Hick’s Law dan Pengaruhnya terhadap Pengambilan Keputusan Pengguna
Pernah merasa bingung saat membuka sebuah aplikasi karena terlalu banyak menu yang harus dipilih? Alih-alih membantu kita, banyaknya pilihan justru sering membuat pengguna ragu dan memutuhkan waktu yang lebih lama untuk bertindak. Kondisi ini bukan sekedar kebiasaan, tetapi berkaitan erat dengan cara kerja otak manusia berpikir, belajar dan memahami yang dijelaskan melalui konsep Hicks Law. Sebuah prinsip penting yang terdapat dalam Interaksi manusia dan Komputer yang membatu memahami mengapa desain antarmuka yang sederhana justru lebih efektif bagi pengguna.
Pendahuluan
Aplikasi dan sistem informasi sekarang menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, mulai dari belajar,bekerja, hingga memenuhi kebutuhan pribadi. Meskipun teknologi terus berkembang, kemudahan pengguna menjadi aspek penting yang harus diperhatikan. Salah satu tantangan utama dalam desain antarmuka adalah bagaimana menyajikan berbagai pilihan tetapi tidak membebani proses berpikir penggunanya. Pengguna yang membutuhkan waktu lebih lama dalam mengambil keputusan akan merasa tidak nyaman dan kehilangan minat untuk menggunakan sistem tersebut.
Hick’s Law merupakan prinsip yang penting dalam Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) yang menjelaskan hubungan antara jumlah pilihan yang tersedia dengan waktu yang dibutuhkan pengguna untuk mengambil keputusan. Dengan menerapkan Hick’s Law degan benar, pengalaman pengguna dapat ditingkatkan sehingga interaksi dengan sistem menjadi lebih terarah dan efisien.
Apa itu Hick’s Law?
Hick’s Law adalah prinsip desain yang menyatakan bahwa semakin banyak pilihan yang ditampilkan, semakin lama waktu yang dibutuhkan pengguna untuk megambil keputusan. Kondisi ini dapat membuat pengguna merasa bingung dan ragu saat menggunakan sebuah sistem, karena banyak tombol, menu, atau opsi yang ditampilkan sekaligus. Oleh karena itu, antarmuka yang baik seharusnya menyajikan pilihan secara sederhana dan terfokus [1].
Pengaruh Hick’s Law terhadap Pengambilan Keputusan Pengguna
Hick’s Law memiliki pengaruh yang jelas terhadap cara pengguna mengambil keputusan saat menggunakan sebuah sistem atau aplikasi. Prinsip ini menjelaskan bahwa semakin banyak pilihan yang disajikan kepada pengguna, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menentukan keputusan. Kondisi tersebut terjadi karena pengguna harus memproses dan membandingkan berbagai informasi sebelum memilih tindakan yang dianggap paling sesuai.
Banyaknya pilihan juga dapat meningkatkan beban kognitif pengguna. Ketika antarmuka menampilkan terlalu banyak menu atau fitur secara bersamaan, pengguna cenderung mengalami kebingungan dan kesulitan dalam menentukan prioritas. Hal ini berpotensi menyebabkan kesalahan dalam penggunaan sistem, seperti memilih menu yang tidak sesuai.
Selain itu, Hick’s Law berpengaruh terhadap tingkat kenyamanan dan kepuasan pengguna. Proses pengambilan keputusan yang terlalu lama dapat menimbulkan rasa frustrasi dan mengurangi minat pengguna untuk melanjutkan interaksi. Oleh karena itu, penerapan Hick’s Law dalam desain antarmuka bertujuan untuk membantu pengguna mengambil keputusan secara lebih cepat, tepat, dan efisien, sehingga pengalaman pengguna terhadap sistem dapat ditingkatkan [2].

Gambar 1. 1 Hick's Law
Penerapan Hick’s Law dalam Desain Antarmuka Digital
Dalam perkuliahan Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) di Universitas Muhammadiyah Riau, kami mempelajari Hick’s Law digunakan sebagai pedoman untuk mengatur penyajian menu, tombol, dan fitur agar lebih efektif. Desainer dapat mengelompokkan berbagai pilihan ke dalam kategori yang jelas sehingga lebih mudah dipahami. Selain itu, pilihan juga dapat ditampilkan secara bertahap agar pengguna tidak langsung dihadapkan pada terlalu banyak opsi. Pendekatan ini membantu mengurangi beban kognitif pengguna.
