Hick’s Law: Mengapa Terlalu Banyak Pilihan Bisa Menjadi Masalah
Pernah nggak sih, kamu buka sebuah aplikasi tapi malah berhenti lama karena bingung mau menekan tombol yang mana? Padahal tujuanmu sebenarnya simpel. Anehnya, semakin banyak pilihan yang muncul di layar, justru semakin lama kita mengambil keputusan. Ternyata, hal ini bukan cuma soal kebiasaan atau perasaan—ada penjelasan ilmiahnya.
Pendahuluan
Dalam dunia desain antarmuka digital, banyaknya fitur sering dianggap sebagai keunggulan. Logikanya, semakin lengkap fiturnya, semakin bagus aplikasinya. Namun dalam praktiknya, hal ini tidak selalu benar. Terlalu banyak pilihan justru bisa membuat pengguna merasa kewalahan dan memperlambat mereka dalam mencapai tujuan.
Di sinilah Hick’s Law menjadi sangat relevan. Prinsip ini menjelaskan bagaimana jumlah pilihan memengaruhi kecepatan seseorang dalam mengambil keputusan. Hick’s Law juga menjadi salah satu konsep penting dalam mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), termasuk yang dipelajari di Universitas Muhammadiyah Riau.
Apa Itu Hick’s Law?
Hick’s Law, atau dikenal juga sebagai Hick-Hyman Law, menjelaskan bahwa semakin banyak pilihan yang dihadapi seseorang, maka semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menentukan pilihan.
Sederhananya, otak manusia perlu memproses setiap opsi yang ada. Ketika pilihan terlalu banyak dan tidak tersusun dengan baik, beban berpikir (beban kognitif) pun meningkat. Akibatnya, pengguna menjadi ragu, lambat, atau bahkan salah mengambil keputusan.
Dalam konteks desain UI/UX, hukum ini mengingatkan kita bahwa menyediakan banyak pilihan tidak selalu berarti memberikan pengalaman yang lebih baik.
Mengapa Hick’s Law Penting dalam Desain Interface?
Tujuan utama sebuah interface adalah membantu pengguna melakukan sesuatu dengan cepat dan nyaman. Jika pengguna harus berpikir terlalu lama hanya untuk memilih menu atau tombol, maka desain tersebut belum bekerja secara optimal.
Beberapa dampak yang sering muncul ketika Hick’s Law diabaikan antara lain:
-
Pengguna merasa kewalahan (overwhelmed)
-
Proses pengambilan keputusan menjadi lebih lambat
-
Risiko salah klik semakin besar
-
Pengguna memilih keluar dari aplikasi atau website
Sebaliknya, desain yang memperhatikan Hick’s Law biasanya terasa lebih sederhana, jelas, dan menyenangkan untuk digunakan.
Contoh Penerapan Hick’s Law dalam Kehidupan Sehari-hari
1. Menu pada Aplikasi Smartphone

Aplikasi yang nyaman digunakan umumnya hanya menampilkan sekitar 4–5 menu utama di halaman depan. Fitur lainnya disimpan di submenu. Dengan cara ini, pengguna bisa langsung fokus pada fungsi yang paling penting tanpa harus berpikir terlalu lama.
2. E-Commerce dan Kategori Produk

Marketplace besar seperti Tokopedia atau Shopee tidak menampilkan semua produk sekaligus. Mereka menggunakan kategori, filter, dan fitur pencarian agar pengguna tidak kebingungan saat mencari barang yang diinginkan.
3. Formulir Online
Formulir online yang baik biasanya tidak langsung menampilkan semua pertanyaan dalam satu halaman. Formulir dibagi menjadi beberapa langkah agar pengguna tidak merasa terbebani sejak awal dan lebih nyaman saat mengisinya.
Strategi Desain Berdasarkan Hick’s Law
Beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan oleh desainer antara lain:
-
Batasi pilihan utama
Tampilkan hanya opsi yang paling sering digunakan oleh pengguna. -
Gunakan hierarki visual
Bedakan pilihan utama dan pilihan tambahan dengan ukuran, warna, atau posisi. -
Kelompokkan pilihan (chunking)
Gabungkan opsi yang sejenis ke dalam satu kategori agar lebih mudah dipahami. -
Gunakan pilihan default
Opsi default sangat membantu pengguna yang ingin menyelesaikan tugas dengan cepat tanpa banyak berpikir.
Strategi-strategi ini sering dibahas dan diterapkan dalam pembelajaran IMK di Universitas Muhammadiyah Riau, terutama saat menganalisis desain aplikasi yang digunakan sehari-hari.
Kesimpulan
Hick’s Law mengajarkan bahwa terlalu banyak pilihan justru bisa menjadi penghambat, bukan solusi. Dengan mengatur dan membatasi pilihan secara tepat, desainer dapat menciptakan antarmuka yang lebih efisien, mudah digunakan, dan ramah bagi pengguna.
Memahami prinsip ini tidak hanya membuat kita lebih sadar sebagai pengguna, tetapi juga membantu kita menjadi calon perancang sistem yang lebih peduli pada pengalaman manusia.
Penutup
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau.
Informasi lebih lanjut mengenai Universitas Muhammadiyah Riau dapat diakses melalui https://www.umri.ac.id.