Menciptakan Kesetaraan di Dunia Digital
Menciptakan Kesetaraan di Dunia Digital
Penulis: Muhammad Rafi, 240401055@student.umri.ac.id
Mahasiswa Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau
Abstrak
Pada era yang serba digital ini, sering kali pengembangan produk digital mengabaikan sebagian kecil kelompok pengguna dan hanya menfokuskan pada pada sebagian besar pengguna. Artikel ini menjelaskan mengenai kesetaraan akses digital dengan pendekatan konsep Desain Inklusif. Merujuk pada metodelogi studi literatur, artikel ini membahas mencakup empat pilar utama, yaitu filosofi desain inklusif, adaptasi untuk buta warna, dan strategi lisan bagi lansia. Statistik kepuasan pengguna dan kemandirian suatu kelompok tertentu mengalami peningkatan, hasil dari penerapan desain inklusif. Kini, desain yang inlusif bukan hanya sebagai fitur, melainkan sebuah kebutuhan
Pendahuluan
Antara contoh situasi yang menunjukkan kita membutuhkan desain yang inklusif adalah ketika kita memesan grab saat sedang menggendong belanjaan. Selain itu, ketika kita kesulitan untuk melihat layar smartphone ketika di bawah terik matahari. Contoh-contoh ini menunjukkan kita membutuhkan desain yang inkusif.
Seiring dengan perkembangan aplikasi mobile, kebutuhan antarmuka yang intuitif dan berpusat pada pengguna juga ikut meningkat (Jamal & Hashmat, n.d.). Namun, ramai dari para pengembang aplikasi sering alpa tentang keunikan kemampuan dari setiap manusia. Desain yang inklusif hadir untuk menyelesaikan masalah ini. Terdapat satu konsep menarik yang disebut Solve for One, Extend to Many (Selesaikan untuk satu orang, perluas untuk ramai orang). Dalam perkuliahan IMK di Universitas Muhammadiyah Riau, kami mempelajari supaya desain antarmuka dapat dinikmati oleh segala jenis lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Bagaimana Kita Mengukur Inklusifitas?
Para peneliti menggunakan metode yang komprehensif demi memahami efektifitas dari desain inklusif. Evaluasi aksesibilitas dilakukan melalui Sytematic Review terhadap aplikasi dengan fokus pada pengalaman penggunaan aplikasi.
Kelompok target seperti lansia akan dilibatkan langsung dalam pengujian kegunaan aplikasi. Hal ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepuasan pengguna, efisiensi waktu dalam menyelesaikan tugas dan jumlah kesalahan yang dilakukan oleh pengguna. Memastikan pemilihan warna yang sudah mengikuti standar aksesibilitas global bisa dengan melakukan Scooping Review (Geddes et al., 2025)
Menghargai Keunikan Setiap Manusia
Kebanyakan orang memaknai disabilitas hanya pada disabilitas fisik, padahal disabilitas lebih luas daripada sekedar fisik. Hal ini dinamai sebagai Neurodiversity (Neurodiversitas) (Tcherdakoff et al., 2025). Neurodiversitas mencakup disabilitas seperti ADHD, Autisme dan disleksia, dan ini adalah hal yang baru dalam dunia interaksi manusia dan komputer (IMK). Seringkali pengidap disabilitas ini sering diabaikan oleh masyarakat karena tidak terlihat secara gamblang. Hal ini dapat menimbulkan masalah bagi penghidapnya ketika menggunakan sebuah teknologi atau teknologi.
Contohnya, antarmuka yang terlalu ramai animasi dan warna yang terlalu mencolok bisa menyebabkan stress dan kebingungan bagi penghidap neurodivergen. Fungsi dari penerapan desain inklusif pada aplikasi adalah bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang ramah terhadap Neurodiversitas sehingga nyaman dan betah menggunakan aplikasi kita. Memberi kendali penuh kepada pengguna untuk menggunakan aplikasi kita, termasuk Neurodiversitas, merupakan tanda yang kita menghargai keunikan dari setiap manusia.

(Contoh aplikasi yang ramah dengan Neodiversitas)
Notion menjadi aplikasi yang ramah dengan Neodiversitas dikarenakan desain yang sangat minimalis dan dapat dirapikan sesuai dengan keinginan mereka.
Memastikan Semua orang bisa melihat.
Buta Warna atau Color Vision Deficiency (CVD) dialami oleh 1 dari 12 pria di dunia. Hal ini bisa menjadi tantangan bagi mereka saat membedakan tombol yang berwarna hijau dan tombol yang berwarna merah. Efeknya, mereka akan kebingungan saat menggunakan aplikasi.
Solusi dari masalah ini adalah dengan tidak hanya mengandalkan satu warna sebagai indikator informasi, apalagi menghindari warna (Geddes et al., 2025). Praktik yang disarankan adalah :
1. Penanda Ganda : Selalu sertakan ikon atau label pada setiap indicator warna.
2. Kontras yang Tajam : Menggunakan warna yang kontras yang sesuai dengan WCAG (Web Content Accessibility Guidleine).
3. Teknologi Rekolorisasi : Menyediakan fitur yang dapat merubah tampilan warna aplikasi sesuai dengan kebutuhan pengguna yang mengalami masalah buta warna, seperti Protanopia. Hal ini bertujuan agar pengguna merasa dihargai dan betah untuk menggunakan aplikasi dalam waktu yang lama.

