FAKTOR KOGNITIF DALAM DESAIN ANTARMUKA: DARI GESTALT HINGGA FOKUS PENGGUNA
FAKTOR KOGNITIF DALAM DESAIN ANTARMUKA: DARI GESTALT HINGGA FOKUS PENGGUNA
Az’zahra Putri Utami
Universitas Muhammadiyah Riau, Indonesia
240401265@student.umri.ac.ic
Pernah merasa sebuah aplikasi langsung “klik” saat digunakan, sementara aplikasi lain terasa membingungkan sejak pertama dibuka? Perasaan tersebut muncul bukan tanpa alasan, melainkan dipengaruhi oleh cara otak manusia memproses informasi visual, mengingat pilihan, dan memusatkan perhatian saat berinteraksi dengan teknologi.
Pendahuluan
Dalam Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), faktor kognitif menjadi elemen penting dalam merancang antarmuka pengguna (User Interface/UI). Faktor kognitif berkaitan dengan bagaimana manusia berpikir, memperhatikan, mengingat, dan membentuk pemahaman terhadap suatu sistem. Desain antarmuka yang tidak selaras dengan kemampuan kognitif pengguna berpotensi menimbulkan kebingungan dan frustrasi. Oleh karena itu, artikel ini membahas empat konsep utama faktor kognitif Prinsip Gestalt, Miller’s Law, Mental Model, serta Attention dan Distraction sebagai landasan dalam menciptakan antarmuka yang intuitif dan berfokus pada pengguna(Pengampu, 2009).
Prinsip Gestalt dalam Desain UI
Prinsip Gestalt menjelaskan bahwa manusia cenderung memandang objek sebagai satu kesatuan yang utuh. Dalam desain UI, prinsip seperti proximity (kedekatan), similarity (kesamaan), dan closure (penutupan) digunakan untuk membantu pengguna memahami hubungan antar elemen secara cepat. Pengelompokan menu, tombol, dan informasi yang konsisten akan mempermudah pengguna dalam mengenali fungsi tanpa perlu membaca banyak instruksi(Tanadi & Hs, 2025).
Miller’s Law dan Keterbatasan Daya Ingat
Miller’s Law menyatakan bahwa manusia hanya mampu menyimpan sekitar 7 ± 2 item dalam memori jangka pendek. Dalam desain antarmuka, terlalu banyak menu atau pilihan dalam satu layar dapat membebani pengguna secara kognitif. Oleh sebab itu, desainer perlu membatasi jumlah opsi yang ditampilkan sekaligus atau mengelompokkannya ke dalam kategori yang jelas(Artikel et al., 2025).
Mental Model sebagai Dasar Interface Intuitif
Mental model merupakan gambaran internal pengguna tentang cara kerja suatu sistem. Antarmuka yang sesuai dengan mental model pengguna akan terasa lebih mudah digunakan. Sebaliknya, jika desain tidak sesuai dengan ekspektasi pengguna, proses belajar akan menjadi lebih lama dan membingungkan. Penggunaan ikon dan simbol yang sudah umum menjadi contoh penerapan mental model dalam desain UI..
Oleh karena itu, IMK menjadi faktor strategis dalam membangun kepercayaan pengguna, meningkatkan loyalitas, dan memastikan keberlanjutan sebuah startup. Informasi mengenai institusi ini dapat diakses melalui situs resmi (https://www.umri.ac.id/).
Attention dan Distraction dalam Pengalaman Pengguna
Perhatian pengguna adalah sumber daya yang terbatas. Desain yang terlalu ramai, penuh notifikasi, animasi berlebihan, atau iklan dapat mengganggu fokus pengguna. Oleh karena itu, penting bagi desainer untuk mengatur hirarki visual agar perhatian pengguna tertuju pada elemen utama yang mendukung tujuan penggunaan aplikasi.
Contoh Kasus
Aplikasi E-Commerce
Aplikasi e-commerce mengelompokkan kategori produk berdasarkan prinsip Gestalt, sehingga pengguna dapat dengan mudah menavigasi dan menemukan barang yang diinginkan.
Menu Pengaturan Smartphone
Menu pengaturan dibagi ke dalam beberapa kategori utama untuk menerapkan Miller’s Law, sehingga pengguna tidak kewalahan melihat terlalu banyak opsi dalam satu layar.
Ikon Umum pada Aplikasi Mobile
Ikon seperti “home”, “search”, dan “trash” mengikuti mental model pengguna yang sudah terbentuk dari pengalaman sebelumnya, sehingga mudah dipahami tanpa penjelasan tambahan.
Google Search (Web)
Kenapa cocok:
UI sangat sederhana
Fokus tunggal → pencarian
Minim distraksi
Cocok untuk contoh:
Desain berbasis fokus pengguna & attention management
Kesimpulan
Faktor kognitif memiliki peran penting dalam menciptakan desain antarmuka yang intuitif dan efektif. Prinsip Gestalt membantu pengguna memahami struktur visual, Miller’s Law menjaga beban kognitif tetap ringan, mental model memastikan kesesuaian dengan ekspektasi pengguna, serta pengelolaan perhatian membantu pengguna tetap fokus. Dengan memahami faktor kognitif, desainer dapat menciptakan antarmuka yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga nyaman dan mudah digunakan.
Artikel ini ditulis oleh Az’zahra Putri Utami, mahasiswi Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau (https://www.umri.ac.id/).
Referensi
Artikel, R., Saida, R. S., Purnamasari, I., & Komarudin, O. (2025). Perancangan Antarmuka dengan Design Thinking , Sentimen , Topic Modeling , dan Evaluasi Visual Interface Redesign Using Design Thinking , Sentiment , Topic Modeling , and Visual Evaluation. 11, 415–434.
Pengampu, D. (2009). “ Perilaku Mencatat dan Kemampuan Memori pada Proses Belajar .” 2003.
Tanadi, D., & Hs, C. (2025). Desain Minimalis untuk AI : Cara Meningkatkan
Keterbacaan dan Interaksi Pengguna. 03(04), 483–495.