Desain Interface untuk Pengguna di Indonesia Melalui Pertimbangan Budaya

Desain Interface untuk Pengguna Indonesia: Pertimbangan Budaya

 

Agastia Arya Putra
Email: 240401076@student.umri.ac.id
S1 Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Muhammadiyah Riau

 

Hook

Pernah merasa sedikit bingung saat menggunakan aplikasi buatan luar negeri? Mungkin tombolnya terlihat asing, ikonnya kurang intuitif, atau terjemahan bahasanya terasa kaku. Hal ini sering terjadi karena aplikasinya belum sepenuhnya “nyambung” karakteristik budaya lokal. Di Indonesia yang kaya akan keragaman budaya, mendesain antarmuka bukan sekadar menerjemahkan teks, melainkan juga memahami kode-kode budaya penggunanya.

Pendahuluan

Dalam dunia desain digital yang semakin global, penting bagi para perancang untuk memahami bahwa pengalaman pengguna tidak bisa sepenuhnya diseragamkan. Setiap budaya memiliki karakteristik unik yang memengaruhi cara orang mempersepsi, memahami, dan berinteraksi dengan teknologi. Indonesia dengan segala keberagaman etnis, bahasa, dan nilai sosialnya punya pasar digital yang dinamis, tapi juga butuh pendekatan desain yang spesifik. Artikel ini akan membahas bagaimana pertimbangan budaya bisa diintegrasikan ke dalam desain antarmuka untuk menciptakan pengalaman yang lebih relevan dan bermakna bagi pengguna Indonesia.

Karakteristik Budaya Indonesia yang Mempengaruhi Desain

Menurut penelitian dimensi budaya Hofstede, masyarakat Indonesia punya kecenderugan kolektivisme yang cukup tinggi(Putri et al., 2025). Artinya, masyarakat cenderung lebih mementingkan hubungan kelompok dibandingkan pencapaian individu. Dalam konteks desain, fitur-fitur sosial seperti berbagi konten, rekomendasi dari teman, atau pembelian kelompok menjadi lebih relevan.

Selain itu, dalam berkomunikasi, budaya Indonesia termasuk dalam kategori high-context communication alias banyak makna tersirat. Masyarakat terbiasa dengan makna yang tersirat dalam konteks tertentu, sehingga petunjuk visual yang jelas sangat diperlukan. Elemen seperti ikon, warna, dan tata letak harus mampu memberikan isyarat yang mudah dipahami tanpa penjelasan panjang lebar(Hadi, 2024).

Nilai-nilai religius juga turut memengaruhi preferensi desain. Sebagian besar masyarakat Indonesia sangat menghargai simbol dan nilai-nilai keagamaan. Maka dari itu, desain antarmuka perlu memperhatikan sensitivitas terhadap simbol agama, hari besar keagamaan, serta konten yang sesuai dengan norma sosial yang berlaku.

Adaptasi Elemen Visual untuk Konteks Lokal

Sebagian besar masyarakat Indonesia sangat menghargai simbol dan nilai-nilai keagamaan. Makanya, desain antarmuka perlu memperhatikan sensitivitas terhadap simbol agama, hari besar keagamaan, serta konten yang sesuai dengan norma sosial yang berlaku.

Pemilihan Ikon dan simbol harus disesuaikan agar mudah dikenali pengguna lokal Contohnya, lambang tangan terbuka di negara Barat biasanya bermakna salam, namun di Indonesia sering kali dimaknai sebagai tanda berhenti atau penolakan(Hadi, 2024). Sementara itu, menampilkan penggunaan gambar figur yang mengenakan pakaian khas Indonesia, seperti hijab atau peci, bisa membuat pengguna merasa lebih diterima dan nyaman(Bonjol, 2024).

Sebagai contohnya, momen perayaan hari besar keagamaan seperti bulan Ramadhan menjadi contoh yang bagus untuk melihat bagaimana adaptasi visual diterapkan. Tokopedia, misalnya, selama bulan Ramadhan menampilkan tema khusus dengan warna hijau dan emas, disertai ilustrasi ketupat serta tagline seperti "Ramadhan Extra" yang langsung dipahami maknanya sama pengguna. Sebaliknya, Amazon untuk pasar global cenderung menggunakan tema yang lebih netral seperti "Prime Day" dengan palet warna yang universal dan minim simbol keagamaan spesifik.

 

Gambar 1 Tokopedia (kiri) tema Ramadhan, Amazon (kanan) menggunakan pendekatan yang lebih netral dan universal.

