan pengguna selama menggunakan aplikasi. UX yang baik tercipta ketika sistem mampu memberikan alur interaksi yang jelas serta respons yang sesuai dengan tindakan pengguna(Lu et al., 2025)

UX yang buruk sering kali ditandai dengan kurangnya umpan balik sistem, ikon yang ambigu, serta alur penggunaan yang tidak intuitif. Hal ini membuat pengguna ragu dalam mengambil tindakan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan saat berinteraksi dengan aplikasi(Septiani Kurnia & Nur Nawaningtyas, 2024)

Aplikasi dengan UX baik:

  • Memberi umpan balik yang jelas
  • Memiliki alur yang konsisten
  • Membuat pengguna merasa “dibimbing”, bukan disuruh menebak

Sebaliknya, UX buruk membuat pengguna ragu, sering salah klik, dan kehilangan kepercayaan pada aplikasi.

 

Ketidakseimbangan antara Fitur dan Kebutuhan Pengguna

Banyak aplikasi modern gagal memberikan pengalaman yang baik karena menampilkan terlalu banyak fitur dalam satu waktu. Pengembang sering berfokus pada penambahan fungsi tanpa mempertimbangkan prioritas dan kemampuan pengguna dalam memproses informasi tersebut(Lu et al., 2025)

Pendekatan user-centered design menekankan bahwa desain aplikasi seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan, konteks, dan karakteristik pengguna. Dengan melibatkan pengguna dalam proses perancangan dan evaluasi, pengembang dapat mengurangi potensi kebingungan dan meningkatkan kualitas interaksi sistem(Harshali Rohit Kadaskar, 2024)

Pendekatan user-centered design menekankan bahwa desain harus dimulai dari:

  • Kebutuhan pengguna
  • Konteks penggunaan
  • Kemampuan dan kebiasaan pengguna

Tanpa pendekatan ini, aplikasi berpotensi terlihat canggih tetapi sulit digunakan.

 

Contoh / Ilustrasi

 

Contoh 1: Aplikasi Whatssapp

WhatsApp dikenal sebagai aplikasi yang mudah digunakan oleh berbagai kalangan usia karena desainnya yang sederhana dan konsisten. Fitur utama seperti pesan, panggilan, dan berbagi media dapat diakses dengan mudah tanpa perlu panduan khusus.(Nuñez et al., 2024)

Namun, pembaruan fitur yang dilakukan secara berkala, seperti perubahan pada pengaturan privasi atau status, sempat menimbulkan kebingungan bagi sebagian pengguna. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan desain sekecil apa pun dapat memengaruhi UX jika tidak diikuti dengan komunikasi yang jelas kepada pengguna(Lu et al., 2025)

 

 

Mengapa mudah digunakan?

  • Ikon familiar
  • Menu utama jelas
  • Fitur penting mudah dijangkau

Namun, beberapa pembaruan fitur (misalnya pengaturan privasi atau status) sempat membuat sebagian pengguna perlu beradaptasi kembali. Ini menunjukkan bahwa perubahan kecil pun bisa berdampak pada UX.

 

Contoh 2: Aplikasi Shoope

Shopee merupakan aplikasi e-commerce yang kaya fitur, tetapi sering dianggap membingungkan oleh pengguna baru. Tampilan halaman utama yang dipenuhi banner promosi, menu, dan notifikasi membuat pengguna kesulitan memfokuskan perhatian pada fungsi utama aplikasi.(Oktaroza & Setiawan, 2025)

 

Kepadatan informasi tersebut meningkatkan beban kognitif pengguna dan memperpanjang waktu pencarian fitur penting seperti riwayat pesanan atau pusat bantuan. Hal ini mencerminkan kurang optimalnya penerapan prinsip usability dan UX dalam desain antarmuka aplikasi.(Septiani Kurnia & Nur Nawaningtyas, 2024)

Masalah yang sering muncul:

  • Halaman utama terlalu ramai
  • Banyak banner promosi sekaligus
  • Notifikasi berlebihan

Akibatnya, pengguna kesulitan menemukan fitur inti seperti riwayat pesanan atau bantuan pelanggan. Ini contoh nyata ketidakseimbangan antara fitur dan kenyamanan pengguna.

 

KESIMPULAN

Perbedaan antara aplikasi yang mudah digunakan dan yang membingungkan tidak terletak pada jumlah fitur, melainkan pada kualitas desain interaksi yang diterapkan. Usability dan UX menjadi faktor utama yang menentukan apakah sebuah aplikasi dapat diterima dan digunakan secara berkelanjutan oleh pengguna.(Lu et al., 2025)

Bagi mahasiswa dan pengembang teknologi, pemahaman terhadap prinsip IMK merupakan bekal penting dalam menciptakan produk digital yang tidak hanya fungsional, tetapi juga nyaman dan ramah bagi pengguna.(Septiani Kurnia & Nur Nawaningtyas, 2024)

 

Call To Action

                Melalui pembahasan ini, diharapkan mahasiswa dan calon pengembang tidak lagi menilai kualitas aplikasi hanya dari kelengkapan fitur atau tampilan visual semata. Mulailah lebih peka terhadap aspek usability dan user experience (UX) dalam setiap aplikasi yang digunakan sehari-hari, baik aplikasi komunikasi, e-commerce, maupun sistem pembelajaran. Cobalah mengamati aplikasi yang sering Anda gunakan: apakah mudah dipahami, konsisten, dan tidak membebani pengguna. Dengan membiasakan sudut pandang ini, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna yang kritis, tetapi juga mampu merancang aplikasi yang lebih ramah, efektif, dan benar-benar berorientasi pada kebutuhan pengguna di masa depan

 

Branding Universitas Muhammadiyah Riau

Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran Mata Kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau. Untuk informasi lebih lanjut tentang program studi kami, kunjungi https://www.umri.ac.id

 

Daftar Pustaka

 

1.    Harshali Rohit Kadaskar. (2024). Enhancing User Experience in Mobile Application Design through Gestural Interaction: A Human-Computer Interaction Perspective. International Journal of Scientific Research in Modern Science and Technology, 3(8), 01–06. https://doi.org/10.59828/ijsrmst.v3i8.239

2.    Lu, G., Qu, S., & Chen, Y. (2025). Understanding user experience for mobile applications : a systematic literature review. Discover Applied Sciences, 690. https://doi.org/10.1007/s42452-025-07170-3

3.    Nuñez, I., Cano, E. E., Cruz, E., Concepción, D., Navarro, N., & Rovetto, C. (2024). Improving Usability in Mobile Apps for Residential Energy Management: A Hybrid Approach Using Fuzzy Logic. Applied Sciences (Switzerland), 14(5). https://doi.org/10.3390/app14051751

4.    Oktaroza, M. L., & Setiawan, A. (2025). Efektivitas Dan Usability User Interface Dalam Aplikasi Modern: Tinjauan Sistematis Melalui Studi Literatur Review. Jurnal Manajemen Terapan Dan Keuangan, 14(2), 475–486. https://doi.org/10.22437/jmk.v14i2.43273

5.    Septiani Kurnia, & Nur Nawaningtyas. (2024). Analisis Interaksi Pengguna dalam Desain User Interface dan User Experience yang Lebih Baik Menggunakan Metode Heuristik. Jurnal Teknik Mesin, Industri, Elektro Dan Informatika, 3(4), 113–119. https://doi.org/10.55606/jtmei.v3i4.4433