(Contoh aplikasi yang ramah dengan orang yang buta warna)
Spotify menjadi aplikasi yang ramah dengan orang yang mengalami buta warna dikarenakan Spotify memanfaatkan ikon animasi gelombang suara di samping judul lagu. Hal ini dapat memberi indikasi kepada pengguna bahwa lagunya sedang diputar tanpa harus bingung menunggu perubahan warna.
Desain untuk Lansia
Diprekdisi populasi lansia pada tahun 2050 akan melebih 1,5 miliar jiwa. Manusia mengalami penurunan fungsi kognitif seiring dengan bertambahnya usia. Lansia sering mengalami kesulitan dalam memproses informasi yang kompleks secara cepat. (Bhattacharya et al., 2025).
Demi mendukung kemandirian lansia dalam menggunakan produk digital, ada beberapa Langkah yang efektif :
· Target Sentuhan Besar: Misalnya, memastikan tombol di layer memiliki ukuran yang besar sehingga mudah ditekan.
· Bahasa yang Lugas: Istilah teknis atau modern dapat dihindarkan ketika membangun aplikasi untuk generasi tua.
· Antarmuka yang Multi-modal: Menggabungkan modalitas suara, sentuhan dan getaran dalam satu aplikasi. Hal ini memberi opsi yang lebih kepada pengguna jikalau penggunak mengalamai kesulitan untuk menggunakan salah satu modalitas.

(Contoh aplikasi yang ramah lansia)
Facebook menjadi aplikasi yang ramah lansia dikarenakan simbol dan tombol yang digunakan menyerupai benda nyata. Contohnya tombol lonceng untuk notifikasi, loncengnya seperti bentuk lonceng di dunia nyata. Hal ini dapat membantu lansia untuk memahami fungsi tombol tersebut dengan lebih cepat.
Inovasi Berbasis AI
Pada masa sekarang yang maraknya penggunaan AI, munculah inovasi yang cerdas. Penggunaan Adaptive Interfaces semakin giat dikembangkan dikarenakan dorongan oleh Kecerdasan Buatan (AI).
Hal ini dikatakan demikian karena AI mampu mempelajari tingkah laku pengguna secara real-time. Sebagai contoh, jika seseorang gagal menekan sebuah tombol berkali-kali, AI akan secara otomatis memperbesar tombol tersebut agar mudah ditekan secara akurat oleh pengguna. Hal ini semakin memperkuat bahwa di masa depan teknologi akan mengikuti perilaku manusia.
Etika dan Tanggungjawab Desain
Para pengembang aplikasi dapat menunjukkan rasa tanggungjawab dan empatik dengan mendesain antarmuka secara inklusif. Saat ada pengguna yang tidak dapat meenggunakan aplikasi kita secara penuh, kita sedang membatasi hak mereka untuk mandiri. Desain Inklusif adalah cara kita untuk mempersempit jurang antara masyarakat kita dengan neodiversitas.
Kesimpulan
Implementasi Desain Inklusif di dalam aplikasi kita adalah investasi jangka panjang. Rasa empati para desainer terhadap keanekaragaman penggunanya yang akan menentukan keberhasilan sebuah aplikasi.
Teknologi harus menjadi alat pembebasan dan komoditas untuk berkomunikasi tanpa memandang kekurangan seseorang, bukan malah sebaliknya. Jika kita dapat membangun ekosistem yang positif seperti ini, kita tidak hanya canggih secara teknis, tapi juga lebih menghargai martabat setiap manusia. Menurut pendapat anda, apa fitur yang seharusnya ada pada setiap aplikasi untuk mengakomodir neodiversitas?
Branding Umri
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau. Untuk informasi lebih lanjut tentang program studi kami, kunjungi www.umri.ac.id
Daftar Pustaka
· Amouzadeh, E., Dianat, I., Faradmal, J., & Babamiri, M. (2025). Optimizing mobile app design for older adults: Systematic review of age-friendly design. Aging Clinical and Experimental Research, 37(248).
· Bhattacharya, R., Bose, D., Rodriguez, R. V., KD, H., & Siddique, K. R. (2025). Personalized multi-modal interfaces for cognitive aging: A narrative review of design and technological innovations. Archives of Gerontology and Geriatrics Plus, 2(100206).
· Geddes, C., Eggertson, E. C., Sutton, J., & Tigwell, G. W. (2025). Designing for Colour Vision Deficiency: A scoping review of resources that support designers in choosing accessible colours. ASSETS '25: Proceedings of the 27th International ACM SIGACCESS Conference on Computers and Accessibility
· Jamal, A., & Hashmat, S. (2025). Innovations in UI/UX design of mobile applications: Trends, practices and challenges. Spectrum of Engineering Sciences, 3(5), 637–653.
· Tcherdakoff, N. A., Stangroome, G. J., Milton, A., Holloway, C., Cecchinato, M. E., & Nonnis, A. (2025). Designing for neurodiversity in academia: Addressing challenges and opportunities in human-computer interaction. CHI EA '25: Extended Abstracts of the CHI Conference on Human Factors in Computing Systems.