Penerapan prinsip Hick’s Law menjadikan antarmuka lebih ramah bagi pengguna. Pengguna dapat memahami fungsi yang tersedia dengan lebih cepat dan tanpa kebingungan. Proses pengambilan keputusan pun menjadi lebih efisien. Hal ini berdampak positif pada kualitas interaksi antara pengguna dan sistem secara keseluruhan.
Contoh Praktis Penerapan Hick’s Law
Berikut adalah beberapa contoh nyata penerapan Hick’s Law dalam sistem atau aplikasi:
- Aplikasi E-Commerce
Pada aplikasi e-commerce, penerapan Hick’s Law terlihat melalui penggunaan filter dan kategori produk. Marketplace seperti Shopee dan Tokopedia tidak menampilkan seluruh produk sekaligus, melainkan mengelompokkannya berdasarkan jenis, harga, atau popularitas. Pendekatan ini membantu pengguna mempersempit pilihan sesuai kebutuhan.

Gambar 1. 2 Contoh Penerapan Hick's Law di Shopee
Sumber: Shopee
- Layanan Streaming
Layanan streaming seperti Netflix menerapkan Hick’s Law dengan membagi konten ke dalam beberapa kategori tertentu. Film dan serial tidak ditampilkan dalam satu tampilan penuh, melainkan disusun dalam daftar seperti Rekomendasi untuk Anda. Hal ini memudahkan pengguna dalam menemukan tontonan yang sesuai dengan minat mereka. Pengelompokan tersebut juga mengurangi kebingungan akibat terlalu banyak pilihan.
- Formulir Digital
Penerapan Hick’s Law juga dapat ditemukan pada formulir digital, khususnya dalam proses pendaftaran. Formulir yang dirancang dengan baik biasanya membagi input ke dalam beberapa tahap atau halaman. Cara ini mencegah pengguna merasa kewalahan akibat terlalu banyak isian dalam satu tampilan. Akibatnya, proses pengisian menjadi lebih nyaman dan efisien.
Tips Aplikatif Menerapkan Hick’s Law
Bagi pembaca yang tertarik menerapkan Hick’s Law dalam desain atau pengembangan sistem, terdapat beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk membantu pengguna mengambil keputusan dengan lebih mudah dan efisien.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain yaitu membatasi jumlah menu utama dalam satu tampilan, mengelompokkan pilihan ke dalam kategori yang jelas, serta menampilkan opsi yang paling sering digunakan. Untuk proses yang lebih kompleks, desain bertahap dapat digunakan agar pengguna tidak dihadapkan pada terlalu banyak pilihan sekaligus. Dengan pendekatan tersebut, interaksi pengguna dengan sistem menjadi lebih efisien dan terarah.
Kesimpulan
Hick’s Law menjelaskan bahwa terlalu banyak pilihan dapat membuat pengguna membutuhkan waktu lebih lama dalam mengambil keputusan dan merasa kurang nyaman saat menggunakan sistem. Dengan memahami prinsip ini, desainer dan pengembang dapat menyusun antarmuka yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh pengguna. Penerapan Hick’s Law dapat membantu meningkatkan efisiensi serta memperbaiki pengalaman pengguna secara keseluruhan. Oleh karena itu, desainer diharapkan mampu mempertimbangkan prinsip ini dalam merancang antarmuka digital yang lebih ramah pengguna.
Artikel ini disusun sebagai bagian dari proses pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer pada Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau. Informasi lebih lanjut mengenai program studi dan kegiatan akademik dapat diakses melalui situs resmi www.umri.ac.id
Artikel ini disusun dengan bantuan AI (ChatGPT) dalam tahap brainstorming, desain visual dan pengecekan tata bahasa.
.
Referensi
[1] V. Liem, P. Studi, D. Komunikasi, and U. Pradita, “ArtComm Analisis Desain Antarmuka Website Garuda Indonesia Berdasarkan Prinsip Hick ’ s Law ArtComm,” vol. 7, no. 2, pp. 175–185, 2024.
[2] A. N. Muttaqin et al., “PENERAPAN LAW OF UX DALAM ANALISIS DESAIN ANTARMUKA,” vol. 7, no. 2, pp. 775–787, 2025.