Kebanyakan Pilihan Bikin Bingung? Hick’s Law Punya Jawabannya

Kebanyakan Pilihan Bikin Bingung? Hick’s Law Punya Jawabannya

Ridwan Hanif 240401193
Universitas Muhammadiyah Riau, Indonesia

Correspondence: E-mail: 240401193@student.umri.ac.id,

Mahasiswa Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau

 

Hook

Pernah buka aplikasi dengan niat cepat, tapi malah berhenti lama karena terlalu banyak menu? Kalau iya, itu bukan karena kamu ragu-ragu. Bisa jadi, desain aplikasinya yang membuat otakmu bekerja lebih keras dari seharusnya.

Fenomena ini dijelaskan dalam dunia Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) melalui sebuah prinsip bernama Hick’s Law.

 

Pendahuluan

Di era digital, satu aplikasi bisa memuat puluhan fitur sekaligus. Mulai dari belanja, hiburan, hingga layanan keuangan, semuanya ingin tampil di satu layar.

Namun, semakin banyak pilihan yang diberikan, pengguna justru berpotensi merasa bingung. Kondisi ini dapat menurunkan kenyamanan dan memperlambat proses pengambilan keputusan.

Melalui artikel ini, kita akan membahas bagaimana Hick’s Law menjelaskan masalah tersebut, serta bagaimana prinsip ini diterapkan pada aplikasi populer yang sering digunakan sehari-hari.

 

Pembahasan

Apa Itu Hick’s Law dalam IMK?

Hick’s Law adalah prinsip yang menyatakan bahwa semakin banyak pilihan yang dihadapi seseorang, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan.(Noorachmad Muttaqin et al., 2025)(Noorachmad Muttaqin et al., 2025)

Dalam konteks UX (User Experience), hukum ini digunakan sebagai dasar untuk menyederhanakan desain antarmuka. Tujuannya agar pengguna dapat memahami pilihan dengan cepat tanpa harus berpikir terlalu lama(Noorachmad Muttaqin et al., 2025).(Dirgantara & Suartana, 2025)

Singkatnya, terlalu banyak menu bukan berarti lebih membantu. Justru bisa membuat pengguna berhenti sebelum bertindak.

Mengapa Terlalu Banyak Pilihan Jadi Masalah?

Saat pengguna dihadapkan pada banyak opsi sekaligus, otak harus memproses lebih banyak informasi dalam waktu singkat. Hal ini disebut sebagai beban kognitif, yaitu kondisi ketika kapasitas berpikir pengguna terbebani(Pengaruh et al., 2021).

Beberapa dampak negatif dari kondisi ini antara lain:

  • Pengguna ragu untuk memilih
  • Waktu interaksi menjadi lebih lama
  • Pengalaman terasa melelahkan
  • Pengguna berpotensi meninggalkan aplikasi

Karena itu, desain antarmuka yang efektif bukan soal banyaknya fitur, tetapi bagaimana fitur tersebut disajikan(Noorachmad Muttaqin et al., 2025)

Contoh Praktis Penerapan Hick’s Law

1.     Shopee

Shopee dikenal memiliki fitur yang sangat beragam. Namun, tidak semua fitur ditampilkan sekaligus di halaman utama.

Shopee hanya menonjolkan fitur-fitur yang paling sering digunakan, sementara fitur lain dikelompokkan dalam menu tambahan. Pendekatan ini membantu pengguna fokus pada pilihan utama terlebih dahulu(Noorachmad Muttaqin et al., 2025).

Caption:Pengelompokan fitur utama pada Shopee membantu pengguna mengambil keputusan lebih cepat.

2.     YouTube

YouTube menerapkan Hick’s Law melalui sistem rekomendasi personal. Pengguna tidak langsung disodori banyak kategori, melainkan video yang sesuai dengan minat mereka.

Dengan cara ini, jumlah pilihan yang perlu dipikirkan pengguna menjadi lebih sedikit. Akibatnya, proses memilih konten terasa lebih cepat dan nyaman(Noorachmad Muttaqin et al., 2025).

Caption: Rekomendasi personal YouTube menyederhanakan pilihan pengguna.