Bahasa dan Nada Komunikasi dalam Interface

Coba deh perhatikan kembali teks-teks kecil di aplikasi yang sering digunakan, Bahasa yang digunakan dalam tombol, menu, dan pesan sistem adalah komponen antarmuka yang seringkali menentukan kenyamanan pengguna. Di Indonesia yang sangat menghargai kesantunan berbahasa, pemilihan diksi menjadi hal yang krusial. Sebuah tombol bertuliskan seperti "Ya, saya setuju" memberikan rasa dihargai dan dipersilakan memilih, berbeda dengan tombol "OK" yang terkesan kaku dan sepihak(Tantosa et al., 2025).

Penggunaan istilah-istilah yang sudah familiar dalam keseharian juga mempercepat pemahaman pengguna. Pada aplikasi keuangan digital, misalnya, frasa "Isi Saldo" langsung dipahami maksudnya, sementara "Top Up" masih terdengar sebagai istilah asing yang butuh pembiasaan. Demikian pula dalam platform e-commerce, "Beli Sekarang" memberikan kejelasan tindakan yang lebih langsung dibandingkan "Tambah ke Keranjang" yang bisa menimbulkan keraguan.

 

Penggunaan istilah bahasa keseharian juga mempercepat pemahaman pengguna. Pada aplikasi keuangan digital, misalnya, frasa "Isi Saldo" langsung dipahami maksudnya, sementara "Top Up" masih terdengar sebagai istilah asing yang butuh pembiasaan. Demikian pula dalam platform e-commerce, "Beli Sekarang" memberikan kejelasan tindakan yang lebih langsung dibandingkan "Tambah ke Keranjang" yang bisa menimbulkan keraguan.

Sebagai contonya, bisa dilihat pada aplikasi transportasi online. Opsi "Bayar nanti" seringkali lebih diminati karena terasa lebih fleksibel dan tidak terlalu formal dibandingkan pilihan pembayaran kredit. Begitu juga dengan kategori "Makanan berat" dan "Makanan ringan" yang lebih intuitif bagi pengguna Indonesia daripada klasifikasi "Main course" dan "Appetizer" yang berasal dari konteks budaya berbeda.

Gambar 2 Penggunaan Bahasa yang Disesuaikan dengan kebiasaan Sehari-hari pada Aplikasi DANA

 

Bukti Pentingnya Budaya dalam Desain Interface

Benarkah nilai budaya lokal benar-benar mempengaruhi preferensi terhadap UI/UX? Sebagai bukti, penelitian yang dilakukan Universitas Hasanuddin di tahun 2025 memberikan bukti nyata bahwa preferensi desain UI/UX mempengaruhi  nilai-nilai budaya lokal. Melibatkan studi terhadap 193 mahasiswa pengguna aplikasi transportasi Maxride di Sulawesi Selatan menunjukkan korelasi signifikan antara elemen desain dengan nilai budaya Tabe' dan prinsip 3S (Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge). Dengan tingkat reliabilitas yang sangat tinggi yakni mencapai Cronbach's Alpha 0,952, semakin memperkuat hasil penelitian bahwa desain yang selaras dengan budaya lokal memang lebih diminati pengguna (Putri et al., 2025).

Di sisi lain, hasil diskusi kelompok (FGD) juga mengungkap hal menarik. Peserta ternyata sangat menyukai antarmuka yang memberi kesan ramah dan mengakomodasi nilai-nilai kultural. Banyak yang menyebutkan hal-hal sederhana seperti sapaan pembuka yang sopan, ikon-ikon yang menggambarkan identitas Sulawesi Selatan, hingga pemilihan warna-warna lembut yang memberi kesan hangat. Hal ini membuktikan bahwa pengguna tidak hanya dinilai dari fungsionalitas saja, tetapi juga seberapa dekat dengan elemen visualnya dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh penerapan lainnya ada  perancangan antarmuka aplikasi Museum Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat. Desainer dengan sengaja memilih warna earthy seperti hijau sage (#6C9885) dan krem (#F2E7D5) yang mencerminkan nuansa sejarah dan alam Minangkabau(Bonjol, 2024). Motif khas daerah dan tipografi yang terinspirasi budaya lokal juga disesuaikan, bertujuan untuk menciptakan pengalaman yang autentik dan berkesan bagi pengguna lokal.

Dari kedua riset tersebut terlihat pola serupa, yaitu kesuksesan dalam mengadaptasi budaya bukanlah suatu kebetulan.. Proses desain yang menggunakan pendekatan User Centered Design (UCD) dengan melibatkan pengguna lokal sejak tahap analisis terbukti efektif. Hasilnya pun tercipta antarmuka yang tak hanya mudah dioperasikan, tetapi juga berhasil membangun ikatan emosional karena menghormati dan menggambarkan identitas kultural penggunanya.

