FITTS’ LAW DALAM DESAIN ANTARMUKA: MENGAPA UKURAN DAN POSISI TOMBOL ITU PENTING?

Jeny Hudayani

Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer

Universitas Muhammadiyah Riau www.umri.ac.id

E-mail : 240401294@student.umri.ac.id

 

Kamu merasa kesal karena sulit menekan tombol kecil di layar ponsel? Padahal kamu tahu tombol mana yang ingin ditekan. Masalah ini bukan karena kurang ketelitian pengguna, melainkan tentang bagaimana desain antarmuka memahami cara manusia bergerak dan berinteraksi. Artikel ini akan menjelaskan bagaimana prinsip Fitt’s Law berperan penting dalam desain interface.

APA ITU FITT’S LAW?

Menurut (Yasintabella, 2025) Fitt’s Law merupakan prinsip interaksi manusia dan komputer yang menyatakan waktu yang diperlukan untuk memindahkan kursor pada suatu target tergantung pada jarak dan ukuran target tersebut. Jika elemen antar muka tersebut semakin besar dan semakin dekat, maka semakin cepat dan mudah elemen tersebut dapat diakses oleh User.

Pada perancangan desain antarmuka, Fitt’s Law merupakan landasan dalam menentukan ukuran, jarak, dan posisi elemen interaktif untuk meninfkatkan efesiensi dan pengalaman User. Prinsip  Fitt’s Law menyatakan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suatu target bergantung pada jarak  dan  ukuran  target  tersebut,  sehingga  elemen  visual  seperti tombol,  ikon,  dan  menu  navigasi harus  dirancang  dengan  ukuran  yang  cukup  besar  dan  ditempatkan  dalam  jangkauan  yang  mudah diakses untuk mengurangi beban kognitif pengguna.

 

MENGAPA FITTS’ LAW PENTING DALAM DESAIN INTERFACE?

Teori Fitt’s Law memiliki peran yang penting dalam perancangan antarmuka, membantu mengoptimalkan pengalaman pengguna dan juga memperkuat identitas merk. Teori Fitt’s Law menegaskan bahwa waktu yang dibutuhkan oleh seorang user untuk mencapai suatu target tergantung pada jarak dan ukuran target tersebut. Dengan menerapkan prinsip Fitt’s Law, desainer bisa menciptakan elemen antarmuka yang mempermudah interaksi user, meningkatkan efesiensi navigasi, ikon, dan elemen interaktif lainnya yang memiliki ukuran yang sesuai dengan jangkauan dan oleh user.

Desain tombol yang efektif harus memiliki visibilitas tinggi dan mampu menarik perhatian User secara intuitif. Selain memiliki desain yang menarik, tombol juga harus memberikan umpan balik yang jelas. Karena adanya umpan balik yang jelas, User dapat memahami fungsi tombol dengan cepat dan yakin terhadap interaksi yang mereka lakukan dengan system. Desain tombol yang optimal tidak hanya berkontribusi pada peningkatkan kegunaan (usability), berperan juga dalam menciptakan pengalaman pengguna (user experience) yang lebih baik secara keseluruhan.

Sebagai contoh, konsep kegunaan (usability) yang diajukan oleh Norman (2013) dan Nielsen (1994) menggaris bawahi pentingnya UI yang intuitif dan mudah digunakan. Desain UI yang baik akan membantu pengguna untuk menjalankan tugas-tugas mereka dengan efisiensi, mengurangi kesalahan, dan meningkatkan kepuasan pengguna.

 

CONTOH PENERAPAN DI APLIKASI DIGITAL

Dalam desain UI/UX, hukum Fitt’s Law mendorong desainer untuk lebih memperhatikan ukuran tombol, jarak antar elemen, dan peletakan elemen sangat penting agar navigasi menjadi lebih efisien dan intuitif. Prinsip ini menjadi tantangan terbesar karena keterbatasan layar dan harus menyeimbangkan kenyamanan visual dan efesiensi interaksi.

 

Gambar 1 Ikon Navigasi

Contoh penerapan Fitt’ Law dapat kita temukan dengan jelas pada Gambar 1. Pada halaman profil, ikon navigasi seperti “ShopeePay”, “Koin Shopee”, “Voucher Saya”, “App ShopeePay” dan lainnya ditampilkan dengan ukuran yang besar dan dikelompokkan secara grid dalam menu “Dompet Saya”, ini memudahkan User untuk menjangkau tombol-tombol tersebut menggunakan ibu jari dengan cepat tanpa perlu usaha yang tinggi. Begitu pula pada bilah navigasi “Pesanan Saya”, terdiri dari empat ikon utama seperti “Belum Bayar”, “Dikemas”, “Dikirim”, dan “Beri Penilaian” dirancang dengan ukuran dan jarak proposional.

 

Gambar 2 Beli Sekarang dan Masukkan Keranjang

Pada contoh lain terlihat pada Gambar 2, tombol “Beli Sekarang” dan “Masukkan Keranjang” memiliki ukuran yang besar dan warna yang mencolok serta dekat dengan jangkaun jari. Ini dapat mengurangi waktu dan upaya yang dibutuhkan oleh pengguna untuk memperoses pembelian. Ukuran tombol yang besar dan penempatan yang tepat mencerminkan implementasi yang efektif dari Fitt’s Law, yang secara tidak langsung meningkatkan efesiensi dan kenyamanan pada user(Noorachmad Muttaqin et al., 2025).

Dalam Mata Kuliah IMK di Univeristas Muhammadiyah Riau, kami mempelajari bagaimana prinsip Fitt’s Law membantu desainer dalam pembuatan interface yang baik. Artikel ini diharapkan menjadi bagian pengembangan wawasan akademik di lingkungan Universitas Muhammadiyah Riau. Informasi lebih lanjut mengenai profil, program akademik, dan kegiatan Universitas Muhammadiyah Riau dapat kamu akses melalui situs resmi www.umri.ac.id

KESIMPULAN

Fitts’ Law merupakan sebuah prinsip penting dalam desain antarmuka pengguna yang menekankan hubungan ukuran, jarak, dan posisi elemen interaktif terhadap kecepatan serta kemudahan akses pengguna. Penerapan prinsip ini membuat desainer menciptakan antarmuka yang sangat efisien, intuitif, dan nyaman digunakan. Dengan merancang tombol, ikon, dan navigasi yang berukuran memadai serta ditempatkan pada area yang mudah dijangkau, beban kognitif pengguna dapat dikurangi dan kualitas pengalaman pengguna secara keseluruhan dapat ditingkatkan.

 

REFERENSI

Noorachmad Muttaqin, A., Muharman, L. dan M., & Sandy, D. H. (2025). PENERAPAN LAW OF UX DALAM ANALISIS DESAIN ANTARMUKA APLIKASI SHOPEE. 7(2), 775–787.

Yasintabella, F. (2025). DESAIN UI / UX APLIKASI KEUANGAN PRIBADI BERBASIS ANDROID DENGAN PENDEKATAN DESIGN THINKING. 2(3), 412–427.