Evolusi dan Metodologi dalam Desain Antarmuka Berbasis Pengalaman Pengguna dengan aplikasi music dan e-commerce
oleh : delfy putri aprillianty
240401003
Universitas Muhammadiyah Riau
fakultas ilmu komputer
program studi teknik informatika
240401003@student.umri.ac.id
Evolusi dan Metodologi dalam Desain Antarmuka Berbasis Pengalaman Pengguna dengan aplikasi music dan e-commerce
1.1 Latar Belakang
Di era transformasi digital saat ini, perkembangan teknologi informasi telah mengubah fundamental gaya hidup masyarakat, mulai dari cara mengonsumsi hiburan hingga metode transaksi pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Industri digital tidak lagi hanya berfokus pada fungsionalitas sistem, tetapi telah bergeser pada seberapa baik sistem tersebut mampu berinteraksi dengan manusianya. Dalam disiplin ilmu Interaksi Manusia Komputer (IMK), aspek User Experience (UX) atau pengalaman pengguna menjadi poin krusial yang menentukan keberhasilan sebuah produk digital. Pengalaman yang buruk, seperti navigasi yang membingungkan atau antarmuka yang tidak intuitif, sering kali menimbulkan ketidaknyamanan yang berujung pada pengabaian aplikasi oleh pengguna.
Pentingnya UX sangat terlihat pada dua sektor industri besar yang mendominasi pasar saat ini: hiburan (music streaming) dan perdagangan elektronik (e-commerce). Pada industri musik, persaingan antara platform global seperti Spotify dan platform regional seperti JOOX menunjukkan bahwa keunggulan fitur saja tidak cukup. Perbedaan dalam dinamika kurva pengalaman pengguna (general UX, attractiveness, dan utility) menjadi penentu loyalitas pendengar dalam jangka panjang. Pengguna cenderung memilih platform yang tidak hanya menyediakan koleksi lengkap, tetapi juga memberikan kesan yang terus membaik seiring frekuensi penggunaan.
Fenomena serupa terjadi pada industri e-commerce di Indonesia. Dengan dominasi pemain besar seperti Shopee dan Tokopedia, tantangan utama yang dihadapi bukan lagi sekadar menarik pengguna baru, melainkan mempertahankan mereka (retention). Seiring berkembangnya ekspektasi masyarakat, pengalaman pengguna bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Jika aspek pragmatis seperti usability (kemudahan penggunaan) dan utility (kegunaan) tidak dikelola dengan baik, maka akan terjadi peningkatan churn rate atau perpindahan pelanggan ke platform kompetitor.
Oleh karena itu, penelitian mengenai evolusi pengalaman pengguna menjadi sangat relevan. Memahami bagaimana tren UX berkembang dari waktu ke waktu—apakah mengalami peningkatan (improving) atau justru stagnan—menjadi kunci bagi pengembang aplikasi untuk terus berinovasi. Melalui analisis perbandingan dan pemantauan dinamika kurva pengalaman, perusahaan dapat memastikan bahwa produk digital mereka tetap sesuai dengan kebutuhan dan preferensi pengguna di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Sering kali kita merasa tidak nyaman atau kesulitan saat menggunakan aplikasi dan situs web tertentu, yang pada akhirnya membuat pengalaman kita sebagai pengguna menjadi tidak menyenangkan. Meski terdengar sepele, aspek ini sebenarnya merupakan poin krusial yang sangat dibutuhkan dalam membangun produk digital. Selama saya berkuliah di Universitas Muhammadiyah Riau, khususnya dalam mata kuliah Interaksi Manusia Komputer (IMK), saya mempelajari bahwa User Experience (UX) atau pengalaman pengguna harus menjadi fokus utama dalam setiap proyek digital. Prinsip ini menjadi sangat relevan jika kita melihat fenomena industri keuangan saat ini yang telah beralih ke sistem elektronik, di mana segala proses transaksi dilakukan secara online.[1]
1.2 Menganalisis aplikasi Spotify dan JOOX
Penggunaan teknologi dapat mempermudah manusia dalam melakukan berbagai kegiatan sekaligus mengubah gaya hidup masyarakat. Salah satu teknologi yang diminati saat ini adalah aplikasi music streaming. Aplikasi music streaming adalah sebuah aplikasi yang memungkinkan pengguna untuk mendengarkan musik legal secara streaming atau online. Spotify adalah aplikasi music streaming asal Swedia yang memberikan akses untuk mendengarkan jutaan lagu dan podcast secara streaming ke pengguna (Spotify.com, 2018). JOOX adalah sebuah aplikasi asal Tiongkok yang menyediakan layanan musik streaming secara legal (Medium.com, 2015). JOOX tersedia dalam bentuk aplikasi mobile dan situs website. Kedua aplikasi music streaming tersebut bersifat ‘freemium’, artinya pengguna dapat mengunduh aplikasi secara gratis, namun akses penggunaannya terbatas. Spotify dan JOOX mempunyai target pasar generasi milenial. Spotify mempunyai kampanye periklanan yang terus berkembang sehingga dapat membantu aplikasi tersebut mengubah industri musik dunia dengan cara menolong artis independent atau indie. Dari alasan tersebut, Spotify mendapat apresiasi lebih dan koleksi musik yang lebih lengkap.
