Mengenal Metode Evaluasi Usability untuk Pengalaman Pengguna yang Lebih Baik

Mengapa Kita Sering Bingung Menggunakan Aplikasi?
Mengenal Metode Evaluasi Usability untuk Pengalaman Pengguna yang Lebih Baik

Pernahkah Anda merasa kesal karena tidak menemukan fitur yang diinginkan dalam sebuah aplikasi? Anda ingin memesan makanan, melakukan transaksi, atau mencari satu fitur kecil, tetapi malah bingung untuk menemukannya, Anda tidak sendirian. Banyak pengguna merasa bingung bukan karena kurang paham teknologi, tetapi karena desain aplikasi yang belum memperhatikan kemudahan penggunaan.

Heuristic Evaluation: Cara Cepat Menemukan Masalah Usability

Heuristic Evaluation adalah metode evaluasi usability yang dilakukan dengan cara membandingkan antarmuka sistem terhadap prinsip-prinsip usability, seperti visibility of system status, consistency, dan error prevention. Proses ini tidak melibatkan pengguna secara langsung, melainkan mengandalkan penilaian dan pengalaman penguji.

Metode ini dikenal cepat dan efisien, sehingga sering digunakan pada tahap awal pengembangan aplikasi. Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa evaluasi heuristik mampu membantu menemukan masalah usability dasar sebelum sistem diuji langsung oleh pengguna.

Contohnya :

Pada aplikasi OVO, heuristic evaluation menilai kejelasan status transaksi, konsistensi tampilan menu, dan pencegahan kesalahan seperti konfirmasi sebelum pembayaran. Metode ini berguna untuk menemukan masalah usability sejak awal.

Usability Testing: Melihat Langsung Cara Pengguna Berinteraksi

Usability testing melibatkan pengguna yang diminta menyelesaikan tugas dalam sistem. Penguji mengamati apakah pengguna dapat menyelesaikan tugas dengan mudah, cepat, dan tanpa kesalahan. Metode ini penting karena sering kali terdapat perbedaan pemikiran antara pengembang dan pengalaman pengguna. Usability testing membantu mengurangi perbedaan tersebut.

Contoh pada aplikasi OVO:

Pengguna diminta mencari fitur Pulsa di aplikasi OVO. Meskipun fitur tersebut tersedia, sebagian pengguna kesulitan menemukannya karena berada di menu tersembunyi. Hasil ini menunjukkan perlunya perbaikan pada struktur navigasi agar lebih mudah dipahami.

System Usability Scale (SUS): Cara Mengukur Usability dengan Angka

System Usability Scale (SUS) adalah instrumen pengukuran usability berbasis kuesioner yang terdiri dari 10 pernyataan. SUS menghasilkan skor numerik yang merepresentasikan persepsi pengguna terhadap kemudahan penggunaan sistem.

Skor SUS memudahkan pengembang untuk:

·       Membandingkan usability antar sistem

·       Mengevaluasi perbaikan dari versi ke versi

·       Mengambil keputusan berbasis data

Data terbaru menunjukkan bahwa SUS sangat efektif jika digabungkan dengan metode kualitatif seperti usability testing dan think-aloud.

A/B Testing: Membuat Keputusan Desain Berbasis Data

A/B Testing digunakan untuk membandingkan dua versi desain (A dan B) dan melihat mana yang memberikan hasil lebih baik berdasarkan data perilaku pengguna. Metode ini umum digunakan pada tahap optimasi desain.

Elemen yang sering diuji antara lain:

·       Warna dan posisi tombol

·       Teks call-to-action

·       Tata letak halaman

Contoh kasus:

Versi A menggunakan tombol “Daftar”, sedangkan versi B menggunakan “Daftar Sekarang”. Data menunjukkan bahwa versi B menghasilkan tingkat klik lebih tinggi, karna mendorong pengguna untuk segera melakukannya sehingga meningkatkan kemungkinan pengguna menekan tombol tersebut.

