kenapa aplikasi kebanyakan ribet? mungkin jawabannya di heuristic
Pernah buka aplikasi terus langsung ngerasa capek, padahal baru beberapa detik? Tombolnya ada, tapi nggak jelas fungsinya. Menu ada banyak, tapi malah bikin bingung. Biasanya kita langsung nyimpulin, “Ini aplikasi nggak enak dipakai,” tanpa mikir panjang.Di IMK, rasa “nggak enak” itu sebenarnya bisa dijelasin. Salah satunya lewat yang namanya heuristic evaluation.
Heuristic evaluation itu cara sederhana buat ngecek apakah sebuah sistem ramah buat pengguna atau nggak. Nggak perlu alat ribet, nggak perlu nunggu banyak user. Cukup pakai prinsip-prinsip dasar yang fokus ke pengalaman manusia saat berinteraksi dengan sistem.
Intinya, heuristic bantu kita ngelihat aplikasi dari kacamata pengguna, bukan dari sudut pandang orang yang bikin.Masalah yang sering muncul itu sebenarnya hal-hal kecil. Misalnya, habis klik tombol tapi sistem nggak ngasih respon apa-apa. Pengguna jadi ragu, ini prosesnya jalan atau enggak. Atau error muncul, tapi pesannya nggak jelas dan malah nyuruh “coba lagi”. Hal kayak gini kelihatannya sepele, tapi bikin orang kesel.
Contoh lain yang sering banget ditemui ada di bahasa yang dipakai aplikasi. Banyak sistem pakai istilah teknis yang cuma dipahami pembuatnya. Padahal pengguna cuma pengen cepat beres. Heuristic ngajarin kalau sistem seharusnya pakai bahasa yang dekat sama dunia nyata pengguna.
Hal-hal ini yang sering bikin aplikasi ditinggal, padahal fungsinya sebenarnya oke.Buat mahasiswa informatika, heuristic evaluation penting karena bikin kita lebih sadar. Kita jadi ngerti kalau sistem yang berhasil dikompilasi belum tentu berhasil dipakai. Kode boleh rapi, tapi kalau pengguna bingung, berarti ada yang salah.
Di mata kuliah IMK di Universitas Muhammadiyah Riau, heuristic evaluation dipelajari supaya mahasiswa nggak cuma mikirin “bisa atau nggak”, tapi juga “dipahami atau nggak” oleh pengguna (www.umri.ac.id).
Heuristic juga kepake di dunia kerja. Banyak tim pakai evaluasi ini di awal buat nyaring masalah sebelum aplikasi dilempar ke pengguna. Lebih baik nemu masalah sekarang daripada nanti dapat komplain.
Intinya, heuristic evaluation itu semacam rem. Dia nahan kita supaya nggak asal ngerasa sistem udah oke cuma karena nggak error. Dengan heuristic, kita dipaksa mikir: kalau aku orang pertama yang pakai ini, aku bakal ngerti nggak?
Makanya, heuristic jadi bagian penting dalam pembelajaran IMK di Universitas Muhammadiyah Riau, supaya mahasiswa informatika bisa bikin sistem yang bukan cuma jalan, tapi juga nyaman dipakai manusia (www.umri.ac.id).
KESIMPULANNYA:
Heuristic evaluation membantu kita melihat kesalahan kecil yang sering diabaikan, tapi berdampak besar ke pengalaman pengguna. Dengan memahami heuristic, mahasiswa informatika bisa bikin sistem yang lebih masuk akal, lebih ramah, dan nggak bikin pengguna frustasi sejak awal.