Gambar 3 Prototype Aplikasi Museum Tuanku Imam Bonjol | Sumber: Jurnal Perancangan Desain User Interface (UI) Aplikasi Museum Tuanku Imam Bonjol

Langkah Praktis Untuk Desainer

Memahami teori itu memang penting, tapi yang lebih penting adalah bagaimana menerapkannya. Berikut beberapa tips praktis yang bisa langsung kamu coba saat mendesain interface untuk pengguna Indonesia:

  •          Mulailah dengan Riset Sederhana

Jangan langsung terjun ke desain. Luangkan waktu untuk mengamati aplikasi lokal yang sudah sukses, seperti Gojek, Tokopedia, atau DANA. Perhatikan bagaimana mereka memilih warna, menyusun kata, dan menempatkan elemen sosial. Lalu, tanyakan langsung ke teman atau keluarga yang mewakili target pengguna: "Menurut kamu, desain seperti apa yang terasa paling nyaman?

  •         Pilih Warna dengan Makna Ganda

Warna merah boleh jadi menarik, tapi ingat bahwa di Indonesia warna ini punya makna ganda bisa semangat, bisa juga bahaya. Lebih aman gunakan warna-warna natural seperti hijau toska atau cokelat tanah yang umumnya diterima berbagai kalangan. Untuk aplikasi keuangan, hijau dan putih sering dipilih karena memberi kesan aman dan bersih.

  •         Gunakan Bahasa yang Terkesan "Hidup"

Tombol "OK" itu hambar. Coba ganti dengan "Mengerti" atau "Siap". Untuk error message, alih-alih "Terjadi kesalahan", gunakan "Ada yang belum beres nih, coba lagi ya". Kata-kata seperti "Mas" atau "Mbak" dalam notifikasi juga bisa menambah sentuhan personal tanpa terkesan menggurui.

  •         Uji Coba dengan Pengguna Asli

Prototype yang bagus di Figma belum tentu bekerja baik di lapangan. Coba usability testing sederhana dengan 5-10 orang yang mewakili target penggunamu. Amati saat mereka kesulitan menemukan tombol, bingung membaca instruksi, atau salah menafsirkan ikon. Feedback langsung ini jauh lebih berharga daripada asumsi sendiri.

  •         Iterasi Terus Menerus

Sebenarnya, desain yang bagus itu tidak pernah benar-benar “selesai”. Sebagai desainer harus terbuka terhadap kritik, pantau tren desain lokal, dan selalu siap memperbarui interfacemu. Apa yang bekerja hari ini mungkin perlu disesuaikan setahun lagi seiring perubahan kebiasaan pengguna.

 

Kesimpulan

Intinya, merancang interface untuk pengguna aplikasi di Indonesia itu pada dasarnya adalah proses memahami dan menghargai keragaman budaya kita. Dari pembahasan di atas, kita belajar bahwa kesuksesan sebuah antarmuka digital tidak hanya diukur dari segi fungsionalitasnya, tetapi juga dari kemampuannya beresonansi dengan nilai-nilai lokal. Desain yang peka budaya mulai dari pemilihan warna dan ikon yang tepat, penggunaan bahasa yang santun dan familiar, hingga integrasi fitur yang mendukung kebersamaan ternyata secara langsung memengaruhi bagaimana penerimaan dan kepuasan pengguna. Jadi, bagi calon desainer dan developer, memahami budaya lokal bukan hanya sekedar nilai tambah, tapi juga kebutuhan dasar untuk menciptakan sebuah produk digital yang “nyambung” dengan keseharian pengguna aplikasi di Indonesia.

 

 

 

Kenal Lebih Dekat Dengan UMRI

Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau. Untuk informasi lebih lanjut tentang program studi kami,  kunjungi: https://www.umri.ac.id/

 

Referensi

Bonjol, I. (2024). Jurnal Desain Komunikasi Kreatif Perancangan Desain User Interface ( UI ) Aplikasi Museum Tuanku Imam Bonjol. 6(1), 110–115. https://doi.org/10.35134/judikatif.v4i2.1

Hadi, F. H. (2024). PERANCANGAN 3D VIDEO GAME AKSI BERCORAK BUDAYA INDONESIA DENGAN PENDEKATAN UI / UX. 02, 721–730.

Putri, A. W., Acantha, E., Sampetoding, M., & Hasbi, M. (2025). Peran Nilai Budaya Lokal Dalam Memengaruhi Preferensi Desain Ui / Ux Aplikasi Maxride Di Kalangan Mahasiswa Universitas Hasanuddin. 21(1), 202–213.

Tantosa, W., Syamsul, L. A., Akbar, I., & Ramdhani, C. (2025). BULLETIN OF COMPUTER SCIENCE RESEARCH Rancangan UI / UX Aplikasi Pite Tenun Dengan Edukasi Budaya Menggunakan Metode Design Thinking. 5(2), 161–172. https://doi.org/10.47065/bulletincsr.v5i2.482