Menemukan Masalah Usability Aplikasi Dengan Heuristic Evaluation

Menemukan Masalah Usability Aplikasi Dengan Heuristic Evaluation
Muhammad Naufal 240401246

 
Universitas Muhammadiyah Riau, Indonesia

Correspondence: E-mail: 240401246@student.umri.ac.id,

Mahasiswa Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau

 

Lead / Hook

            Pernah membuka sebuah aplikasi lalu berhenti sejenak karena tidak yakin harus menekan bagian yang mana terlebih dahulu? Tampilan terlihat penuh dengan tombol dan fitur, tetapi justru membuat pengguna ragu menentukan langkah awal. Situasi seperti ini cukup sering dialami dalam penggunaan aplikasi sehari-hari. Permasalahan tersebut umumnya bukan karena pengguna kurang memahami teknologi, melainkan karena desain antarmuka belum sepenuhnya mendukung kemudahan penggunaan.

Pendahuluan

Usability menjadi aspek penting dalam menentukan apakah sebuah aplikasi dapat diterima dengan baik oleh pengguna. Tampilan yang menarik secara visual tidak selalu berbanding lurus dengan kemudahan penggunaan. Ketika pengguna harus berpikir terlalu lama hanya untuk memahami fungsi dasar aplikasi, pengalaman penggunaan akan terasa kurang efektif.

Dalam kajian Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), terdapat berbagai metode untuk menilai tingkat usability sebuah sistem. Salah satu metode yang sering digunakan adalah heuristic evaluation, yaitu pendekatan evaluasi yang bersifat cepat dan sistematis(Rosyidah & Andarwati, 2026). Metode ini membantu evaluator menemukan masalah usability berdasarkan prinsip-prinsip umum tanpa harus melibatkan banyak pengguna sejak awal.

Isi Utama

1.      Penjelasan Konsep Heuristic Evaluation

Heuristic evaluation merupakan teknik evaluasi usability yang dilakukan dengan cara menelaah antarmuka aplikasi berdasarkan seperangkat prinsip usability yang telah ditetapkan, salah satunya adalah 10 Heuristik Nielsen. Prinsip-prinsip ini mencakup aspek seperti kejelasan sistem, konsistensi tampilan, pencegahan kesalahan, hingga kemudahan pengguna dalam mengenali fungsi tanpa harus mengingat terlalu banyak langkah.

Dalam praktiknya, evaluator akan mencoba menggunakan aplikasi layaknya pengguna biasa, lalu mencocokkan setiap elemen antarmuka dengan prinsip heuristik yang relevan. Dari proses ini, evaluator dapat mencatat bagian-bagian yang berpotensi menimbulkan kebingungan, kesalahan, atau beban berpikir berlebih. Metode ini tidak bertujuan menilai seberapa canggih sebuah aplikasi, melainkan seberapa mudah aplikasi tersebut dipahami dan digunakan.

Heuristic evaluation sering dimanfaatkan pada tahap awal pengembangan sistem karena relatif cepat dan tidak membutuhkan sumber daya besar. Hasil evaluasi ini biasanya menjadi dasar awal sebelum dilakukan pengujian usability yang melibatkan pengguna secara langsung.

2.      Heuristic Evaluation dan Pengalaman Pengguna

 Pengalaman pengguna tidak hanya dipengaruhi oleh tampilan visual, tetapi juga oleh bagaimana sistem berkomunikasi dengan penggunanya. Ketika sebuah aplikasi tidak memberikan umpan balik yang jelas, menampilkan istilah yang asing, atau menyajikan terlalu banyak pilihan dalam satu layar, pengguna akan membutuhkan usaha mental yang lebih besar untuk memahami apa yang sedang terjadi.

Melalui heuristic evaluation, permasalahan-permasalahan tersebut dapat diidentifikasi secara sistematis.(Silalahi et al., 2024) Evaluator dapat melihat di mana pengguna berpotensi kehilangan arah, merasa ragu, atau melakukan kesalahan. Dari sudut pandang pengguna, masalah kecil seperti ikon yang ambigu atau menu yang tersembunyi dapat berdampak besar pada kenyamanan penggunaan.

Dengan memahami hubungan antara prinsip heuristik dan pengalaman pengguna, desainer dapat merancang antarmuka yang lebih intuitif, sehingga pengguna dapat mencapai tujuannya dengan lebih cepat dan tanpa rasa frustrasi.

