Konsistensi Ikon: Bahasa Visual Universal di Media Sosial

Oleh: M. Fauzan Pratama Putra – Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Riau

 

Bayangkan Jika Anda mengubah bahasa pada aplikasi instagram. Anda tidak mengerti dengan bahasanya tetapi Anda bisa mengunakanya. seperti untuk mengirimkan pesan, menyukai postingan dan coment postingan.

Kenapa bisa begitu? Jawabanya yaitu konsitensi ikon

Dalam User Interface icon bukan hanya di jadikan sebagi pajangan. Ikon dapat berfungsi sebagai membantu bahasa berbagai negara. Di Universitas Muhammadiyag Riau, Kami mempelajari bahwa mematuhi standar visual adalah kunci dari meciptakan aplikasi yang bagus dan mudah digunakan.

 

Mengapa Kita Membutuhkan Standar Visual?

Otak manusia memproses visual 60.000 kali lebih cepat daripada teks. Namun, kecepatan ini hanya berlaku jika otak mengenali bentuk tersebut.

Ini berkaitan erat dengan prinsip psikologi desain yang disebut Jakob’s Law. (Dirgantara and Suartana 2025)Hukum ini menyatakan bahwa pengguna menghabiskan sebagian besar waktunya di aplikasi lain. Artinya, mereka mengharapkan aplikasi Anda bekerja (dan terlihat) sama seperti aplikasi populer yang sudah mereka kenal, seperti Instagram.

Jika seorang deeloper menganti ikon berbagi mengunakan ikon sampah, maka pengguna kemungkinan diam sejenak dan bingung dan bertanya – tanya “Kenapa ikon ini di ganti ini??” “Kenapa ikonya tidak sesuai dengan fungsi?”

 

Penerapan pada ikon

Penerapan ikon tiga serangkai selalu sama untuk berbagai negara seperti ikon save postingan, komentar dan berbagi.(Muttaqin et al. 2025)

Share (berbagi)

Ikon Share/Berbagi sekarang mengunakan ikon pesawat/panah. Pada versi sebelumnya atau pada android lama masih menggunakan ikon titik.

 

Comment (Komentar)

Ikon Comment atau komentar di gambarkan dengan gelembung (speech bubble), Tidak perlu di beri label “Komentar disini”. Penguna juga sudah Tahu fungsinya hanya dengan melihat bentuk ikon tersebut.

 

Save (Simpan)

Namun di media sosial, ikon "Save" telah berubah menjadi Pita Bookmark. Ini mengubah mental model dari "menyimpan file data" menjadi "menandai halaman" untuk dibaca nanti.

 

Tips untuk Desainer saat desain aplikasi:

Bagaimana cara menerapkan agar desain yang mudah di gunakan oleh pengguna?

  •         Jangan mengunakan ikon yang sembarangan seperti tombol delete atau menghapus pesan mengunakan ikon pintu maka desain tersebut kurang nyaman dilihat dan penguna akan kebingungan
  •         Gunakanlah material icon yang terpercaya seperti Google icons, yang dimana icons tersebut sudah sesuai dengan global
  •         Konsentasi pada warna yang menarik dan memikat untuk para pengguna

 

Kesimpilan

Ikon adalah bahasa global, bukan sekadar dekorasi. Dengan menerapkan prinsip konsistensi dan aturan Jakob's Law, aplikasi akan menjadi intuitif karena konsisten dengan konsep/user mental. Job desainer adalah untuk mentauhi standar visual global ini supaya aplikasi langsung mudah digunakan tanpa menyul

 

Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau. Untuk informasi lebih lanjut tentang program studi kami, kunjungi www.umri.ac.id

 

Referensi:

https://lawsofux.com/jakobs-law/

Dirgantara, Satria Duta, and I Made Suartana. 2025. “Perancangan Ulang Desain UI / UX Pada Aplikasi Tropica Menggunakan Metode Double Diamond.” 06: 1049–62. https://doi.org/10.26740/jinacs.v6n04.p1049-1062

Muttaqin, Alif Noorachmad, Muharman Lubis, Magister Sistem Informasi, Universitas Telkom, Manajemen Informatika, Aesthetic-usability Effect, Fitts Law, et al. 2025. “PENERAPAN LAW OF UX DALAM ANALISIS DESAIN ANTARMUKA.” 7(2): 775–87. https://doi.org/10.52005/jursistekni.v7i2.473