Faktor Usability dan UX dalam Kemudahan Pengguna Aplikasi Mobile

Faktor Usability dan UX dalam Kemudahan Pengguna Aplikasi Mobile

Zevvy Chairul Azikra1*

(1) Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau

 

* Corresponding author

( 240401164@student.umri.ac.id )

 

Lead / Hook

            Pernah membuka sebuah aplikas dan langsung tahu harus menekan apa, sementara aplikasi lain membuat Anda berhenti dan berfikir, “ini tombolnya dimana?” Perbedaan pengalaman ini bukan soal kecerdasan pengguna, melainkan soal Bagaimana aplikasi tersebut dirancang.

 

PENDAHULUAN

            Di era dominasi aplikasi mobile, keberhasilan sebuah aplikasi tidak lagi ditentukan oleh banyaknya fitur, melainkan oleh kemudahan pengguna dalam memahami dan menggunakannya. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar aplikasi ditinggalkan setelah satu kali penggunaan karena dianggap membingungkan atau tidak nyaman. Inilah mengapa usability dan  user experience (UX) menjadi isu sentral dalam bidang Interaksi Manusia dan Komputer (IMK).

            Dalam perkuliahan IMK di Universitas Muhammadiyah Riau, mahasiswa mempelajari bagaimana desain antarmuka yang buruk dapat menurunkan efektivitas aplikasi, bahkan jika fungsi teknisnya berjalan sempurna ( www.umri.ac.id )

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Apa Itu Usability  dan User Experience?

            Usabilitiy mengacu pada sejauh mana sebuah aplikasi dapat digunakan secara efektif, efesien, dan memuaskan oleh pengguna dalam konteks tertentu. Sementara itu, User Experience (UX) mencakup persepsi, emosi, dan respon pengguna sebelum, selama, dan setelah menggunakan aplikasi .

            Menurut standar ISO 9241-11, usability tidak hanya tentang “bisa dipakai”, tetapi juga tentang kenyamanan dan kejelasan interaksi(Weichbroth, 2024).

 

Mengapa Banyak Aplikasi Terasa Membingungkan?

1.     Desain Tidak Berpusat pada Pengguna

Aplikasi yang dirancang tanpa memahami kebutuhan pengguna cenderung memiliki:

·       Navigasi tidak konsisten

·       Ikon dan istilah yang ambigu

·       Beban kognitif tinggi (pengguna harus banyak mengingat

Pendekatan Human-Centered Design (HCD) menekankan bahwa pengguna harus selalu menjadi pusat proses desain. Ketika prinsip ini diabaikan, kebingungan hampir pasti terjadi(Fatah, 2020).

2.     Pengujian Usability yang Minim atau Formalitas

Banyak pengembang melewatkan usability testing atau hanya melakukannya di tahap akhir. Padahal, usability testing seharusnya:

·       Dilakukan berulang

·       Menggunakan pengguna nyata

·       Mengukur efektivitas, efisiensi, dan kepuasan

Framework metodologis usability testing modern menunjukkan bahwa pengujian yang sistematis mampu meningkatkan tingkat penerimaan pengguna secara signifikan(Weichbroth, 2024).

 

Contoh dan Studi Kasus Nyata

Studi kasus 1: Aplikasi BMKG Mobile

            Penelitian terhadap aplikasi BMKG menunjukkan skor usabilitiy awal yang rendah karena:

·       Dashboard terlalu padat informasi

·       Minimnya kontrol pengguna

·       Tidak adanya umpan balik saat terjadi kesalahaan

Setelah dilakukan redesign berbasis Eight Golden Rules dan pengujian System Usability Scale (SUS), skor usability meningkat dari 60 menjadi 80,25 (Kategori Excellent)(Fatah, 2020).

Insight penting:

            Perbaikan kecil pada struktur dan feedback antarmuka bisa berdampak besar pada kenyamanan pengguna.

 

Studi kasus 2: Aplikasi KAI Access

            Meski digunakan jutaan orang, aplikasi KAI Access masih menerima banyak keluhan:

·       Proses refund dan reschedule sangat tidak memuaskan.

·       Alur pembelian tiket membingungkan

·       Aplikasi terasa lambat

Aplikasi menggunakan User Experience Questionnaire (UEQ) dan usability testing menggunakan bahwa masalah utama bukan pada fitur, tetapi pada penempatan elemen alur dan alur interaksi(Mujahid Akbar et al., 2023)

 

Tren UX Aplikasi Mobile Saat Ini

            Stude literatur terbaru menunjukkan bahwa UX aplikasi mobile kini berkembang ke arah:

·       Personalisasi berdasarkan konteks pengguna

·       Integrasi AI dan algoritma adaptif

·       Fokus pada skenario dominan seperti kesehatan, pendidikan, dan belanja

Pendekatan multidisiplin menjadi kunci dalam menciptakan aplikasi yang benar-benar ramah pengguna(Lu et al., 2025).

Implikasi bagi Mahasiswa dan Pengembang

            Bagi mahasiswa Teknik Informatika, khususnya di Universitas Muhammadiyah Riau, pemahaman usability bukan sekedar teori, melainkan kompetensi praktis yang membedakan pengembang biasa dengan pengembang profesional.

            Aplikasi yang baik bukan yang paling canggih, tetapi yang:

·       Mudah dipelajari

·       Minim kesalahan

·       Memberi rasa percaya diri pada pengguna

 

Kesimpulan

Aplikasi terasa mudah digunakan atau membingungkan bukan karena penggunanya, tetapi karena kualitas desain interaksi. Tanpa usability testing, desain berpusat pengguna, dan evaluasi UX yang serius, aplikasi berisiko ditinggalkan

 

Artikel ini ditulis sebagai bagian dari kajian mata kuliah IMK di Universitas Muhammadiyah Riau

( www.umri.ac.id )

Referensi

Fatah, D. A. (2020). Evaluasi Usability dan Perbaikan Desain Aplikasi Mobile Menggunakan Usability Testing dengan Pendekatan Human-Centered Design (HCD). Rekayasa, 13(2), 130–143. https://doi.org/10.21107/rekayasa.v13i2.6584

Lu, G., Qu, S., & Chen, Y. (2025). Understanding user experience for mobile applications: a systematic literature review. In Discover Applied Sciences (Vol. 7, Issue 6). Springer Nature. https://doi.org/10.1007/s42452-025-07170-3

Mujahid Akbar, H., Muslimah Az-Zahra, H., & Prakoso, B. S. (2023). Analisis Pengalaman Pengguna pada Aplikasi Mobile KAI Access menggunakan Metode User Experience Questionnaire (UEQ) dan Usability Testing (Studi Kasus: PT. KAI) (Vol. 7, Issue 7). http://j-ptiik.ub.ac.id

Weichbroth, P. (2024). Usability Testing of Mobile Applications: A Methodological Framework. Applied Sciences (Switzerland), 14(5). https://doi.org/10.3390/app14051792