3.     Gojek

Aplikasi Gojek merupakan contoh super app yang memiliki banyak layanan dalam satu platform, seperti transportasi, pesan antar makanan, dompet digital, hingga layanan logistik. Banyaknya alternatif layanan ini bisa jadi membingungkan ketika semua kelebihan ditampilkan bersamaan.(Pengaruh et al., 2021)(Dirgantara & Suartana, 2025)

Namun, pada versi terbaru antarmukanya, Gojek melakukan pengelompokan layanan ke dalam kategori yang lebih terstruktur pada halaman utama. Pendekatan ini bertujuan mengurangi beban kognitif pengguna agar proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan nyaman, sesuai dengan prinsip Hick’s Law(Pengaruh et al., 2021)

Caption: Pengelompokan layanan pada halaman utama Gojek membantu pengguna memilih layanan tanpa kebingungan.

Tips Aplikatif Menerapkan Hick’s Law

Prinsip Hukum Hick dapat digunakan oleh pelajar, perancang, dan pengembang dengan cara berikut ini:

  • Batasi jumlah pilihan pada satu layar
  • Kelompokkan menu berdasarkan fungsi
  • Prioritaskan opsi yang paling sering digunakan
  • Gunakan progressive disclosure, tampilkan detail hanya saat dibutuhkan

Intinya, jangan biarkan pengguna berpikir keras hanya untuk melakukan satu klik sederhana.

 

Kesimpulan

Kesimpulan

Hick’s Law menegaskan bahwa kualitas desain antarmuka tidak ditentukan oleh banyaknya fitur, melainkan oleh kemudahan pengguna dalam mengambil keputusan. Terlalu banyak pilihan dapat meningkatkan beban kognitif dan menurunkan kenyamanan pengguna.

Melalui contoh Shopee, YouTube, dan Gojek, terlihat bahwa penyederhanaan pilihan serta pengelompokan menu mampu membuat interaksi menjadi lebih cepat dan intuitif. Oleh karena itu, penerapan Hick’s Law penting bagi pengembang dan mahasiswa Informatika untuk merancang teknologi yang tidak hanya canggih, tetapi juga berorientasi pada kebutuhan manusia.

 

Branding UMRI

Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau. Untuk informasi lebih lanjut tentang program studi kami, kunjungi www.umri.ac.id

 

Daftar pustaka

Dirgantara, S. D., & Suartana, I. M. (2025). Perancangan Ulang Desain UI/UX pada Aplikasi Tropica Menggunakan Metode Double Diamond. Journal of Informatics and Computer Science, 06(4), 1049–1062.

 

Noorachmad Muttaqin, A., Dwi Hary Sandy, M., & Lubis, M. (2025). Penerapan Law of Ux Dalam Analisis Desain Antarmuka Aplikasi Shopee. Jurnal Riset Sistem Informasi Dan Teknologi Informasi (JURSISTEKNI), 7(2), 775–787. https://doi.org/10.52005/jursistekni.v7i2.473

 

Pengaruh, K., User, P., Ui, I., User, T., Ux, E., Kasus, S., Perubahan, P., Aplikasi, I., Versi, G., Atas, K. E., Dwiantono, K. Y., & Ratri, D. (2021). PADA APLIKASI DIGITAL Bandung , Jawa Barat 40132 email : karenyunika@gmail.com PENDAHULUAN PT . Aplikasi Karya Anak Bangsa yang lebih dikenal sebagai Kajian ini menggunakan teori Laws of UX , oleh Jon Yablonski , sebagai sumber literatur utama . Laws of U. 12(2), 124–135.

 

Dirgantara, S. D., & Suartana, I. M. (2025). Perancangan Ulang Desain UI/UX pada Aplikasi Tropica Menggunakan Metode Double Diamond. Journal of Informatics and Computer Science, 06(4), 1049–1062.

 

Noorachmad Muttaqin, A., Dwi Hary Sandy, M., & Lubis, M. (2025). Penerapan Law of Ux Dalam Analisis Desain Antarmuka Aplikasi Shopee. Jurnal Riset Sistem Informasi Dan Teknologi Informasi (JURSISTEKNI), 7(2), 775–787. https://doi.org/10.52005/jursistekni.v7i2.473

 

Pengaruh, K., User, P., Ui, I., User, T., Ux, E., Kasus, S., Perubahan, P., Aplikasi, I., Versi, G., Atas, K. E., Dwiantono, K. Y., & Ratri, D. (2021). PADA APLIKASI DIGITAL Bandung , Jawa Barat 40132 email : karenyunika@gmail.com PENDAHULUAN PT . Aplikasi Karya Anak Bangsa yang lebih dikenal sebagai Kajian ini menggunakan teori Laws of UX , oleh Jon Yablonski , sebagai sumber literatur utama . Laws of U. 12(2), 124–135.