Jago Coding Saja Cukup? Dilema Mahasiswa TI Belajar IMK

Pernahkah kamu membuat sebuah program yang berjalan sempurna tanpa error, tetapi ketika dicoba oleh orang lain justru membuat mereka bingung? Sebagai mahasiswa Teknik Informatika, kita sering kali terlalu fokus pada logika backend dan fungsionalitas sistem.

Terkadang kita lupa bahwa ada manusia nyata yang akan berinteraksi langsung dengan aplikasi tersebut. Di sinilah peran penting mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK). IMK mengajarkan bahwa sebuah aplikasi tidak hanya dinilai dari kecanggihan kodenya, tetapi juga dari seberapa mudah aplikasi tersebut dipahami oleh penggunanya.

Haruskah Menguasai Segalanya?

Sering muncul perdebatan: apakah setiap pengembang harus menguasai desain? Secara realistis, setiap individu memiliki fokus kompetensi yang berbeda. Ada yang sangat handal dalam arsitektur backend dan pengolahan data, sementara yang lain lebih kuat dalam aspek visual dan pengalaman pengguna (user experience).

Fokus pada baris kode adalah fondasi, namun fungsionalitas saja tidak cukup tanpa antarmuka yang baik.

Memaksakan satu orang untuk menguasai semua bidang secara mendalam tentu kurang efisien, terutama di dunia kerja yang sudah mengenal pembagian peran dan spesialisasi. Namun, memahami dasar-dasar IMK bukan berarti seorang backend developer harus beralih profesi menjadi desainer grafis.

IMK lebih menekankan pada cara berpikir:

  • bagaimana pengguna memahami sistem
  • bagaimana alur interaksi dibangun
  • serta bagaimana meminimalkan kebingungan saat aplikasi digunakan.

IMK Bukan Tentang Jadi Desainer

Di Universitas Muhammadiyah Riau, mata kuliah IMK dipelajari agar mahasiswa Teknik Informatika memiliki perspektif yang lebih luas dalam membangun sistem. Dengan memahami prinsip-prinsip dasar IMK, kita bisa merancang alur sistem yang lebih logis, konsisten, dan ramah pengguna.

Pemahaman ini akan sangat membantu, apa pun peran kita nantinya baik sebagai backend developer, frontend developer, maupun system analyst. Tujuannya bukan untuk membuat semua orang menjadi ahli desain, tetapi agar setiap produk teknologi yang kita buat tetap mudah dipahami oleh pengguna awam.

User experience sendiri tidak hanya berkaitan dengan tampilan visual, tetapi juga mencakup perasaan pengguna saat berinteraksi dengan sistem, mulai dari kemudahan memahami fitur hingga kepuasan setelah menggunakannya, sebagaimana dijelaskan dalam konsep dasar UX oleh Nielsen Norman Group

Belajar dari Kegagalan Aplikasi

Banyak aplikasi gagal karena tidak mempertimbangkan aksesibilitas, seperti ukuran teks yang sulit dibaca atau navigasi yang tidak konsisten. Padahal, menurut panduan aksesibilitas dari Android Developers, desain yang inklusif tidak hanya membantu pengguna berkebutuhan khusus, tetapi juga meningkatkan kenyamanan semua pengguna.

Memahami bagaimana pengguna berinteraksi dengan perangkat adalah kunci utama dalam Interaksi Manusia dan Komputer (IMK)

Kita bisa belajar dari banyak aplikasi layanan publik yang sebenarnya memiliki fitur lengkap dan sistem backend yang kuat, tetapi akhirnya ditinggalkan pengguna. Penyebabnya sering kali bukan karena teknologinya buruk, melainkan karena tampilan yang membingungkan dan alur penggunaan yang terlalu rumit.

Ini menjadi pelajaran penting bagi kita sebagai calon developer. Sehebat apa pun kode di balik layar, jika interaksi antara pengguna dan sistem gagal, maka aplikasi tersebut akan sulit untuk sukses. IMK membantu kita menghindari kesalahan klasik ini dengan menempatkan pengguna sebagai pusat dari perancangan sistem.

Prinsip ini sejalan dengan panduan usability dari Nielsen Norman Group yang menekankan bahwa sistem yang baik harus mudah dipelajari, efisien digunakan, dan meminimalkan kesalahan pengguna (Nielsen, 1994).

Kesimpulan

Jadi, apakah semua orang di bidang IT harus paham desain? Jawabannya kembali pada peran masing-masing. Namun, memahami dasar-dasar IMK adalah hal yang penting agar teknologi yang kita bangun tidak hanya berfungsi dengan baik, tetapi juga benar-benar bermanfaat dan mudah digunakan.

IMK mengajarkan kita bahwa teknologi yang baik bukan hanya soal “bisa jalan”, tetapi juga soal “nyaman dipakai”.

Menurut kamu, apakah adil jika seorang backend developer juga dituntut memahami prinsip-prinsip dasar desain dan pengalaman pengguna? Yuk, bagikan pendapatmu di kolom komentar!

 


Informasi Penulis

Artikel ini disusun oleh mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau, sebagai bagian dari tugas mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK). Informasi lebih lanjut mengenai kampus kami dapat diakses melalui www.umri.ac.id

Referensi

Universitas Muhammadiyah Riau. Materi Perkuliahan Interaksi Manusia dan Komputer:Pengantar Interaksi Manusia dan Komputer.

Nielsen Norman Group. (2020) – User Experience BasicsThe Definition of User Experience (UX) - NN/G

 Nielsen, J. (1994): 10 Usability Heuristics for User Interface Design. Nielsen Norman Group.

Android Developers. (2023): Accessibility Overview

 

Disclosure: Artikel ini disusun dengan bantuan AI untuk proses brainstorming dan penyusunan draf awal, kemudian disunting secara menyeluruh oleh penulis untuk memastikan orisinalitas dan kesesuaian materi.