Color Blindness dan Desain: Memastikan Semua Orang Bisa Melihat
Color Blindness dan Desain: Memastikan Semua Orang Bisa Melihat
Rahmat Hidayat
Mahasiswa Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau
Email: 240401151@student.umri.ac.id
Hook
Bayangkan ada sebuah tombol berwarna merah yang menandakan “berbahaya”, tetapi ada sebagian pengguna, tombol merah tadi terlihat hampir sama dengan warna di sekitarnya. Tanpa kita disadari, desain yang kita anggap jelas justru bisa membingungkan bagi orang dengan gangguan buta warna. Inilah tantangan yang sering luput diperhatikan dalam desain, padahal dampaknya sangat besar terhadap pengalaman pengguna..
Pengertian Color Blindness dalam Konteks Desain
Color blindness atau buta warna ini merupakan kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan mengenali warna tertentu. Buta warna terjadi karena sel-sel kerucut yang berespon terhadap warna tidak berespon sebagaimana mestinya. Hal ini dapat diakibatkan oleh karena kelainan genetik maupun didapat. Berdasarkan gejala klinisnya(Desain, n.d.), Akibatnya, beberapa kombinasi warna dapat terlihat serupa oleh pengguna dengan color blindness.
Dalam konteks desain, color blindness menjadi isu penting karena warna sering digunakan sebagai elemen utama untuk menyampaikan informasi. Warna juga dapat berfungsi sebagai penanda status, peringatan, atau pembeda antar elemen dalam sebuah antarmuka. Namun, ketika desain terlalu bergantung pada warna tanpa dukungan elemen visual lain, informasi yang disampaikan berpotensi tidak dapat dipahami oleh pengguna gangguan buta warna.

Ilustrasi perbedaan persepsi warna| Sumber: TFR News
Oleh karena itu, pemahaman mengenai color blindness membantu designer untuk lebih sadar bahwa tidak semua pengguna melihat tampilan dengan cara yang sama. Dengan memperhatikan kondisi ini sejak awal tahap perancangan,
Peran Warna dalam Desain dan Permasalahan yang Muncul
Warna memiliki peran penting dalam desain karena mampu menarik perhatian dan memberikan informasi dengan lebih cepat. Dalam desain antarmuka, warna sering digunakan untuk menunjukkan fungsi tombol, menandai status, membedakan kategori. Pemilihan warna yang tepat dapat membuat tampilan terlihat lebih jelas dan mudah digunakan.
Namun, permasalahan mulai muncul ketika desain terlalu bergantung pada warna sebagai satu-satunya cara untuk menyampaikan informasi. Tidak semua pengguna dapat membedakan warna dengan jelas, terutama pengguna dengan color blindness. Akibatnya, informasi yang awalnya mudah dipahami kini menjadi sulit.
Masalah lain yang sering terjadi adalah penggunaan kombinasi warna dengan kontras rendah. Warna yang terlihat jelas bagi sebagian orang belum tentu mudah dibaca oleh semua pengguna. Hal ini dapat mengurangi kenyamanan pengguna saat berinteraksi dengan desain, terutama dalam jangka waktu yang lama.

Tools desain interface | Sumber binar.co.id
Oleh karena itu, designer perlu memahami bahwa warna bukan sekadar elemen estetika, tetapi juga menjadi salah satu cara komunikasi secaravisual. Dan juga karena warna ini dapat menjadi memperlambat aksebilitas. Dengan mempertimbangkan peran dan keterbatasan warna sejak awal, desain dapat dibuat lebih ramah dan inklusif bagi semua pengguna.(Mirza et al. 2024)
Dalam perkuliahan IMK di Universitas Muhammadiyah Riau, kami mempelajari pentingnya merancang antarmuka yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga dapat diakses oleh semua pengguna, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan dalam membedakan warna.
Prinsip Desain Warna yang Ramah bagi Pengguna Color Blindness
Untuk menciptakan desain yang ramah bagi pengguna dengan color blindness, memilih warna perlu dilakukan secara lebih hati-hati. Prinsip utama yang perlu diperhatikan adalah tidak menjadikan warna sebagai satu-satunya penanda informasi. Warna lebih baiknya digabungkan oleh elemen visual lain supaya pesan itu dipahami oleh semua pengguna(Ridhwan, Pd, and Kom 2024).
Salah satu prinsip lain yang juga tidak kalah penting adalah penggunaan kontras warna yang cukup. Kontras yang baik bisa membantu pengguna membedakan elemen antarmuka dengan lebih jelas, baik bagi pengguna normal maupun pengguna dengan keterbatasan penglihatan warna. Kontras ini tidak hanya berlaku pada teks dan latar belakang, tetapi juga pada ikon, tombol, dan grafik.
Selain itu, penggunaan teks, ikon, atau simbol tambahan sangat diperlukan. Elemen-elemen ini bisa membantu memperjelas makna suatu informasi tanpa bergantung sepenuhnya pada warna(Putu et al. 2024). Dengan adanya penanda tambahan, pengguna tetap dapat memahami fungsi atau status suatu elemen meskipun warna yang digunakan sulit dibedakan.
Prinsip lainnya adalah menghindari kombinasi warna yang sering bermasalah bagi pengguna color blindness, seperti merah dan hijau atau biru dan ungu. Dengan memilih warna yang lebih aman dan konsisten, desain akan terasa lebih nyaman dan inklusif bagi berbagai kondisi pengguna.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, designer dapat membuat desain yang tidak saja menarik secara visual, tetapi juga dapat diakses dan digunakan oleh semua orang tanpa terkecuali.
Contoh Penerapan Desain Ramah Color Blindness pada Aplikasi Digital
Penerapan desain yang ramah bagi pengguna dengan color blindness dapat ditemukan pada beberapa aplikasi digital yang sudah mempertimbangkan aspek aksesibilitas. Aplikasi-aplikasi ini tidak hanya mengandalkan warna untuk menyampaikan informasi, tetapi juga menggunakan elemen visual lain agar pesan tetap jelas.