3.      Peran Heuristic Evaluation dalam Mendesain Interface yang Empatik

Heuristic evaluation memberikan kontribusi penting dalam proses perancangan antarmuka aplikasi. Dengan metode ini, pengembang dan desainer dapat mengidentifikasi potensi masalah usability sejak tahap awal, sebelum aplikasi digunakan secara luas oleh pengguna.(Fachrezi et al., 2025)

Selain menghemat waktu dan biaya perbaikan, heuristic evaluation juga membantu membangun sudut pandang yang lebih empatik terhadap pengguna. Desainer tidak hanya berfokus pada fungsi teknis, tetapi juga pada kenyamanan dan kemudahan penggunaan. Hasil evaluasi ini dapat menjadi dasar untuk perbaikan desain yang lebih terarah dan berdampak langsung pada kualitas pengalaman pengguna.

 

Contoh Penerapan pada Aplikasi

1.     
 Instagram

 

 

               Instagram masih menunjukkan beberapa masalah yang berkaitan dengan kenyamanan penggunaan jika dilihat melalui heuristic evaluation. Saat proses unggah konten, aplikasi tidak selalu memberikan informasi yang jelas apakah proses sedang berlangsung atau mengalami kendala, sehingga pengguna cenderung menunggu tanpa kepastian. Selain itu, beberapa fitur penting seperti pengaturan privasi dan arsip berada cukup dalam di menu, sehingga pengguna harus mengingat langkah-langkah tertentu untuk mengaksesnya dan hal ini dapat meningkatkan beban kognitif, terutama bagi pengguna baru.

2.     
YouTube

 

               Pada YouTube, masalah usability terlihat pada tampilan beranda yang terlalu padat dengan berbagai rekomendasi video. Banyaknya pilihan dalam satu layar dapat membuat pengguna kesulitan menentukan video yang ingin ditonton dan mengurangi fokus pada tujuan utama. Selain itu, perubahan tata letak fitur yang dilakukan secara berkala berpotensi membingungkan pengguna lama karena mereka perlu menyesuaikan kembali kebiasaan berinteraksi dengan antarmuka.

3.     
 Gojek

 

               Dalam heuristic evaluation pada aplikasi Gojek, masalah usability lebih banyak ditemukan pada kompleksitas fitur. Gojek menyediakan berbagai layanan dalam satu aplikasi, mulai dari transportasi, pembayaran, hingga pesan-antar makanan. Banyaknya pilihan ini berpotensi melanggar prinsip flexibility and efficiency of use bagi pengguna baru.

               Selain itu, beberapa pesan kesalahan atau notifikasi sistem masih bersifat umum dan kurang informatif. Hal ini menunjukkan adanya pelanggaran terhadap prinsip help users recognize, diagnose, and recover from errors, karena pengguna tidak selalu mendapatkan petunjuk yang jelas mengenai tindakan yang harus dilakukan.

Kesimpulan

     Heuristic evaluation merupakan metode yang efektif untuk menemukan masalah usability pada aplikasi digital. Melalui contoh Instagram, YouTube, dan Gojek, dapat dilihat bahwa aplikasi yang sering digunakan orang awam sekalipun masih memiliki potensi masalah usability.

Memahami heuristic evaluation membantu desainer dan pengembang menciptakan antarmuka yang lebih ramah pengguna.(Zuli, n.d.)

Branding UMRI

Artikel ini disusun sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer pada Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau.di

www.umri.ac.id

DAFTAR PUSTAKA

Fachrezi, M. R., Aryanda, H., Farhan, M., Aqila, D., & Walidein, A. D. (2025). Analisis Usability Aplikasi Perpustakaan Nasional Melalui Pendekatan Heuristic Evaluation Berbasis Human Computer Interaction. 6(2), 74–79.

Rosyidah, N. I., & Andarwati, M. (2026). Evaluasi Usability Aplikasi GoPay dan DANA Menggunakan Heuristic Evaluation. 4(3), 1840–1849.

Silalahi, M. R., Michelli, L. M., Umayasyah, H., Alim, D., & Zen, B. P. (2024). Evaluasi Heuristik Dan System Usability Scale UI / UX pada Aplikasi “ Makan Kuy .” 18(1), 57–67.

Zuli, F. (n.d.). EVALUASI USER INTERFACE PADA WEBSITE CHOIREXPRESS . CO . ID MENGGUNAKAN METODE. 7(1), 24–34.