Hick's Law: Mengapa Terlalu Banyak Pilihan Bisa Menjadi Masalah
Hick's Law: Mengapa Terlalu Banyak Pilihan Bisa Menjadi Masalah
Dea Asti Henita
Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer
Universitas Muhammadiyah Riau: www.umri.ac.id
E-mail : 240401297@student.umri.ac.id
Pernah membuka sebuah website atau aplikasi, lalu merasa bingung harus memilih menu yang mana? Pintoan yang sering kali membuat pengguna ragu, atau bahkan membuat pengguna lambat mengambil keputusan, sehingga akhirnya menutup aplikasi tersebut tanpa melakukan apa-apa. Hal ini merupakan situasi yang kerap terjadi dalam kehidupan digital kita setiap harinya dan dapat dijelaskan dalam sebuah prinsip desain yang bernama Hick’s Law.
PENDAHULUAN
Kecepatan pengambilan keputusan juga sangat penting karena dalam desain antarmuka digital, kita harus menghindari pengguna yang bingung. Sistem dengan banyak fitur belum tentu baik ketika pengguna bingung saat penggunaannya. Pada Mata Kuliah IMK di Universitas Muhammadiyah Riau, kami menonton video yang berisi prinsip-prinsip desain antarmuka yang mengambil kursor sebagai dasar design proses terbatas pada dan terbatas oleh kursor. Salah satu prinsip yang dibahas dalam video adalah Hick’s Law. Hick’s Law adalah hukum yang menyatakan bahwa: Semakin banyak pilihannya, semakin lama butuhnya pengguna untuk membuat keputusan.Pemahaman terhadap prinsip ini membantu mahasiswa memahami bahwa desain yang baik bukan hanya tentang kelengkapan fitur, tetapi juga tentang kemudahan dan kenyamanan pengguna.
Apa Itu Hick’s Law?
Hick’s Law atau Hick–Hyman Law adalah prinsip psikologi yang menyatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk membuat keputusan meningkat secara logaritmik seiring bertambahnya opsi. Ia sangat berhubungan dengan bagaimana desain User Interface dan User Experience. Jadi, jika Anda memiliki beberapa opsi atau variabel, Anda harus berfikir tentang hukum Hick. Dalam rangka desain digital, hukum Hick menjelaskan mengapa: Menu yang terlalu banyak terlalu panjang Untuk digunakan, Formulir semakin lama dengan banyak opsi lebih sering ditinggalkan dan Penggunanya ragu, bahkan jika mampu menggunakannya. Jadi, lebih baik jika Anda tidak memiliki terlalu banyak fitur.shortcode.
Mengapa Terlalu Banyak Pilihan Menjadi Masalah?
Memang, otak manusia memiliki batasannya sendiri. Saat pengguna dihadapkan pada terlalu banyak pilihan dalam waktu yang bersamaan, hal ini bisa menyebabkan beberapa hal negatif:
Overload kognitif – kelelahan mental akibat jumlah informasi berlebih
Keputusasaan keputusan – pengguna berubah pikiran pada menit terakhir dan memilih untuk tidak memilih
Error manusia – salah klik, tidak memahami fungsa menu, dan lain-lain
Kepuasan pengguna yang menurun – pengguna sering merasa bahwa pengalaman menjadi terlalu rumit dan melelahkan
Karena itu, kesederhanaan adalah komponen penting dari desain antarmuka yang efektif.
Contoh Praktis Penerapan Hick’s Law
1. Pengelompokan Menu Website
Website yang dirancang dengan baik biasanya mengelompokkan menu ke dalam kategori tertentu. Pengelompokan ini membantu pengguna memindai pilihan lebih cepat tanpa harus membaca semua opsi yang tersedia.
gambar 1 Ilustrasi Aplikasi Belanja Online
Ilustrasi ini menampilkan sebuah aplikasi belanja online pada perangkat smartphone dengan berbagai kategori produk dan pilihan barang yang tersedia. Banyaknya opsi produk yang ditampilkan mencerminkan kondisi yang sering dialami pengguna dalam aplikasi marketplace. Situasi ini relevan dengan prinsip Hick’s Law, di mana semakin banyak pilihan yang diberikan, semakin lama waktu yang dibutuhkan pengguna untuk mengambil keputusan.
