Hick’s Law: Mengapa Terlalu Banyak Pilihan Bisa Menjadi Masalah
Hick’s Law: Mengapa Terlalu Banyak
Pilihan Bisa Menjadi Masalah
Muhammad Zacky Aulia 240401215
Universitas Muhammadiyah Riau, Indonesia
Correspondence: E-mail: 240401215@student.umri.ac.id,
Lead / Hook
Pernah membuka aplikasi belanja, melihat puluhan menu dan filter, lalu justru menutup aplikasinya tanpa membeli apa pun? Masalahnya sering bukan pada produk, tetapi pada terlalu banyak pilihan yang harus diputuskan dalam waktu singkat (Hick, 2008).
PENDAHULUAN
Hick’s Law adalah prinsip yang menjelaskan hubungan antara jumlah pilihan dan waktu yang dibutuhkan seseorang untuk mengambil keputusan. Semakin banyak opsi yang tersedia, semakin lama waktu yang diperlukan untuk memilih. Prinsip ini pertama kali diperkenalkan oleh William Edmund Hick pada tahun 1952 melalui eksperimen reaksi manusia terhadap berbagai jumlah stimulus (Hick, 2008).
Dalam konteks digital saat ini, Hick’s Law menjadi dasar penting dalam desain antarmuka (UI) dan pengalaman pengguna (UX), karena pengguna modern terus dihadapkan pada banjir pilihan di layar mereka (Proctor & Schneider, 2018).
Isi Utama
Dasar Teoretis Hick’s Law
Hick menemukan bahwa waktu reaksi manusia meningkat secara logaritmik seiring bertambahnya jumlah pilihan. Artinya, kenaikan waktu tidak bersifat linear, tetapi tetap signifikan ketika opsi semakin banyak (Hick, 2008).
Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa hukum ini berkaitan erat dengan teori informasi, di mana otak manusia bekerja untuk mengurangi ketidakpastian sebelum mengambil keputusan (Input et al., 2024).
Pilihan Banyak dan Beban Kognitif
Terlalu banyak pilihan meningkatkan beban kognitif karena otak harus membandingkan lebih banyak alternatif dalam waktu bersamaan. Proctor dan Schneider menjelaskan bahwa kondisi ini dapat memperlambat respons, meningkatkan kesalahan, dan menurunkan kepuasan pengguna (Proctor & Schneider, 2018).
Dalam praktiknya, pengguna sering merasa “lelah berpikir” (decision fatigue) dan akhirnya menunda atau bahkan membatalkan keputusan.
Hick’s Law dalam Produk Digital
Dalam desain UI/UX, Hick’s Law digunakan untuk membatasi jumlah menu utama dan menyederhanakan alur navigasi. Studi ergonomi dan human factors menunjukkan bahwa antarmuka dengan opsi terbatas membuat pengguna lebih cepat bertindak dan lebih jarang melakukan kesalahan (Input et al., 2024).
Namun, penelitian terbaru juga menekankan bahwa struktur pilihan ikut berperan. Vigo dkk. menjelaskan bahwa pilihan yang terstruktur dengan baik dapat mengurangi kompleksitas subjektif meskipun jumlah opsinya banyak (Vigo et al., 2023).
Contoh / Ilustrasi
Contoh 1: Netflix

Saat membuka Netflix, pengguna langsung disuguhi puluhan judul film dan serial dalam berbagai kategori. Kondisi ini sering membuat pengguna menghabiskan waktu lama hanya untuk memilih, bahkan akhirnya tidak menonton apa pun. Fenomena ini selaras dengan Hick’s Law, di mana semakin banyak opsi yang ditampilkan, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan (Hick, 2008).
.
Tampilan beranda Netflix dengan banyak kategori dapat memicu choice overload jika tidak dipersonalisasi
Netflix mencoba mengurangi efek ini dengan fitur “Top Picks for You” dan “Continue Watching”, yang berfungsi menyederhanakan pilihan berdasarkan riwayat pengguna (Proctor & Schneider, 2018).
Contoh 2: Aplikasi Shopee


