(Hick’s Law) Mengapa Terlalu Banyak Pilihan Bisa Menjadi Masalah

Pendahuluan

Dalam mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), kita mempelajari bahwa desain antarmuka tidak hanya soal tampilan visual, tetapi juga bagaimana manusia berpikir dan mengambil keputusan. Salah satu prinsip penting yang membahas hal ini adalah Hick’s Law, yaitu hukum yang menjelaskan hubungan antara jumlah pilihan dan waktu yang dibutuhkan pengguna untuk membuat keputusan. Artikel ini membahas konsep Hick’s Law serta penerapannya dalam desain interface digital yang lebih efektif dan ramah pengguna.


Apa Itu Hick’s Law?

Hick’s Law menyatakan bahwa semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk mengambil keputusan. Hukum ini pertama kali dikemukakan oleh William Edmund Hick dan Ray Hyman.

Dalam konteks desain UI/UX, Hick’s Law mengingatkan desainer untuk tidak membebani pengguna dengan terlalu banyak opsi sekaligus, karena hal tersebut dapat meningkatkan kebingungan dan menurunkan pengalaman pengguna.


Mengapa Hick’s Law Penting dalam Desain Interface?

Pengguna aplikasi digital umumnya ingin menyelesaikan tugas dengan cepat dan mudah. Jika antarmuka menampilkan terlalu banyak tombol, menu, atau opsi, pengguna akan:

  • Mengalami cognitive overload

  • Merasa ragu dan tidak yakin

  • Membutuhkan waktu lebih lama untuk bertindak

Dengan menerapkan Hick’s Law, desainer dapat membantu pengguna fokus pada pilihan yang benar-benar penting.


Contoh Penerapan Hick’s Law dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Menu Aplikasi Mobile

Aplikasi seperti Gojek atau Shopee hanya menampilkan beberapa menu utama di halaman awal. Fitur lain disimpan dalam submenu agar pengguna tidak kewalahan.

Ilustrasi 1: Perbandingan menu sederhana vs menu kompleks


2. Formulir Pendaftaran Online

Formulir yang baik membagi proses pendaftaran menjadi beberapa langkah (step-by-step), bukan menampilkan semua pertanyaan sekaligus.

Ilustrasi 2: Form multi-step pada website


3. Mesin ATM

ATM hanya menampilkan beberapa pilihan utama seperti “Tarik Tunai”, “Cek Saldo”, dan “Transfer”. Pilihan lanjutan baru muncul setelah menu utama dipilih.


Tips Aplikatif Menerapkan Hick’s Law

Berikut beberapa cara menerapkan Hick’s Law dalam desain interface:

  • Batasi pilihan utama hanya pada fitur yang paling sering digunakan

  • Gunakan hierarki menu (submenu atau kategori)

  • Kelompokkan pilihan yang serupa

  • Gunakan default option untuk mempercepat keputusan pengguna

  • Hilangkan fitur yang jarang digunakan dari halaman utama

Tips ini sangat relevan bagi mahasiswa dan praktisi desain yang ingin membuat aplikasi lebih efisien dan user-friendly.


Kesimpulan

Hick’s Law menunjukkan bahwa lebih banyak pilihan tidak selalu berarti lebih baik. Dalam desain interface, kesederhanaan justru membantu pengguna mengambil keputusan dengan cepat dan nyaman. Dengan memahami prinsip ini, kita dapat merancang produk digital yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada manusia.

Sebagai mahasiswa yang mempelajari IMK di Universitas Muhammadiyah Riau, pemahaman tentang Hick’s Law menjadi bekal penting untuk menciptakan desain yang tidak hanya menarik, tetapi juga fungsional dan ramah pengguna.


Branding UMRI

Artikel ini ditulis sebagai bagian dari tugas mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK)
Program Studi Teknik Informatika
Universitas Muhammadiyah Riau
🔗 https://www.umri.ac.id


Referensi

  • Norman, D. (2013). The Design of Everyday Things

  • Nielsen Norman Group – UX Psychology Principles

  • Interaction Design Foundation – Hick’s Law