Think-Aloud Protocol: Memahami Pikiran Pengguna Saat Berinteraksi

Dalam Think-Aloud Protocol, pengguna diminta mengungkapkan apa yang mereka pikiran saat menggunakan aplikasi. Metode ini memberikan pemahaman mendalam tentang alasan di balik tindakan pengguna.

Metode ini sangat berguna untuk memahami kebingungan yang tidak selalu terlihat dari hasil kuantitatif.

Contoh:
Pengguna melakukan pembayaran tagihan internet di aplikasi OVO lalu berkata, “Saya mau bayar internet… kok nggak ketemu ya menunya? Oh, ternyata ada di bagian ini, tapi agak tersembunyi.” Pernyataan ini menunjukkan masalah visibility dan navigasi fitur.

Berikut adalah infografis perbandingan setiap Metode Evaluasi Usability :


Gambar 1. Perbandingan Metode Evaluasi Usability

Demo Audit Aksesibilitas: Studi Kasus Website WuxiaWorld

Sebagai penerapan langsung evaluasi usability, penulis melakukan audit aksesibilitas sederhana pada halaman utama website WuxiaWorld.

Hasil audit menunjukkan bahwa warna pada teks tambahan seperti rating dan status konten masih relatif rendah dibandingkan latar belakang gelap, ini berpotensi menyulitkan pengguna dengan gangguan penglihatan. Selain itu, halaman sangat bergantung pada gambar cover novel sebagai sumber informasi utama, yang dapat menjadi hambatan bagi pengguna screen reader jika tidak disertai teks alternatif yang memadai.

Dari sisi usability, visual sudah cukup jelas, namun call-to-action utama belum ditampilkan secara maksimal sehingga pengguna baru mungkin tidak langsung memahami langkah berikutnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun desain visual menarik, peningkatan pada aspek aksesibilitas dan kejelasan interaksi masih diperlukan agar pengalaman pengguna menjadi lebih inklusif dan efektif.

Kesimpulan: Evaluasi Usability sebagai Kunci Desain yang Manusiawi

Kebingungan pengguna bukan kesalahan mereka. Itu tanda bahwa sistem belum mudah digunakan. Kita bisa pakai heuristic evaluation, usability testing, SUS, A/B testing, dan think-aloud protocol untuk melihat masalah dari berbagai sisi.

Sebagai mahasiswa Teknik Informatika, kita perlu tahu cara evaluasi usability. Ini membantu kita membuat sistem yang mudah dipakai dan nyaman untuk pengguna.

👉 Menurut kamu, metode evaluasi usability mana yang paling bagus untuk aplikasi yang sering kamu pakai?

Artikel ini ditulis sebagai pembelajaran mata kuliah  Interaksi Manusia dan Komputer di program studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau, Kami belajar bukan hanya sekedar teori desain antarmuka, tapi juga praktik evaluasi usability yang fokus pada pengguna.

Kamu bisa melihat informasi lebih lengkap tentang Prodi Teknik Informatika di Universitas Muhammadiyah Riau dengan mengunjungi https://www.umri.ac.id

Referensi

  1. ISO. (2018). ISO 9241-11: Ergonomics of human-system interaction — Usability.
  2. Nielsen, J., & Molich, R. (2023). Heuristic Evaluation of User Interfaces. Nielsen Norman Group.
  3. Brooke, J. (1996). System Usability Scale (SUS): A Quick and Dirty Usability Scale.
  4. Silalahi, M. R., et al. (2024). Evaluasi usability aplikasi mobile menggunakan Heuristic Evaluation dan SUS. Jurnal Media Sisfo.
  5. Kamilia, T., et al. (2024). Analisis usability aplikasi layanan publik menggunakan think-aloud protocol. Jurnal Informatika dan Teknik Elektro Terapan.

 

Disclosure Penggunaan AI

Penulisan artikel ini dibantu oleh AI hanya untuk keperluan brainstorming, penyusunan outline, serta pengecekan tata bahasa dan proofreading. Seluruh isi utama artikel merupakan hasil pemahaman pribadi, pemikiran dan analisis penulis. AI tidak digunakan untuk menghasilkan seluruh atau sebagian besar konten artikel ini.