Perbandingan antara spotify dan JOOX

Table 1.1 Perbandingan Kecenderungan Kurva
Menunjukkan perbedaan antara jumlah kecenderungan kurva improving Spotify dengan JOOX. Spotify memiliki jumlah kurva improving yang lebih banyak daripada JOOX khususnya pada kurva general UX, attractiveness, utility, dan degree-of-usage. Maka dapat dikatakan bahwa Spotify memiliki tampilan, kebergunaan, dan keseluruhan pengalaman pengguna yang lebih baik. Meskipun memiliki jumlah kurva improving yang lebih sedikit daripada Spotify, JOOX unggul dalam kemudahan penggunaan aplikasi

Gambar 1.1 Perbandingan Mean pada Kurva General UX antara Spotify dan JOOX
Pada kurva general UX, Spotify mempunyai delapan titik yang menggambarkan dinamika perubahan pengalaman pengguna. Titik akhir kurva Spotify terletak lebih tinggi daripada titik awalnya. Oleh karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa Spotify memiliki interaksi yang baik dengan pengguna sehingga pengalaman pengguna meningkat dari waktu ke waktu. Sedangkan JOOX memiliki tujuh titik yang menggambarkan dinamika perubahan pengalaman pengguna. Titik awal kurva JOOX cukup rendah jika dibandingkan dengan Spotify. Kurva tersebut berakhir di titik yang terletak persis dengan titik awal dan lebih rendah daripada titik akhir Spotify. Terdapat kesimpulan bahwa tidak ada perubahan antara kesan awal dengan kesan saat ini untuk kurva general UX JOOX. [2]
1.3 Menganalisis aplikasi e-commerce
Pada saat ini, terdapat berbagai platform e-commerce yang ada di Indonesia, di antaranya adalah Shopee, Tokopedia, Lazada, Bukalapak, Blibli, dan JD.ID. Berdasarkan data dari SimilarWeb (2024), Shopee dan Tokopedia merupakan dua platform e-commerce terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah pengunjung aktif. Shopee menempati peringkat pertama dengan 235,9 juta kunjungan pada bulan Februari 2024, sementara Tokopedia berada di peringkat kedua dengan 100,3 juta kunjungan pada periode waktu yang sama (eDOT, 2025). Dominasi dari kedua platform ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki peran penting dalam membentuk persepsi atau pengalaman pengguna dalam berbelanja onilne, khususnya bagi masyarakat Indonesia.