Google Maps | sumber:Maps
Salah satu contoh dapat dilihat pada aplikasi navigasi seperti Google Maps. Aplikasi ini tidak hanya membedakan rute menggunakan warna, tetapi juga menambahkan garis dengan ketebalan berbeda, ikon arah, serta label teks. Dengan cara ini, pengguna tetap dapat memahami jalur dan petunjuk arah meskipun mengalami kesulitan dalam membedakan warna tertentu.
Contoh lainnya terdapat pada aplikasi formulir atau sistem notifikasi. Beberapa aplikasi tidak hanya menandai kesalahan input dengan warna merah, tetapi juga menambahkan ikon peringatan dan pesan teks yang menjelaskan kesalahan tersebut. Pendekatan ini membantu pengguna memahami informasi tanpa harus bergantung pada warna semata.
Melalui contoh-contoh tersebut, dapat dilihat bahwa desain ramah color blindness bukan berarti menghilangkan warna sepenuhnya, melainkan menggunakannya secara bijak dan didukung oleh elemen visual lain. Dengan penerapan yang tepat, aplikasi digital dapat menjadi lebih inklusif dan memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik bagi semua kalangan.
Kesimpulan: Actionable Insights
Color blindness merupakan kondisi yang perlu diperhatikan dalam proses perancangan desain antarmuka karena memengaruhi cara pengguna memahami informasi visual. Desain yang terlalu bergantung pada warna berpotensi menyulitkan sebagian pengguna dan mengurangi kualitas pengalaman penggunaan.
Sebagai langkah praktis, designer disarankan untuk tidak menjadikan warna sebagai satu-satunya penanda informasi. Penggunaan teks, ikon, simbol, atau perbedaan bentuk dapat membantu memastikan pesan tetap tersampaikan dengan jelas. Selain itu, pemilihan warna dengan kontras yang cukup dan menghindari kombinasi warna yang bermasalah bagi pengguna color blindness dapat meningkatkan keterbacaan dan kenyamanan visual.
Designer juga dapat memanfaatkan tools simulasi color blindness untuk mengevaluasi desain sebelum digunakan oleh pengguna. Dengan melakukan pengecekan sejak tahap perancangan, potensi masalah aksesibilitas dapat diminimalkan lebih awal.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, desain tidak hanya menjadi lebih inklusif bagi pengguna dengan color blindness, tetapi juga memberikan pengalaman yang lebih baik bagi semua pengguna secara keseluruhan.
BRANDING UMRI
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer pada Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI). Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.umri.ac.id.
Referensi
Desain, Desain Interaksi. n.d. “Bab 2 Landasan Teori 2.1.,” 8–20.
Mirza, Mohammad, Aditya Prapanca, Teknik Informatika, Fakultas Teknik, and Universitas Negeri Surabaya. 2024. “Pengembangan Web SSO Unesa Dengan Penambahan Colourblind Mode Menggunakan Algoritma Berbasis Hue and Saturation” 05:456–65.
Putu, Luh, Ary Sri, Gede Rai Sutama, Teknologi Informasi, Universitas Panji Sakti, and Penulis Korespondensi. 2024. “THE EFFECT OF INTERFACE DESIGN ON READABILITY AND ACCESSIBILITY” 3 (1): 5–9.
Ridhwan, Ari Nur, Ellen Proborini M Pd, and Ryan Yunus M Kom. 2024. “APPLICATION OF FARNSWORTH-MUNSELL METHOD IN DESIGNING COLOR BLINDNESS TESTING WEBSITE PENERAPAN METODE FARNSWORTH-MUNSELL DALAM” 5 (2): 1–12.