2. Penyederhanaan Formulir
Formulir yang terlalu panjang sering membuat pengguna enggan melanjutkan proses. Banyak platform kini menggunakan formulir bertahap atau login cepat untuk mempermudah pengguna dalam mengambil keputusan.
gambar 2
Gambar ini memperlihatkan formulir digital yang disusun secara bertahap agar pengguna tidak dihadapkan pada terlalu banyak isian dalam satu waktu. Dengan adanya pembagian langkah dan opsi login cepat, proses pendaftaran menjadi lebih sederhana dan nyaman. Pendekatan ini mencerminkan prinsip Hick’s Law, di mana pengurangan pilihan membantu pengguna mengambil keputusan dengan lebih cepat.
3. Rekomendasi yang Relevan
Menampilkan rekomendasi berdasarkan kebutuhan atau kebiasaan pengguna dapat mengurangi jumlah pilihan yang tidak relevan, sehingga pengguna dapat mengambil keputusan dengan lebih cepat dan nyaman.
Studi Kasus Singkat: Website Maskapai Penerbangan
Penerapan Hick’s Law dapat ditemukan pada website maskapai penerbangan, khususnya dalam proses pemesanan tiket. Menu utama biasanya dibuat sederhana dan fokus pada kebutuhan utama pengguna, sementara fitur tambahan dikelompokkan dalam menu lanjutan.
Pendekatan ini membantu pengguna agar tidak merasa kewalahan dan dapat menyelesaikan tujuan mereka secara lebih efisien.
Tips Aplikatif Menerapkan Hick’s Law
Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan dalam desain antarmuka berdasarkan prinsip Hick’s Law:
- Batasi jumlah pilihan utama dalam satu layar
- Gunakan kategori dan hierarki informasi
- Tampilkan opsi yang paling sering digunakan terlebih dahulu
- Gunakan default option untuk mempercepat pengambilan keputusan
- Terapkan pengungkapan progresif (step by step)
Prinsip ini sangat relevan bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau yang sedang mempelajari perancangan sistem dan aplikasi digital.
Kesimpulan
Hick’s Law menunjukkan bahwa terlalu banyak pilihan dapat menjadi hambatan dalam pengambilan keputusan. Dalam desain antarmuka digital, kesederhanaan justru mampu meningkatkan kecepatan, kenyamanan, dan kepuasan pengguna.
Melalui pembelajaran di Universitas Muhammadiyah Riau, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan prinsip Hick’s Law untuk merancang interface yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan manusia.
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Universitas Muhammadiyah Riau. Informasi lebih lanjut mengenai Universitas Muhammadiyah Riau dapat diakses melalui https://www.umri.ac.id.
DAFTAR PUSTAKA
Cowan, N. (2001). The magical number 4 in short-term memory: A reconsideration of mental storage capacity. Behavioral and Brain Sciences, 24(1), 87–185.
Hick, W. E., & Hyman, R. (1952). The decision time for simple choices. Quarterly Journal of Experimental Psychology, 4(1), 11–26.
Liem, V. (2024). Analisis desain antarmuka website Garuda Indonesia berdasarkan prinsip Hick’s Law. ArtComm: Jurnal Komunikasi dan Desain, 7(2), 175–185.
Miller, G. A. (1956). The magical number seven, plus or minus two: Some limits on our capacity for processing information. Psychological Review, 63(2), 81–97.
Nielsen, J. (1994). Usability engineering. Morgan Kaufmann.
Norman, D. A. (2013). The design of everyday things. Basic Books.
Schwartz, B. (2004). The paradox of choice: Why more is less. HarperCollins.
Sweller, J. (1988). Cognitive load during problem solving: Effects on learning. Cognitive Science, 12(2), 257–285.