Meskipun pertumbuhan e-commerce di Indonesia semakin pesat, terdapat tantangan yang muncul terkait dengan pengalaman pengguna (user experience) dalam jangka panjang. Pengalaman pengguna dalam menggunakan platform e commerce dapat mengalami perubahan seiring waktu akibat perkembangan fitur dan ekspektasi pengguna yang terus berkembang. Jika pengalaman pengguna tidak dikelola dengan baik, maka akan berdampak pada loyalitas dan retensi pelanggan (Danesh, 2023). Hal ini tidak hanya berdampak pada individu konsumen, tetapi juga pada kelompok masyarakat yang semakin bergantung pada platform e-commerce untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Pengalaman pengguna yang buruk dalam jangka panjang dapat menyebabkan ketidakpuasan dan berujung pada tingkat peralihan (churn rate) yang tinggi dalam industri e-commerce. Jika aspek-aspek penting seperti kualitas layanan, kemudahan navigasi, dan pengalaman transaksi tidak terus ditingkatkan, pelanggan cenderung berpindah ke platform lain yang menawarkan pengalaman lebih baik (Felix & Rembulan, 2023). Oleh karena itu, memahami bagaimana pengalaman pengguna berkembang dalam jangka panjang menjadi penting, tidak hanya bagi perusahaan tetapi juga bagi pengguna yang menginginkan pengalaman belanja online yang konsisten dan memuaskan

Tabel 3. Jumlah Kecenderungan Kurva Aplikasi E-commerce
Tabel di atas menampilkan representasi visual perubahan pengalaman pengguna pada dimensi General ux yang menunjukkan kecenderungan utama berupa peningkatan (improving) selama periode enam bulan. Berdasarkan grafik tersebut, dapat terlihat bahwa mayoritas kurva menunjukkan tren peningkatan, di mana responden secara umum mengalami perbaikan pengalaman dalam menggunakan aplikasi e-commerce seiring waktu. Secara spesifik, kurva dengan tren meningkat (improving) memiliki jumlah yang lebih banyak dibandingkan tren lainnya, yaitu sebanyak 13 kurva dari total 20 responden. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar responden merasakan pengalaman penggunaan aplikasi e-commerce secara umum yang semakin membaik dari waktu ke waktu. Faktor utama yang memengaruhi peningkatan ini berasal dari aspek usability dan utility yang bersifat pragmatis, di mana responden merasa aplikasi semakin mudah digunakan seiring berjalannya waktu pemakaian dan adanya peningkatan pada struktur navigasi. Selain itu, faktor lain yang mendorong tren positif ini mencakup kemudahan akses fitur utama, peningkatan performa aplikasi, serta penyesuaian desain antarmuka yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna.[3]
Kesimpulan
Memahami bagaimana pengalaman pengguna berkembang dalam jangka panjang bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan krusial bagi keberlanjutan sebuah platform digital di tengah persaingan ketat. Pengalaman pengguna yang dikelola dengan konsisten, baik dari aspek fungsionalitas (pragmatis) maupun kepuasan emosional (hedonis), akan membangun kepercayaan yang berdampak langsung pada peningkatan loyalitas serta retensi pelanggan. Platform yang mampu beradaptasi dengan perubahan ekspektasi pengguna cenderung akan bertahan lebih lama di pasar.
Sebaliknya, pengabaian terhadap dinamika pengalaman pengguna, seperti membiarkan navigasi yang membingungkan atau gangguan teknis yang berulang, akan menciptakan rasa frustrasi. Hal ini secara signifikan meningkatkan angka perpindahan pengguna (churn rate), di mana pelanggan dengan mudah beralih ke kompetitor yang menawarkan pengalaman lebih mulus. Oleh karena itu, inovasi fitur harus selalu dibarengi dengan evaluasi kegunaan agar investasi teknologi yang dilakukan benar-benar memberikan nilai tambah bagi pengguna.
Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemahaman mendalam pada mata kuliah Interaksi Manusia Komputer (IMK) di Universitas Muhammadiyah Riau. Melalui studi ini, kami belajar bahwa desain yang baik adalah desain yang memanusiakan penggunanya. Pelajari lebih lanjut mengenai program pendidikan kami di www.umri.ac.id.
REFERENSI
[1] A. Noor and E. L. Hadisaputro, “Analisis Pengalaman Pengguna Pada Aplikasi TIX ID Menggunakan Metode User Experience Questionnaire,” J. Inf. Syst. Res., vol. 3, no. 4, pp. 672–677, 2022, doi: 10.47065/josh.v3i4.1881.
[2] Z. R. Karyono, Y. T. Mursityo, and H. Muslimah Az-Zahra, “Analisis Perbandingan Pengalaman Pengguna Pada Aplikasi Mus,” vol. 3, no. 7, pp. 6422–6429, 2019, [Online]. Available: http://j-ptiik.ub.ac.id
[3] Z. Mahdavikia, B. T. Hanggara, and D. W. Brata, “Eksplorasi Pengalaman Pengguna Jangka Panjang Pada Aplikasi E-commerce di Indonesia dengan Metode UX Curve,” J. Pengemb. Teknol. Inf. dan Ilmu Komput., vol. 9, no. 9, pp. 1–8, 2025, [Online]. Available: https://j-ptiik.ub.ac.id/index.php/j-ptiik/article/view/15334