Desain Efektif Tidak Hanya Visual tetapi Juga Memahami Pengguna

Desain Efektif Tidak Hanya Visual

 tetapi Juga Memahami Pengguna
vixy rahmawati 240401255

 
Universitas Muhammadiyah Riau, Indonesia

Correspondence: E-mail: 240401255@student.umri.ac.id

 

 

HOOK

 

Pernahkah merasa sebuah aplikasi terlihat sangat menarik, tetapi saat digunakan justru membingungkan? Meskipun semuah aplikasi telah memiliki tombol, warnanya rapi, namun pengguna tetap ragu harus melakukan apa. Pengalaman ini sering terjadi pada aplikasi digital modern dan menjadi bukti bahwa desain visual yang bagus belum tentu membuat aplikasi mudah digunakan.

 

Pendahuluan

Dalam kajian Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), desain antarmuka tidak hanya dinilai dari keindahan tampilannya, tetapi dari bagaimana pengguna memahami dan berinteraksi dengan sistem. Banyak yang mengembangkan sebuah aplikasi masih berfokus pada visual, padahal tanpa memahami kebutuhan dan perilaku pengguna, desain justru dapat menimbulkan kebingungan. Instagram dapat menjadi contoh menarik karena Instagram banyak dikenali oleh konsumen, yang mana Instagram  memiliki tampilan visual yang kuat, tetapi terus menghadapi tantangan dalam aspek kemudahan penggunaan seiring bertambahnya fitur dan tempat letak fiturnya yang berubah-ubah(Sidik, n.d.).

Pembahasan

1.      Desain Visual yang Menarik Belum Tentu Efektif

Desain visual memang berperan sebagai daya tarik awal sebuah aplikasi. Warna, ikon, dan tata letak membantu membentuk kesan pertama. Namun dalam IMK, desain yang efektif adalah desain yang memudahkan pengguna mencapai tujuannya tanpa harus berpikir terlalu keras. Penelitian menunjukkan bahwa aplikasi dengan tampilan modern tetap bisa memiliki masalah usability apabila alur penggunaan dan navigasinya tidak sesuai dengan cara berpikir pengguna(Nyoman Tri Novi Suryawati & Nyoman Tri Anindia Putra, 2025).

 

Instagram secara visual terlihat konsisten dan modern. Akan tetapi, penambahan berbagai fitur dan tempat fitur yang berubah-ubah seperti Reels, dan DM membuat struktur menu semakin padat. Hal ini menyebabkan sebagian pengguna membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami fungsi tertentu, terutama bagi pengguna baru.


 

2.      Memahami Pengguna sebagai Inti Desain IMK

IMK menekankan bahwa pengguna harus menjadi pusat dari proses desain. Pendekatan ini dikenal sebagai user-centered design, yaitu desain yang didasarkan pada kebutuhan, tujuan, dan kebiasaan pengguna. Penelitian dengan pendekatan User Centered Design (UCD) menunjukkan bahwa sistem yang dirancang dengan melibatkan pengguna cenderung lebih mudah dipelajari dan memberikan pengalaman yang lebih nyaman(Prinanda & Wahyuni, n.d.).

 

Dalam konteks Instagram, pengguna memiliki latar belakang dan tujuan yang berbeda. Ada pengguna yang hanya ingin melihat konten, ada yang berjualan, dan ada pula yang berperan sebagai kreator. Jika desain tidak mampu menyesuaikan diri dengan variasi kebutuhan ini, maka pengalaman pengguna akan terasa kurang optimal.

 

 

3.      Studi Kasus Instagram: Visual Kuat, Tantangan Penggunaan

Evaluasi usability Instagram menggunakan metode System Usability Scale (SUS) menunjukkan bahwa aplikasi ini berada pada kategori baik, namun belum sepenuhnya optimal(Sidik, n.d.).

Artinya, Instagram cukup nyaman digunakan, tetapi masih memiliki beberapa hambatan dari sudut pandang pengguna.

Beberapa permasalahan yang sering dirasakan pengguna antara lain:

  • Navigasi yang semakin kompleks karena banyak fitur dalam satu tampilan
  • Ikon dan menu yang kurang jelas bagi pengguna baru
  • Perubahan tampilan yang cukup sering sehingga pengguna perlu beradaptasi kembali

Temuan ini memperlihatkan bahwa desain visual yang menarik perlu diimbangi dengan pemahaman mendalam terhadap pengalaman pengguna agar aplikasi tetap mudah digunakan.

Pentingnya Evaluasi Pengalaman Pengguna dalam IMK

IMK mendorong penggunaan evaluasi pengalaman pengguna untuk menilai apakah desain yang dibuat benar-benar membantu pengguna. Metode seperti SUS dan UEQ digunakan untuk mengukur pengalaman pengguna secara langsung berdasarkan persepsi mereka, bukan sekadar asumsi pengembang(Saputra et al., 2021). Melalui evaluasi ini, pengembang dapat mengetahui bagian mana dari desain yang sudah efektif dan bagian mana yang justru menjadi sumber masalah bagi pengguna.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa desain yang efektif dalam kajian Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) tidak cukup hanya mengandalkan tampilan visual yang menarik. Desain harus mampu membantu pengguna memahami sistem, menemukan fitur yang dibutuhkan, serta menyelesaikan tujuannya dengan mudah dan nyaman. Tanpa pemahaman terhadap pengguna, desain yang terlihat modern justru berpotensi menimbulkan kebingungan.

Studi kasus pada aplikasi Instagram menunjukkan bahwa meskipun memiliki kekuatan visual yang baik, penambahan fitur dan perubahan tata letak secara berkala dapat memengaruhi pengalaman pengguna. Hal ini membuktikan bahwa keberhasilan sebuah aplikasi tidak hanya ditentukan oleh estetika, tetapi juga oleh sejauh mana desain tersebut berorientasi pada kebutuhan dan perilaku pengguna.

[BRANDING UMRI]

Sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau, memahami prinsip IMK menjadi langkah penting agar tidak hanya mampu membuat desain yang menarik secara visual, tetapi juga menciptakan aplikasi yang benar-benar bermanfaat dan nyaman digunakan. Dengan menggabungkan visual yang baik dan pemahaman pengguna, produk digital yang dihasilkan akan memiliki nilai guna yang lebih tinggi (www.umri.ac.id).

 

Reverensi

Nyoman Tri Novi Suryawati, D., & Nyoman Tri Anindia Putra, I. (2025). ANALISIS PERBANDINGAN USABILITY APLIKASI INSTAGRAM DAN TIKTOK MENGGUNAKAN SYSTEM USABILITY SCALE (SUS). In Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika) (Vol. 9, Issue 4).

 

Prinanda, Z. A., & Wahyuni, E. G. (n.d.). PERANCANGAN UI/UX CREATORKU DENGAN METODE USER CENTERED DESIGN (UCD).

 

Saputra, N., Wijaya, W., Santika, P. P., Ary, I. B., Iswara, I., Nyoman, I., & Arsana, A. (2021). ANALISIS DAN EVALUASI PENGALAMAN PENGGUNA PaTik BALI DENGAN METODE USER EXPERIENCE QUESTIONNAIRE (UEQ). 8(2), 217–226. https://doi.org/10.25126/jtiik.202182763

 

Sidik, K. (n.d.). Analisis dan Evaluasi Kinerja Sistem Instagram dari Perspektif Pengguna Menggunakan Metode System Usability Scale (SUS) Analysis and Evaluation of Instagram System Performance from the User Perspective Using the System Usability Scale (SUS) Method. Jurnal Teknologi Dan Informasi. https://doi.org/10.34010/jati.vxix.xxxxx