Kenapa ada aplikasi yang mudah digunakan dan ada juga yang bingung untuk digunakan
Pernah kamu merasa nyaman saat menggunakan satu aplikasi, tapi pusing setengah mati saat mencoba aplikasi lain? Padahal fungsinya mirip. Ternyata, perbedaannya bukan karena kamu tidak tau menggunakanya, tetapi bagaimana sebuah aplikasi itu dirancang.
Pendahuluan:
Dalam mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) di Universitas Muhammadiyah Riau, mahasiswa belajar bagaimana keberhasilan sebuah aplikasi tidak hanya ditentukan oleh teknologinya, tetapi juga oleh pengalaman user (UX) Banyak aplikasi yang gagal bukan karena fiturnya kurang, melainkan karena cara user berinteraksi dengan aplikasi yang terlalu rumit.
Kemudahan atau kebingungan saat menggunakan aplikasi sangat dipengaruhi oleh desain antarmuka (UI), alur navigasi, dan cara informasi disajikan kepada user. Inilah alasan IMK menjadi penting bagi seluruh mahasiswa Teknik Informatika.
Isi Utama:
Mengapa ada aplikasi yang mudah digunakan?
Aplikasi yang mudah digunakan biasanya memiliki desain yang simple, mudah dipahami, dan tombol yang jelas. User tidak perlu berpikir terlalu keras untuk memahami cara kerja aplikasi tersebut. Semua fitur penting sudah terlihat jelas dan mudah diakses.
Aplikasi seperti ini biasanya dirancang dengan pendekatan human-centered design, yaitu desain yang bertujuan pada kebutuhan dan kebiasaan user, bukan hanya keinginan developer.
Mengapa ada aplikasi membingungkan?
Sebaliknya, aplikasi yang membingungkan memiliki terlalu banyak tombol, istilah yang sulit dipahami, atau desain antarmuka (UI) yang berantakan. User harus mencari-cari fitur yang sebenarnya mudah untuk dipahami.
Kebanyakan developer terlalu fokus menambahkan fitur tanpa memikirkan apakah fitur tersebut benar-benar dibutuhkan atau mempermudah user.
Contoh kasus 1: Aplikasi yang mudah dipahami
Aplikasi seperti Spotify dianggap cukup mudah digunakan karena desain antarmuka (UI) sederhana, ikon jelas, dan pilihan lagu yang banyak. Pengguna baru pun bisa langsung paham tanpa tutorial panjang.
Contoh kasus 2: Aplikasi yang membingungkan
Aplikasi layanan pemerintah seperti Coretax sering dianggap membingungkan karena terlalu banyak menu, bahasa formal, dan sulitnya hanya untuk register. Akibatnya, banyak User merasa frustrasi dan malas untuk menggunakannya lagi.

Kesimpulan:
Perbedaan antara aplikasi yang mudah dan membingungkan terletak pada bagaimana aplikasi tersebut dirancang dengan mempertimbangkan experience user (UX). Mahasiswa Teknik Informatika di Universitas Muhammadiyah Riau perlu memahami prinsip IMK agar bisa menciptakan aplikasi yang nyaman dan inklusif bagi semua orang.
Penulis menggunakan bantuan ai sebagai alat bantu untuk proofreading, perapian bahasa, serta pembuatan ilustrasi visual dalam artikel ini
Artikel ini tulis sebagai tugas Mata Kuliah Interaksi Manusia Komputer (IMK) Universitas Muhammadiyah Riau, Teknik Infromatika UMRI HEBAT
Referensi:
Santoso, H. B. (2011). Interaksi Manusia dan Komputer: Teori dan Praktik. Yogyakarta
Pratama, R., & Wibowo, A. (2020). Evaluasi Usability Aplikasi Mobile Menggunakan Metode SUS. Jurnal Sistem Informasi dan Teknologi.