Kenapa Ada Aplikasi yang Bikin Candu dan Ada yang Bikin Emosi? Ini Jawabannya!

Kenapa Ada Aplikasi yang Bikin Candu dan Ada yang Bikin Emosi? Ini Jawabannya!

Pernahkah Anda download aplikasi baru, membukanya, lalu langsung menutupnya 10 detik kemudian karena bingung harus menekan tombol apa? Di sisi lain, ada aplikasi seperti TikTok atau Instagram yang bisa membuat Anda betah berjam-jam tanpa perlu membaca buku panduan. Apa rahasianya? Jawabannya bukan sihir, melainkan penerapan prinsip Interaksi Manusia dan Komputer (IMK).

Dalam dunia pengembangan perangkat lunak, kemudahan penggunaan disebut sebagai Usability. Seringkali, developer terlalu fokus pada fitur canggih namun lupa bahwa pengguna menginginkan kesederhanaan.

Konsistensi Adalah Kunci Aplikasi yang mudah digunakan biasanya mengikuti pola yang sudah umum. Misalnya, tombol "Back" selalu di kiri atas, atau ikon "Gear" selalu berarti pengaturan. Di Universitas Muhammadiyah Riau, mahasiswa Informatika diajarkan bahwa mendesain interface yang "unik" itu boleh, tapi jangan sampai melanggar kebiasaan pengguna (Mental Model). Jika Anda membuat tombol "Simpan" berwarna merah (yang biasanya berarti "Hapus" atau "Bahaya"), pengguna pasti akan bingung.

    Studi Kasus: Marketplace vs Website Pemerintah Mari kita bandingkan dua pengalaman berbeda.

Marketplace mendesain tombol pembelian dengan warna mencolok agar mudah ditemukan.

Aplikasi marketplace mendesain alur belanja semudah mungkin. Tombol "Beli" dibuat besar dan berwarna cerah. Bandingkan dengan beberapa website layanan publik lama yang penuh teks dan link kecil-kecil.

 Navigasi yang terlalu padat membuat pengguna sulit menemukan informasi.

3.      Umpan Balik (Feedback)

Aplikasi yang baik selalu "mengobrol" dengan penggunanya. Saat Anda menekan tombol "Like", ikon berubah menjadi merah. Itu adalah feedback. Tanpa tanda visual ini, pengguna akan ragu: "Apakah tombolnya sudah terpencet atau HP saya yang lemot?"

 Kesimpulan

aplikasi yang membingungkan biasanya terjadi karena developer gagal berempati dengan pengguna. Memahami IMK membantu kita menciptakan teknologi yang manusiawi.


Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau. untuk informasi lebih lanjut tentang program studi kami, kunjungi (https://www.umri.ac.id/).

Referensi:

  1. Krug, S. (2014). Don't Make Me Think, Revisited: A Common Sense Approach to Web Usability. New Riders.