Banyaknya fitur dan filter Shopee menunjukkan bagaimana jumlah piilihan memengaruhi kecepatan keputusan pengguna
Shopee menawarkan banyak kategori, promo, dan filter pencarian dalam satu layar. Bagi pengguna baru, kondisi ini dapat meningkatkan beban kognitif karena terlalu banyak opsi yang harus diproses sekaligus. Menurut kajian Hick-Hyman Law, peningkatan jumlah alternatif secara langsung berdampak pada lamanya waktu respons pengguna (Input et al., 2024).
Shopee mengatasinya dengan menampilkan menu prioritas seperti “Gratis Ongkir” dan “Flash Sale” di bagian awal, sehingga pengguna diarahkan pada pilihan yang paling relevan.
Contoh 3: Aplikasi MyTelkomsel

MyTelkomsel menggabungkan berbagai layanan seperti pembelian paket data, cek pulsa, hiburan, dan promo dalam satu aplikasi. Meski fungsional, banyaknya menu berpotensi membuat pengguna bingung menentukan langkah awal. Hal ini sesuai dengan temuan Proctor dan Schneider bahwa kompleksitas pilihan dapat menurunkan efisiensi interaksi pengguna (Proctor & Schneider, 2018).
Pendekatan MyTelkomsel dengan menu utama berbasis kebutuhan (internet, telepon, SMS) membantu mengurangi kompleksitas awal meskipun fitur di belakangnya tetap banyak (Vigo et al., 2023).
Tips Aplikatif Menerapkan Hick’s Law
Agar Hick’s Law dapat diterapkan secara praktis:
- Batasi pilihan utama (5–7 opsi inti)
- Kelompokkan menu berdasarkan fungsi
- Gunakan progressive disclosure untuk opsi lanjutan
- Prioritaskan visual agar pilihan penting lebih menonjol
Pendekatan ini membantu pengguna mengambil keputusan lebih cepat dan percaya diri (Proctor & Schneider, 2018).
KESIMPULAN
Hick’s Law menegaskan bahwa lebih banyak pilihan tidak selalu lebih baik. Dalam desain digital, kesederhanaan justru meningkatkan kecepatan, akurasi, dan kepuasan pengguna. Dengan memahami cara kerja otak dalam menghadapi pilihan, pengembang dan kreator konten dapat merancang pengalaman yang lebih manusiawi dan efektif (Hick, 2008)
.
Call To Action
Mulai sekarang, coba perhatikan aplikasi yang kamu pakai setiap hari. Apakah kamu langsung tahu harus klik ke mana, atau malah bingung karena terlalu banyak menu? Dari sini, kita bisa belajar bahwa desain yang baik bukan soal banyak fitur, tapi soal bagaimana pilihan disusun agar pengguna nyaman dan tidak berpikir terlalu lama.
Branding Universitas Muhammadiyah Riau
Artikel ini disusun sebagai bagian dari kajian Interaksi Manusia dan Komputer oleh Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau. https://www.umri.ac.id
Daftar Pustaka
Hick, W. E. (2008). Quarterly Journal of Experimental On the rate of gain of information. January 2013, 37–41.
Input, I., Part, P., Reaction, C., & Experiments, T. (2024). College of Engineering IE – 341 : “ Human Factors Engineering .” 2024.
Proctor, R. W., & Schneider, D. W. (2018). Hick ’ s law for choice reaction time : A review. https://doi.org/10.1080/17470218.2017.1322622
Vigo, R., Doan, C. A., Wimsatt, J., & Ross, C. B. (2023). A Context-Sensitive Alternative to Hick ’ s Law of Choice Reaction Times : A Mathematical and Computational Unification of Conceptual Complexity and Choice Behavior. 2(1), 1–15.